Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

apakah kau punya cinta yang horizontal.



langkahmu ringan. daun berjatuhan.
sore itu teduh, seperti tatapanmu.
senandungmu terngiang. membekas di awan.

lalu hujan.


mestakung.


kamu tersenyum.


sepasang burung gagak duduk di atas tiang, melihatmu dari ketinggian.
mereka turun perlahan, ke jalanan.
menatapmu, mencicit pelan, menunggu disayang.


lalu pelangi.


mestakung.


kamu tersenyum.

Senin, 03 Februari 2014

hujan.

kau melolong.

hari ini tetap hujan. hidungmu basah. kau ingin mengeluh pada matahari, mengapa dia tak kunjung datang. namun suratmu tak pernah dibalasnya, surat yang kau bisikkan pada gorong-gorong dan percikan hujan. dia masih malu. langit masih abu-abu.

alunan musik yang lamban terus berputar di dalam angan. lagu-lagu di tahun sembilan puluhan. lagu yang punya mantra. memaksa. kau harus mendengarkannya.

lalu kau mengingatku.
aku yang berani.

matahari masih menyengat. aku mengenakan sepatu berduri. langkahku mantap dan dagu tegak berdiri. wajahku menyemu merah dengan kulit yang terbakar. aku bahagia. dan menyala.

kau tersenyum mengingat itu. dengan matamu yang sendu.

kau bukanlah aku yang seperti itu. yang berkelana mencari jejak sejarah. mengikat kencang tali sepatu untuk berlari melawan arah. aku dan kau serasa tak sedarah.
kulitku kuning pucat dan tak tega menopang yang berat-berat. hidungku selalu basah dan hanya bisa mendesah, membayangkan kapan matahari pulang dan kau tengah berlari kencang.

masih ada langit yang abu-abu pagi ini.

matahari masih pergi, aku tetap mati.

Kamis, 26 Desember 2013

bola mata

"mama, mengapa bola mataku selalu basah?"
"sudah tiga hari kamu memandangnya sambil tertawa, sayang. kemarikan wajahmu, mama berikan es ya."
"tidak mau."
"kenapa?"


"mau sampai kapan mama menggantungnya di atas sana? tangannya membiru dan semakin lucu!"

Sabtu, 28 September 2013

HARUS MAU.


Kali ini sendirian di jalanan menuju tidak tahu. Hari ini dingin, namun mataku berkeringat. Napas terasa berat dan pandangan seperti lukisan Salvador Dali. Sekeliling larut. Larut sampai menurut. Menurut hingga lutut.
Mengapa sendirian rasanya tidak seenak tidur siang?

PEMBURU.


Selalu ada senyum yang menyemburat di antara kedua pipimu. Tersimpan di sana, aman, dan terkunci rapat. Senyum itu bukan untuk siapa-siapa; atau mungkin tertuju pada dia, namun kamu tidak pernah mengutarakannya.

Senyum tidak hanya ada di bibirmu, sorotan matamu yang lugas namun tak kaku juga mengaku. Seperti kepakkan sayap elang menuju mangsa yang berteriak di balik semak, matamu bergelora, menimbulkan rasa yang lebih dingin dari biasanya – menusuk tulang dan menolak untuk pulang.

“Hari ini aku dapat tiga. Kulubangi semua kepalanya. Sekarang duduklah di sini, aku hendak mengasah taringku dulu.”

Rabu, 10 Juli 2013

temporer.

x: loh, sudah berapa tahun aku berdiri?

y: selamat datang. kau kemari dengan pelangi.

x: (mengucek mata) tapi kau tampak berbeda.

y: iya. aku menjadi anemon. aku suka laut. damai sekali.

x: aku tidak begitu bahagia jadi primata. boleh aku jadi anemon juga? kau minum ramuan apa?

y: (tersenyum) minumlah teh hangat ini. kau butuh ketenangan.

x: aku selalu tenang. aku tidak pernah bicara.

y: ini belum saatnya.

x: mengapa menunggu saat yang tepat jika ia tidak pernah ada?

y: primata dijadikan karena sebuah tujuan. tidak serta merta bosan lalu bisa diganti sembarangan.

x: (tertawa) ya, ya, ya. konsep primata yang mencari jati diri. untuk apa, dibawa mati?

y: rasanya kau memang belum mengerti. kemari, aku punya barang bagus.

x: apa itu?

y: gelembung sabun. kau tiup, lalu gelembung akan membelah diri dan berlari-lari.

x: kau ingin aku melepaskan mereka ke udara?

y: hanya sesuai kehendakmu saja. mereka sepertimu. kau mengerti?

x: cairan solid yang dipisahkan untuk kebahagiaan temporer lalu mati kekal? kau bercanda.

y: anemon. jika kau sudah mati karena kebahagiaan temporer, kau akan menjadi anemon.

x: (tersenyum) mengapa kau sebaik ini, teman? aku ingin pulang.

y: baiklah. pintunya di dekat perapian.

x: sampai bertemu lagi.

y: jangan lupa bahagia!


