Scroll
Scroll scroll
Love
Scroll
Home
Spotify
Scroll
Play
Melihat jalanan
Next
Next
Melihat jalanan
Merenung
Melihat sekeliling
Scroll scroll scroll
Scroll haha scroll
Scroll scroll scroll
Pura pura tidur
Scroll scroll menguap
Terkantuk kantuk
Beradu jari di layar
Membaca buku
Buku apa
Mengapa masih membaca buku
Di mana handphonenya
Mengapa begitu hanyut
Kerja dimana
Keren
Next
Aqualung - Brighter than sunshine
Membalik halaman
Tersenyum
Manis sekali
Kepangan rambutnya
Jaket kremnya
Ingin kubawa pulang
Memandangku
Aku terpaku
Aku tersenyum
Kembali pada buku
Membalik halaman
Tidak menggubrisku
Oh.
Next
Scroll
Pause
Pintu terbuka
Berjalan
Next
Tap
Berjalan
Menghela napas
Di Tinder saja, di sini sudah tidak bisa.
Sabtu, 26 Mei 2018
Sabtu, 13 Januari 2018
1993
Hanya dalam satu hari ini
Ijinkan ku tuk mengenangmu
Hujan turun serta merta
Membawa haru akan ingatanku
Kepada dirimu yang tercinta
Baik hati maupun parasnya
Sesungguhnya masih ada
Dalam setiap menutup mata
Ijinkan ku tuk mengenangmu
Hanya dalam satu hari ini
Mengingat senyummu yang tak pernah lepas
Dari hati kami yang masih di bumi
Melindungi
Tidak akan pergi
Kamis, 28 Desember 2017
🌻
![]() |
| The Sunny Tokyo, Dec 2017 |
No one is telling them
To do what for who
But seems like they knew
The sun is the source of energies
and
by the time they grow tall
They need to flirt the bees
No one is telling them
To understand
The beauty of waiting
The art of keep going
as long as
their feet still on the ground
as long as
the sky above
Protects them like a pro bro
Sabtu, 17 Desember 2016
See you at home
![]() |
| Goban The Hugger, 1 yo girl never thought it could hurt this much |
seeing the black blue sky
with your empty eyes
they hear your voice around
but see no paws at all
the cries and scars
and hurts and darkest heart
with a hope and hope and hope
you’ll find..
keep running, chasing
you’ll find
the locked doors and dead lamps
you’ll find home
you’ll find your home
sleepless days and nights
you’ll find home
you'll find heaven
Sabtu, 20 Agustus 2016
midnight thought
the night 2 am is dark
the morning 6 am is cold
the fruits taste sour
the mind feels blunt
feels like a rotten jelly, not a real person
drove and arrived nowhere
but in you
the place that i should not come to
i've decided
tomorrow i'll go to Alaska
hope there's a panda
we will eat the poisonous leaves together
and we'll fly
source of light
i never see you out of my sight
the shine of your eyes were so bright
that makes this be so hard
the mind, the heart, were wont move from the light
but you're on the top of the highest tree
you're so high that makes me sneeze
sneeze so loud till the tears coming
mind talking
i cant stop arguing
this is false, and have a spoon of rightful
you have to admit, that this will be painful
tangled wires, on the top of spiky tree that i need to solve
covered again by your brightest eyes
its hard however i keep doing
or not i wont feel alive
the shine of your eyes were so bright
that makes this be so hard
the mind, the heart, were wont move from the light
but you're on the top of the highest tree
you're so high that makes me sneeze
sneeze so loud till the tears coming
mind talking
i cant stop arguing
this is false, and have a spoon of rightful
you have to admit, that this will be painful
tangled wires, on the top of spiky tree that i need to solve
covered again by your brightest eyes
its hard however i keep doing
or not i wont feel alive
setuju
berdiri di jalan yang sama
membutuhkan 30 jam 21 menit
untuk sampai ke garis akhir.
melangkahkan kaki, berjalan, berlari
meniti rute yang lurus kadang berlubang
sejalan.
seangan.
di ujung jalan,
dua pejuang tersentak dan kebingungan.
dua individu
bukanlah satu.
