Tampilkan postingan dengan label 29 hari menulis surat cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 29 hari menulis surat cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

untuk sesuatu yang bernama ngablu

di tengah malam, sehabis hujan.

teruntuk kamu, sesuatu yang krusial namun belum dipatenkan
terutama dalam menemukan banyak jawaban
kamu yang bernama ngablu

'Senja, ngablu itu apa sih?' tanya Ruth, sahabatku yang tinggal cukup lama di Bandung. Dia mungkin dekat dengan istilah-istilah Jawa Barat. Maneh, lieur, tos, goreng, ulin, mengerti dia dengan pembendaharaan Sunda. Namun kurang familiar dengan kata ini. Dia penasaran karena berulang kali aku menyebutkannya dalam setiap curhatanku. Aku diam sebentar, satu menit. 

'Ehm, Ruth. Sulit dijelaskan. Ngablu itu seperti keadaan sadar namun tak sadar. Kamu berpikir sambil tetap memandang sekeliling. Mungkin sambil menulis atau menghabiskan beberapa Choki-Choki secara betulan namun pikiranmu membuncah pergi ke imajinasimu sendiri. Kamu akan memikirkan sebuah hal, membuat mindmap dalam otakmu, bertanya dalam hati, dan jawaban bisa dapat bisa tidak. Tergantung sehebat apa kamu bisa ngablu.'

Ruth tampak masih kurang puas dengan jawabanku, dia membuka mulut ingin bertanya lagi, namun seperti seolah kekenyangan, ia menguap dan mengiyakan saja. 'Terserahmu lah, Jah. Aku ngikut saja.'





Ngablu seperti hari itu, kamu main ke rumah dan kita hendak menonton film apa saja di bioskop, 2 film kita pantengi kala itu. Setelahnya kita duduk di mobil, parkiran teratas, terdiam dalam lamunan lagu-lagu teduh dan gerimis.




Ngablu bisa kita lakukan sambil diam, mendengarkan lagu, mendengarkan ceritamu, atau saling bercerita tak berbenang merah. Kita berpikir sambil melakukan sesuatu -- atau diam sama sekali. Mencari jawaban yang perlu berimajinasi untuk mendapatkannya. Dan terkadang dia hilang seperti permen kapas.

Lalu kita menidurkan waktu -- atau sebaliknya? Karena saat ngablu tengah berlabuh kita sadar bahwa langit telah berwarna oranye keunguan, matahari bergerak mundur, sehingga kita juga harus pulang. Sebal sekali! Tapi kamu berjanji besok akan ketemu lagi.



Ngablu hari ini adalah dasar dari realitas hari esok - Anonim

Rabu, 08 Februari 2012

untuk Xena yang tak pulang sebulan

kupanggil kau Xena, The Warrior Princess
karena bagiku kau perempuan mandiri yang tangguh dan berotot

sungguh terasa cepat, aku menghentikan perkenalan ini
karena setiap hari kita mengenal satu sama lain
dan berakhir hari ini

kau terdiam, di baskom merah kusam pekarangan
dengan air seperempat dari selang
aku menunggu moncongmu keluar dari cangkang, kemudian sibuk berkeliling

sempat ingin mundur, terlalu sedih untuk mengingatmu, sayang.

kita pernah bergandengan tangan
ketika aku mengisi baskommu hingga meluap
lalu kau berenang sambil menancapkan kuku lentikmu pada jariku
dan kita berputar, melihat sekeliling
bak ibu yang menemani anaknya berenang
aku cinta kamu.

dan ketika kau mulai tidak suka pil hijau
aku memberimu suiran ayam goreng dan roti tawar
kau bosan dengan rutinitasmu dan ingin yang baru
meski akhirnya kau menyerah saat kuberikan pil hijau lagi - demi kesehatanmu

ketika aku sudah punya yang lain
kau nampak terdiam dalam baskom merah usangmu
sesekali aku melihat dan bertanya dengan kejamnya,
"Xena, kamu belum mati, kan?"
sesegera mungkin kau keluarkan moncongmu dari cangkang menuju permukaan
seolah ingin berkata, "Aku masih di sini, Senja".

