Tampilkan postingan dengan label kutipan kesayangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutipan kesayangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2012

Intermezzo IX

"It's okay, Darling. Time changes. People grow.", ungkap suara di sisi otak yang belum sempat kulubangi.

Dia terus bergema dan menambahkan lagi. "All the best can't wait to show!"

Jumat, 10 Agustus 2012

Intermezzo VIII

"titik dua dan kurung belakang
semoga semudah itu aku menghantarkan kalian
ke impian-impian indah berjangka panjang"

:)

Sabtu, 18 Februari 2012

Intermezzo VII

"If i die tonight, I'd go with no regrets,
if it's in your arms, I know that I was blessed.


And if your eyes, are the last thing that i see


then I know,


the beauty heaven holds for me."


Sebuah kutipan lagu yang kubaca di novel remaja saat SMP yang cukup menguras air mata dan air hidung. seperti tertonjok rasanya, aku menangis keras di kamar Ayah kala itu, mengapa kisah ini begitu sedih, setelah seminggu kemudian, aku baru sadar ini hanya kisah rekaan semata. Namun kutipan ini begitu memorabel hingga sekarang -- 8 tahun setelahnya.

Kamis, 12 Januari 2012

intermezzo VI

"Aku gak ingin kita mencapai titik tujuan yang udah aku tahu, karena setelah sampai, semuanya harus selesai. Aku mau kita ke titik imajiner, yang aku dan kamu gak tahu dia ada dimana. Kita cari tahu jalan kesana dengan saling memberi afeksi. Terus berjalan dan terus menyayangi." - Kamu

Rabu, 30 November 2011

intermezzo V

"Berceritalah yang banyak, agar kau menemukan sendiri jawabannya." - muka di depan cermin

Sabtu, 17 September 2011

Intermezzo IV

"Kak, kenapa matamu abu-abu, tapi kau terus tertawa?"

"Tuntutan hidup, Dik. Jika tidak, krayonku patah semua."

Senin, 13 Juni 2011

INTERMEZZO III

"Sayang, kulitmu mengendur, matamu menghitam. Kau lelah? Kemarilah, akan kubuatkan teh hangat dan cupcakes manis."

"Aku seperti mengenalmu. Bukankah kamu yang membunuhku semalam?"

Kamis, 13 Januari 2011

INTERMEZZO II

Mereka di luar sana berteriak, marah, membakar, menghancurkan.
Merah. Hitam. Mendidih.

Menunggu di sini sangat menyenangkan. Menyeruput secangkir kedamaian yang putih. Tidak bernoda. Sejuk dan rindang.

Hanya yang bodoh yang tidak mengenali dirinya sendiri.
~ Anonim

INTERMEZZO

Seorang gadis kecil, berbaju lusuh, dan mata sayu menghampiriku dan bertanya, "Kak, tahu di mana jalan pulang?"

Aku hanya tersenyum tanpa memandang gadis itu, sembari sibuk mendentumkan jariku pada kotak bercahaya ini.

"Kita sudah dirumah, Dik."