Sabtu, 31 Januari 2015
hhhhhhh
"hai."
ada yang memberikan tegur di dalam hati yang tertidur. ia membawa sekantung penuh popcorn caramel hangat yang membuatku berkhayal sedang mandi lelehan mentega.
oke, kiasan ini agak keruh dan tak berarah. aku memang sedang gelisah. seperti merasa ada yang salah, namun lebih baik dibiarkan sajalah.
masalahnya pun aku belum tahu, karena mimpi yang hadir naik turun hitam berwarna sedih senang makanan kelaparan lalu terbangun dengan air mata atau sisa-sisa tawa. ada yang berbeda di hari-hari ini. di tengah bosannya putaran jam, ada yang datang sesukanya. segelas air limun dingin mampir sebentar lalu tertawa kencang-kencang dan sekelibat dia pergi membawa kering kerontang imaji.
haduh, tolong. aku mandek. bicara sulit, menulis sulit. yang kiri ternyata kanan. hanya karena sesuatu, yang aku belum tahu.
apakah oknum itu juga sedang ingin tahu...
ada yang memberikan tegur di dalam hati yang tertidur. ia membawa sekantung penuh popcorn caramel hangat yang membuatku berkhayal sedang mandi lelehan mentega.
oke, kiasan ini agak keruh dan tak berarah. aku memang sedang gelisah. seperti merasa ada yang salah, namun lebih baik dibiarkan sajalah.
masalahnya pun aku belum tahu, karena mimpi yang hadir naik turun hitam berwarna sedih senang makanan kelaparan lalu terbangun dengan air mata atau sisa-sisa tawa. ada yang berbeda di hari-hari ini. di tengah bosannya putaran jam, ada yang datang sesukanya. segelas air limun dingin mampir sebentar lalu tertawa kencang-kencang dan sekelibat dia pergi membawa kering kerontang imaji.
haduh, tolong. aku mandek. bicara sulit, menulis sulit. yang kiri ternyata kanan. hanya karena sesuatu, yang aku belum tahu.
apakah oknum itu juga sedang ingin tahu...
Rabu, 22 Oktober 2014
U.
Ada hal yang tak kau ketahui
Namun kerutan mata kita sama
Kita mengerti makna
Di jalanan sore itu
Aku termangu
Ketika senandungmu sewaktu hujan
Seirama dengan langkahku sebulan yang lalu
Kita terpaku
Ketika sesungguhnya dalam satu waktu
Ada satu perseribu sekon detak jantungku dan kamu menderu
Mengingat nama satu sama lain dalam doa yang sendu
Jangan ragu
Jangan salahkan waktu
Jangan lagi berlalu
Duduklah di sampingku
Mungkin Tuhan sudah tahu.
Selasa, 21 Oktober 2014
Pisau.
Pisau ini pernah tumpul
Dipakai begitu keras hingga pundi-pundi terkumpul
Tak pernah menangis, apalagi memukul
Karat yang menghiasi tak malu dia pikul
Pisau ini pernah tumpul
Dan masih tumpul
Aku tersenyum simpul
"Boleh kubawa pulang?"
Kusembunyikan pisau itu di balik dengkul
Mengasahnya perlahan hingga kilatnya muncul
"Mengapa kau sibuk mengasahnya, Dik? Pisau ini?"
"Supaya bisa bersiul", sahutku.
Sahutku pada dunia yang penuh gumul.
Rabu, 01 Oktober 2014
apakah kau punya cinta yang horizontal.
sore itu teduh, seperti tatapanmu.
senandungmu terngiang. membekas di awan.
lalu hujan.
mestakung.
kamu tersenyum.
sepasang burung gagak duduk di atas tiang, melihatmu dari ketinggian.
mereka turun perlahan, ke jalanan.
menatapmu, mencicit pelan, menunggu disayang.
lalu pelangi.
mestakung.
kamu tersenyum.