kau mulai terlihat lebih kendur dari biasanya
baskom merah isi air seperempat mulai berwarna cokelat
aku melupakanmu
lupa melemparkan pil-pil hijau itu
melupakan ketulusanmu menungguku
melupakan momen berpegangan tangan milik kita

bagaimanapun, pergi adalah sebuah keputusan, yang akhirnya kau lakukan.
dari pekaranganku

dari kehidupanku


petualangan yang kau butuhkan, kau rindukan, mungkin ada di luar sana
tanpa kutahu dimana kau berteduh
mencari pengganti pil hijau saat lapar
mendapatkan orang yang ingin menggosok-gosok cangkangmu, sampai kau tertidur

tahukah kamu, Xena?
pil-pil hijaumu masih tersusun rapi dalam botol plastik, di bawah akuarium
baskom merah usang masih ada di pekarangan, tidak dengan air seperempat, namun ia menunggumu
foto-foto terdahulu juga menyesakkanku, mengundangku untuk hadir di perjamuan rasa bersalah dengan kostum jas pink elektrik

aku memikirkanmu seharian, sayang. Merindukanmu.

sempat aku membatin, "Aku rela lihat setan. Tapi kamu yang jadi setannya, Xena. Kau bermain di baskommu sementara aku sudah tahu kamu hantu."

ketika terdiam hanya membuatku ingin menguras air mata, aku berusaha mencari riuh yang semu


ketika kepulanganku menuju pekarangan kini disambut baskom merah usangmu yang sudah kering, seolah ikut mati karena tersiksa menunggumu.


Pulanglah, Xena. Aku mohon. Kapan saja. Setelah kau lelah berpetualang dan ingin kembali pulang. Kembali, Xena. Aku dan baskommu sangat rindu......


"Aku masih di sini, Senja. Dalam anganmu."

Senin, 06 Februari 2012

untuk yang sakit



aku akan memperhatikanmu setiap hari,
menyuapimu bubur kesukaan dan melap dagumu yang belepotan,
mengganti kausmu yang basah karena keringat,
mengusap-ngusap punggungmu dengan bedak bayi;

menghitung bulu matamu selagi kau tertidur,
menggenggam punggung tanganmu kecuali saat kau minta ke kamar mandi,
apa saja, apa saja;

menyanyikanmu twinkle twinkle little star,
sambil mengunyah honey stars sama sama,
menunggu,
berdoa,
apa saja;

namun aku tidak bisa menyembuhkanmu, aku tidak kuliah kedokteran.







ps: sembuh! amin.

Sabtu, 21 Januari 2012

untuk dua malaikatku

Malaikat itu ada yang kelihatan dan tidak kelihatan. Yang selalu terlihat dan ada disampingku, Papa dan Mama.

Tentu saja mereka malaikat! Namun bukan yang bersayap dan pakai jubah putih, tersenyum dengan kilauan sinar yang hangat, tidak. Papa malaikat berkumis dengan rambutnya yang belang-belang hitam putih, yang lebih senang mengendarai sepeda ontel dibandingkan mobilnya, yang selalu bertanya padaku 'Sudah berapa buku yang kamu baca?', dan pernah sakit saat kupaksa makan cokelat, maklum, ia tidak suka makanan manis, dan sangat senang jika aku memberinya kuaci, atau edamame rebus.

Mama malaikat dengan rambut keunguan (baru-baru ini mengecat rambutnya), selalu memburu tas dan sepatu di manapun ia pergi, senang mengaduk bahan makanan di dapur menjadi sesuatu yang luar biasa, tertawa keras-keras jika aku menceritakan lelucon padanya, ya. Mama cekatan, ceria, dan masih seperti anak muda.

Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Papa dan Mama sudah menikah selama 24 tahun. Papa 51 tahun dan Mama 50 tahun. Namun keduanya masih seperti anak muda-yang dimabuk cinta. Jangan tanya pada Mama tentang bagaimana Papa melamarnya! Dua hari dua malam tak akan cukup untuk Mama menceritakan semua hal-hal manis yang terjadi diantaranya dengan Papa saat masa pacarannya. Huh, iri sekali.

Bagiku Papa adalah si Tahu Segalanya. Sejak kecil, jika aku duduk dengan Papa, memandang langit, lalu mengobrol sedikit tentang berita di tv, ataupun hal-hal aneh yang ingin kutanyakan, aku merasa pintar. Sepintar Papa. Ia banyak membaca buku, sementara aku lebih suka menunggunya menceritakan sajak-sajak yang dibacanya didepanku. 
Beberapa, atau mungkin banyak tindakan bodohku yang kutunjukkan didepannya, akan ditanggapinya dengan bijak. Aku ingin punya pacar seperti Papa. Yang punya sifat sederhana namun mampu menjadi pemimpin berwawasan luas.

untuk mereka, tak ada yang bisa membayar semua yang telah dilakukan. tak ada sebatang emaspun. Tuhan terlalu baik memberiku sepasang malaikat terkeren untuk selalu kuajak tertawa dan bercerita bersama. Terima kasih. Tidak, itu tidak pernah cukup. Ajarku berterima kasih, dengan selalu bersikap manis pada kalian, malaikat-malaikatku.