Sabtu, 21 Juni 2014
Setangkai mimpi yang wangi
My Cherie Amour (cover by me)
Selamat pagi.
Aku dibangunkan aroma senyumanmu yang begitu wangi
Kamu masih tertidur sembari menggenggam pelangi
pelangi sisa pergelutan malam ini
Angin berhembus pelan ke rambutmu yang hitam
Mengingatkanku pada masa-masa yang kelam
Tetap tertawa, meskipun terkadang geram
Kita yang kini saling menggenggam
"Kamu akan tetap di sini, di balik kehangatan ini
Jangan bersedih hati, ataupun menggigit jari
Aku menyayangi kita, itu pasti...."
- Bisikku kepada mimpi.
Selamat pagi.
Aku dibangunkan aroma senyumanmu yang begitu wangi
Kamu masih tertidur sembari menggenggam pelangi
pelangi sisa pergelutan malam ini
Angin berhembus pelan ke rambutmu yang hitam
Mengingatkanku pada masa-masa yang kelam
Tetap tertawa, meskipun terkadang geram
Kita yang kini saling menggenggam
"Kamu akan tetap di sini, di balik kehangatan ini
Jangan bersedih hati, ataupun menggigit jari
Aku menyayangi kita, itu pasti...."
- Bisikku kepada mimpi.
Senin, 03 Februari 2014
pangku.
Mari dengarkan tipis-tipis: Teman Hidup (cover by Senjah)
gerimis tak pernah tipis.
kau pun malu untuk meringis.
jangan takut, jangan menangis.
mari duduk di pangkuanku.
kita bercerita sembari menunggu.
hingga pagi menidurkan langit kelabu.
gerimis tak pernah tipis.
kau pun malu untuk meringis.
jangan takut, jangan menangis.
mari duduk di pangkuanku.
kita bercerita sembari menunggu.
hingga pagi menidurkan langit kelabu.
hujan.
kau melolong.
hari ini tetap hujan. hidungmu basah. kau ingin mengeluh pada matahari, mengapa dia tak kunjung datang. namun suratmu tak pernah dibalasnya, surat yang kau bisikkan pada gorong-gorong dan percikan hujan. dia masih malu. langit masih abu-abu.
alunan musik yang lamban terus berputar di dalam angan. lagu-lagu di tahun sembilan puluhan. lagu yang punya mantra. memaksa. kau harus mendengarkannya.
lalu kau mengingatku.
aku yang berani.
matahari masih menyengat. aku mengenakan sepatu berduri. langkahku mantap dan dagu tegak berdiri. wajahku menyemu merah dengan kulit yang terbakar. aku bahagia. dan menyala.
kau tersenyum mengingat itu. dengan matamu yang sendu.
kau bukanlah aku yang seperti itu. yang berkelana mencari jejak sejarah. mengikat kencang tali sepatu untuk berlari melawan arah. aku dan kau serasa tak sedarah.
kulitku kuning pucat dan tak tega menopang yang berat-berat. hidungku selalu basah dan hanya bisa mendesah, membayangkan kapan matahari pulang dan kau tengah berlari kencang.
masih ada langit yang abu-abu pagi ini.
matahari masih pergi, aku tetap mati.
hari ini tetap hujan. hidungmu basah. kau ingin mengeluh pada matahari, mengapa dia tak kunjung datang. namun suratmu tak pernah dibalasnya, surat yang kau bisikkan pada gorong-gorong dan percikan hujan. dia masih malu. langit masih abu-abu.
alunan musik yang lamban terus berputar di dalam angan. lagu-lagu di tahun sembilan puluhan. lagu yang punya mantra. memaksa. kau harus mendengarkannya.