Mungkin kau memang belum pernah melihat malaikat yang bersinar sungguhan. Namun setidaknya, malaikat yang kelihatan, yang bisa kau peluk dan cium, lalu kau mintai uang untuk jajan, Papa dan Mama mu, kan?


<3 <3 <3

Rabu, 18 Januari 2012

untuk macbook pro

baru beberapa bulan kamu menemani jari jariku menari, menulis satu-satu mimpi. kamu kaku dan kotak, dan silver namun ber-glitter. aku bingung kenapa aku harus menulis surat cinta padamu, kenapa ya? mungkin surat cinta ini isinya hanya ungkapan terima kasih yang sulit aku utarakan langsung, meski sekarang aku sedang asyik menari di atas tuts mu.
kamu adalah bagian dari mimpi, mimpi yang selama beberapa minggu aku bawa ke atas tempat tidur untukku nikmati dan ku ajak bicara. ya, aku mengajak bicara brosurmu. 'hai, apakah kelak kau akan menjadi milikku? semoga ayah mau membelikanmu segera, secepat mungkin!'

ah, dan ayah terlalu baik. aku diajak ke mall dan disuruh memilih kamu. aku jadi sedih. padahal laptop ayah sudah usang dan lebih kotak dari kamu -- dan tidak ada file musik di dalamnya, hanya ada microsoft word, outlook, power point, pdf, namanya juga ayah.

sekarang aku berhadapan denganmu, kita selalu bersama. intimasi yang tak kudapatkan dari siapapun. 24 jam sehari bisa saja aku habiskan dengan berbincang-bincang denganmu. atau kamu membantuku berpikir tentang masa depanku, tentang tugas-tugasku, tentang apa yang ingin kutulis disini, tentang lagu-lagu pembuat rindu berlebih, tentang perbincangan dengan seseorang di luar sana, tentang foto-foto memorial yang selalu aku pandangi setiap ingin tidur, namun aku seperti tak mengenalmu. siapa kau? macbook pro? siapa orang tuamu? dimana kampungmu, sayang? hahahaha kita ini gila.

aku rasa aku menyukaimu, kau tidak gampang mengantuk dan mau saja jika kusuruh tidur cepat. kau juga tau aku malas menekan-nekan tutsmu sehingga kau memberikan kemudahan -- geser saja ini maka kau akan mendapatkan ini, keajaiban terjadi. kau keajaiban.


meski aku tahu tulisanku kali ini cukup sampah, tapi kamu masih mau menampilkannya di layar, dan sesekali menyetrumku. haha. aku sayang kamu, macbook pro yang belum dinamai. bingung.

untuk berkemas pergi liburan

senang sekali jika aku mengambil tas besar dari kamar ayah lalu membawanya ke kamarku -- untuk dipandangi beberapa hari, kemudian menjelang saatnya, aku memilah baju untuk dimasukkan ke tas itu. dan sabun kesukaan, dan sikat gigi baru yang pakai helm, jaket supaya tidak dingin -- kata mama, segala charger, kamera, kaus kaki, lalu terduduk sebentar, ambil handphone. kamarku tak lebih indah dari kapal pecah dan aku bertanya pada teman-teman lain, 'kamu pakai tas ransel atau koper? berapa potong baju yang kamu bawa? shampoo kamu apa?' lalu berdiri dan menyusun puing puing di kamarku itu lagi.

aku sangat menyukai proses itu. harapan yang disusun ke dalam sebuah tas besar, 'ah aku mau bawa jaket ini, pasti nanti dingin. kalau pakai ini rasanya dipeluk', atau harapan lainnya.

tapi aku sebal dengan H-1 di malam hari dimana rasanya aku ingin memasukkan rumahku seutuhnya ke dalam tas besar ayah -- agar tak ada yang tertinggal. aku tidak bisa tidur kemudian dihinggapi mimpi semisal ceritanya di pagi hari itu aku berangkat tanpa mengenakan baju sehelaipun, atau pergi tanpa membawa tas selama satu minggu -- ah kesal sekali. tapi biasanya aku bangun dan mandi, lalu bersiap-siap pergi. di perjalanan berlangsung menyenangkan.

meskipun akhirnya pasti ada saja barang yang tertinggal. namanya juga aku.