lalu kau mengingatku.
aku yang berani.
matahari masih menyengat. aku mengenakan sepatu berduri. langkahku mantap dan dagu tegak berdiri. wajahku menyemu merah dengan kulit yang terbakar. aku bahagia. dan menyala.
kau tersenyum mengingat itu. dengan matamu yang sendu.
kau bukanlah aku yang seperti itu. yang berkelana mencari jejak sejarah. mengikat kencang tali sepatu untuk berlari melawan arah. aku dan kau serasa tak sedarah.
kulitku kuning pucat dan tak tega menopang yang berat-berat. hidungku selalu basah dan hanya bisa mendesah, membayangkan kapan matahari pulang dan kau tengah berlari kencang.
masih ada langit yang abu-abu pagi ini.
matahari masih pergi, aku tetap mati.
Kamis, 26 Desember 2013
bola mata
"mama, mengapa bola mataku selalu basah?"
"sudah tiga hari kamu memandangnya sambil tertawa, sayang. kemarikan wajahmu, mama berikan es ya."
"tidak mau."
"kenapa?"
"mau sampai kapan mama menggantungnya di atas sana? tangannya membiru dan semakin lucu!"
"sudah tiga hari kamu memandangnya sambil tertawa, sayang. kemarikan wajahmu, mama berikan es ya."
"tidak mau."
"kenapa?"
"mau sampai kapan mama menggantungnya di atas sana? tangannya membiru dan semakin lucu!"
Selasa, 01 Oktober 2013
SEKANTUNG BAWANG.
Aku berlari senang membawa sekantung bawang yang kupetik tadi siang. Seperti lari tunggang langgang namun ada senyum yang mengembang. Enam bulan lamanya aku harus bersabar membawa penggaris dan berjongkok di tengah-tengah ladang – menunggu si bawang matang. Kini sekantung sudah di tangan dan siap untuk kupamerkan.
Kala itu sudah petang dan teman-teman telah menanti di belakang gudang. Ada sungai yang mengalir di samping jalan setapak – menemani degup jantungku. Alirannya beradu dengan bebatuan sehingga bunyi gemericik terdengar menggelitik. “Ini hari bahagia!” teriakku pada langit yang hampir abu-abu.
Seperti satu menit rasanya ketika sedang bahagia dan akhirnya sampai bertemu mereka – lima orang telanjang yang tengah duduk melingkar dan memandangi batu.
“Lihat ini! Ini kebanggaanku! Aku telah menunggunya selama enam bulan, kau pasti ingin juga!”
Mereka perlahan maju dan menghampiriku. Dua orang bergantian membuka kantung yang kusodorkan di hadapan mereka. Mereka terdiam.
Tiga orang lagi bergantian membuka kantungku. Mereka juga diam.
Aku ingin bertanya.
Mereka berpandang-pandangan sebentar. Sontak pecahlah tawa. Aku pun ikut serta! Mereka pasti ingin sekali menanam bawang dan menantinya matang – sepertiku. Ha ha ha!!
Satu orang berteriak padaku dengan lantang, “Kami tidak tertawa bersamamu, bodoh. Tapi kami menertawaimu!” Lalu membuncah lebih keras lagi suara tawa dan cemooh di tengah-tengah mereka. Kali ini tawa itu membentuk bulatan besar, sebesar sapi milik bibi Young, yang meninjuku dengan kuat.
“Kau pikir sekantung bawangmu ini keren? Kau kira dengan modal penggaris dan bersabar kau akan dinobatkan menjadi Mayor? Mungkin kau perlu tidur siang sambil kembali menyusu pada ibumu!” Sahut salah seorang dari mereka sambil terkekeh-kekeh.
Sekantung bawangku direnggut kemudian dibuang ke sungai. Butiran bawang yang besar-besar dan berkilau itu menyeruak dari kantung, ikut mengalir, dan sesekali terantuk batu – membuatku berpikir keras tentang sekantung bawang yang tidak bisa membeli persahabatan.
Langkahku gontai meninggalkan mereka yang masih telanjang dan kembali duduk melingkar lalu memandangi batu. Air mata tidak dapat kubendung karena kecewa. Pandanganku cair. “Mengapa tidak bisa lebih mudah?” tanyaku dalam hati.
Mengapa manusia selalu meminta untuk diberikan kehidupan yang mudah? Jika tidak kenal susah, bukankah akan cepat mati bosan? Hidupmu berpola dan berulang, seperti robot yang dikendalikan.
Permission declined.
Kamu memiliki hati. Memiliki intuisi.
Gunakanlah untuk bertarung melawan ketidakmudahan ini.
Langkahku terhenti. Ada daun kuning yang terjatuh di depan sepatuku. Bagaimana aku tidak tersenyum?
Mereka tertawa karena kamu memiliki sesuatu.
Kala itu sudah petang dan teman-teman telah menanti di belakang gudang. Ada sungai yang mengalir di samping jalan setapak – menemani degup jantungku. Alirannya beradu dengan bebatuan sehingga bunyi gemericik terdengar menggelitik. “Ini hari bahagia!” teriakku pada langit yang hampir abu-abu.
Seperti satu menit rasanya ketika sedang bahagia dan akhirnya sampai bertemu mereka – lima orang telanjang yang tengah duduk melingkar dan memandangi batu.
“Lihat ini! Ini kebanggaanku! Aku telah menunggunya selama enam bulan, kau pasti ingin juga!”
Mereka perlahan maju dan menghampiriku. Dua orang bergantian membuka kantung yang kusodorkan di hadapan mereka. Mereka terdiam.
Tiga orang lagi bergantian membuka kantungku. Mereka juga diam.
Aku ingin bertanya.
Mereka berpandang-pandangan sebentar. Sontak pecahlah tawa. Aku pun ikut serta! Mereka pasti ingin sekali menanam bawang dan menantinya matang – sepertiku. Ha ha ha!!
Satu orang berteriak padaku dengan lantang, “Kami tidak tertawa bersamamu, bodoh. Tapi kami menertawaimu!” Lalu membuncah lebih keras lagi suara tawa dan cemooh di tengah-tengah mereka. Kali ini tawa itu membentuk bulatan besar, sebesar sapi milik bibi Young, yang meninjuku dengan kuat.
“Kau pikir sekantung bawangmu ini keren? Kau kira dengan modal penggaris dan bersabar kau akan dinobatkan menjadi Mayor? Mungkin kau perlu tidur siang sambil kembali menyusu pada ibumu!” Sahut salah seorang dari mereka sambil terkekeh-kekeh.
Sekantung bawangku direnggut kemudian dibuang ke sungai. Butiran bawang yang besar-besar dan berkilau itu menyeruak dari kantung, ikut mengalir, dan sesekali terantuk batu – membuatku berpikir keras tentang sekantung bawang yang tidak bisa membeli persahabatan.
Langkahku gontai meninggalkan mereka yang masih telanjang dan kembali duduk melingkar lalu memandangi batu. Air mata tidak dapat kubendung karena kecewa. Pandanganku cair. “Mengapa tidak bisa lebih mudah?” tanyaku dalam hati.
Mengapa manusia selalu meminta untuk diberikan kehidupan yang mudah? Jika tidak kenal susah, bukankah akan cepat mati bosan? Hidupmu berpola dan berulang, seperti robot yang dikendalikan.
Permission declined.
Kamu memiliki hati. Memiliki intuisi.
Gunakanlah untuk bertarung melawan ketidakmudahan ini.
Langkahku terhenti. Ada daun kuning yang terjatuh di depan sepatuku. Bagaimana aku tidak tersenyum?
Mereka tertawa karena kamu memiliki sesuatu.
Mereka yang telanjang itu.