Selasa, 17 Januari 2012

untuk langit merah di jalan tol



saat sore-sore aku menunggumu hadir memecah kemacetan, dikala langit masih didominasi warna biru muda aku memutar lagu-lagu ngablu dan duduk merosot di bangku depan. lalu sesaat matahari ingin mengucapkan perpisahan dengan memberikan sisa sinarnya yang keoranyean menungguku melambaikan tangan. ini hal yang paling kusukai, melihat matahari sore dibalik sela-sela tanganku. kudapatkan flare nya yang indah seolah ada di dekat jari tengahku. lalu aku tersenyum dan orang bilang aku gila.

tidak lama setelahnya kulihat di jalan tol -- kau mulai seperti anak kecil yang baru mandi dan bertaburan bedak, berwarna merah pastel, dan aku tak mau lepas darimu. bagiku itu adalah masa pendinginan setelah mondar mandir hidup ini memenuhi kepalaku. melihatmu, meski hanya beberapa menit sebelum warna biru tua. meski sebentar, kupandangi lekat-lekat untuk dapat mengingatmu. seperti aku memandang seseorang yang sibuk menyetir selama 15 menit -- agar aku selalu tahu dan tidak pernah lupa, gerak geriknya.

langit merah di jalan tol, sebuah masa singkat yang berikan sunggingan panjang. :)

Minggu, 15 Januari 2012

untuk semester lima

kepada semester lima,

kau menyumbang banyak cerita.
kami pindah ke tempat belajar baru yang jauh lebih terpencil, dan damai. karenanya, aku sering menumpang naik mobil teman. kami bertambah akrab, sepulang belajar, banyak menghabiskan waktu bersama. awalnya aku menangis karena harus naik lift yang hanya satu banding seribu, tidak ada kantin, tidak ada wi-fi, namun ini memberikan kebahagiaan tersendiri. kebahagiaan karena kesederhanaan, karena saling membutuhkan. 

setiap hendak belajar, aku selalu nangkring di depan gang kost atau duduk di pinggiran halte. menghapal plat nomor teman kelas dan menyetopnya dengan gembira -- jika bertemu. jika tidak, aku dibonceng tukang ojek sambil merengut, asikan nebeng tau, pikirku.

semester lima, kau gilaaaaaaa!

aku yang mendoakan liburan dalam mimpi-mimpi burukku
kau cukup menghajar aku dan teman-teman kelas, baik fisik atau otak. kami harus membuka mata sepanjang malam, berpikir keras demi bongkahan ide yang dapat membuat dosen kami tersungging sedikit dan setidaknya mengurungkan niat untuk gelar remedial bersama. berlari-lari karena terlambat mengumpulkan take home test, berdiam lama-lama di perpustakaan sampai diputar lagu aneh -- tertanda harus pulang, berteman baik dengan berjalan kaki, payung, dan hujan. aku sampai lupa apa itu diskon dan jalan-jalan fancy.
aku yakin karena tempaanmu selama beberapa bulan ini -- otak kami tidak akan regresif.

semester lima, kau menjadi saksi datangnya afeksi

aku bingung mulai darimana, sebenarnya afeksi itu telah datang sebelum kau bilang halo. tapi ia tumbuh dan bertambah banyak dan memenuhi otakku dan selalu membuatku rindu! aku menyayangi seseorang yang tengah tersenyum di wallpaper laptopku, dan dia juga sangat menyayangiku. dan sekarang aku merindukannya. uh

di saat terakhir kau harus habis, di tengah lautan tawa dan kami lupa kalau kau sedang memanaskan mobil untuk segera pergi mengunjungi angkatan berikutnya, kami tersadar, kau akan segera tiada.
tak henti-hentinya aku mengucapkan ini, i love you adv 2009. di lift, di kelas, di email, di twitter, di dalam hatiku, agar kalian semua tahu, aku menyukai kalian, aku menyukai momen ini, aku menyukai semester lima, yang keras namun mengandung afeksi tinggi. ah aku ingin menangis lagi.



sampai jumpa semester lima. meski kau tidak akan datang lagi, tapi kau bagian dari proses hidupku. tempaan yang berbuah manis. semester lima, kesayanganku.