Sabtu, 28 September 2013
PESAN KEPADA YANG SAMA.
Pernahkah kau tengah menunggu datangnya kereta dan matamu memandang tajam? Memandang tajam namun tidak tahu, sehingga sekeliling mundur beberapa langkah darimu? Kau seperti ingin menghabisi sesuatu malam itu, sesuatu yang belum habis secara batin, namun dianggap mati dibawa angin.
Mungkin kau tidak sendirian. Mungkin ada beberapa perempuan atau laki-laki yang juga ingin berteriak melalui bola mata mereka. Mungkin sudah terlalu lelah bercerita pada benda-benda fana sehingga baiknya membuat skenario dalam otak saja -- lalu terlihat seperti si gila.
Kamu tidak gila. Dunia yang tidak menerima yang tak sama. Pejamkan matamu sebentar, dia perlu istirahat. Jika kau sempat, kunjungi toko buku dan beli kanvas berbentuk bulat. Taburkan kilauan glitter dan crayon dan cat minyak dan beberapa daun di depan rumah. Cara ini akan membuat mereka yang sedang menggila terasa sedang melakukan hal yang lumrah.
Pesanku, kau masih orang yang sama. Jangan biarkan teriak yang tertahan itu membuatmu tampak seperti orang gila -- lebih baik kau gila dalam karyamu saja.
Mungkin kau tidak sendirian. Mungkin ada beberapa perempuan atau laki-laki yang juga ingin berteriak melalui bola mata mereka. Mungkin sudah terlalu lelah bercerita pada benda-benda fana sehingga baiknya membuat skenario dalam otak saja -- lalu terlihat seperti si gila.
Kamu tidak gila. Dunia yang tidak menerima yang tak sama. Pejamkan matamu sebentar, dia perlu istirahat. Jika kau sempat, kunjungi toko buku dan beli kanvas berbentuk bulat. Taburkan kilauan glitter dan crayon dan cat minyak dan beberapa daun di depan rumah. Cara ini akan membuat mereka yang sedang menggila terasa sedang melakukan hal yang lumrah.
Pesanku, kau masih orang yang sama. Jangan biarkan teriak yang tertahan itu membuatmu tampak seperti orang gila -- lebih baik kau gila dalam karyamu saja.
TUTUP.
Setiap kata punya nyawa.
Entah abu-abu atau merah pekat.
Setiap kata punya sinar.
Entah abu-abu atau merah pekat.
Setiap kata punya nada.
Mereka bernyanyi di otakmu hingga melekat.
Jika dan hanya jika kamu membacanya dalam-dalam.
Di dalam hatimu.
Dengan hatimu.
Namun yang kutahu hati
itu sedang kau gadaikan dengan sebongkah batu.
HARUS MAU.
Kali ini sendirian di jalanan menuju tidak tahu. Hari ini
dingin, namun mataku berkeringat. Napas terasa berat dan pandangan seperti lukisan
Salvador Dali. Sekeliling larut. Larut sampai menurut. Menurut hingga lutut.
Mengapa sendirian rasanya tidak seenak tidur siang?
PEMBURU.
Selalu ada senyum yang menyemburat di antara kedua pipimu.
Tersimpan di sana, aman, dan terkunci rapat. Senyum itu bukan untuk
siapa-siapa; atau mungkin tertuju pada dia, namun kamu tidak pernah
mengutarakannya.
Senyum tidak hanya ada di bibirmu, sorotan matamu yang lugas
namun tak kaku juga mengaku. Seperti kepakkan sayap elang menuju mangsa yang
berteriak di balik semak, matamu bergelora, menimbulkan rasa yang lebih dingin
dari biasanya – menusuk tulang dan menolak untuk pulang.
“Hari ini aku dapat
tiga. Kulubangi semua kepalanya. Sekarang duduklah di sini, aku hendak mengasah
taringku dulu.”
Langganan:
Postingan (Atom)