Selasa, 01 Januari 2013

y?





you are my satellite.

Rana membalikkan tangannya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit pagi. ada kelu di hari ini. sebuah kabut hitam di balik mata sendiri, namun bukan di langit ini. dia masih bersinar terang, masih membuat kening basah, dan menemani beberapa burung gereja beterbangan bersama angin.

Rana lupa. hari ini ada yang hilang. dia terduduk di jalanan dan mengeluarkan seluruh isi tasnya. satu persatu dicermati dan benda itu tak ada. di mana? ia berjalan lurus sembari menghapus peluh yang membasahi karena degupan jantungnya tak mau kalah. Rana berlari kencang dan napasnya tersengal-sengal, ada lelehan air mata di sana, ada ringisan panjang yang tak Rana mengerti. Langkahnya selesai dalam sebuah perhentian. perhentian yang selalu ada dan tak pernah ke mana-mana.


Rana membalikkan tangannya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit pagi. ada kelu di hari ini. sebuah kabut hitam di balik mata sendiri, namun bukan di langit ini. dia masih bersinar terang, masih membuat kening basah, dan menemani beberapa burung gereja beterbangan bersama angin.


you are my satellite.


Jumat, 26 Oktober 2012

proses

ada sebuah langkah pertama yang bercampur rasa dingin di muka dan telapak tangan.

langkah itu berhenti pada sebuah kursi yang menunggu terpanggilnya sebuah nama milik sendiri.

nama tersebut akan diperbincangkan kemudian dipersilahkan untuk memperjelas agar tampak jelas, terang, dan meyakinkan.

perbincangan itu membawa langkah-langkah kaki menuju jabat tangan hangat dan undangan masuk.


di depanmu ada sebuah kotak magis yang menemanimu berpikir keras mengumpulkan bohlam lampu yang masih bagus dan menyala terang -- untuk disiarkan di pelosok negara agar kau dan mereka tetap bernyawa.

ada sebuah tamasya dalam pikiran, dalam perkerabatan, dalam tawa, dalam mencicipi berbagai minuman, dalam hasrat untuk terbang ke atas awan, menjadi yang terdepan, menggapai impian....

ada saatnya meninggalkan dan memaafkan.

ada sebuah langkah terakhir yang bercampur rasa hangat di pipi dan mata yang basah.



gong

apa kabar.


pertanyaan itu bernada akhir di ujungnya. ada nada tenang disana, memenuhi telinga hingga ke kepala. suaranya seperti gong. aku digebuk kencang, sehingga tak satu nafas pun dapat kulayangkan untuk membalas pertanyaan itu. tenaga yang tersisa kuhabiskan untuk menutup telepon seraya mengetik pesan singkat dengan telegram.


nisanku berdebu.

Rabu, 22 Agustus 2012

26

saat masih muda, ada masa-masa dimana teman lebih penting. atau pacar adalah segalanya. dunia punya berdua. geng kesayangan itu yang utama. atau tempat nongkrong tak akan pernah ditinggal lama-lama.
pernah ada masa seperti itu. masa-masa keemasan. masa tas memeluk pundak dan naik motor ugal-ugalan. masa ibu memarahi karena pulang pukul dua. masa orang tua terasa ada sebagai sumber minta-minta. masa akulah si pemilik dunia.

lalu pertemanan tidak selamanya bergandengan tangan. tempat nongkrong dipugar. sahabat-sahabat terhebat pergi meninggalkan kota. tidak ingin datang ke perpisahan. hati tidak pernah tenang, mimpi buruk selalu datang. rasanya tak ingin pulang. tak ingin terkenang. suasana hati sungguh fluktuatif. tiba-tiba tertawa keras melihat kipas angin berputar stagnan, menangisi air galon yang sudah habis, dan marah besar saat nugget kesukaan tergoreng gosong. ibu bertanya kenapa dan tak ada yang dapat dijelaskan kecuali berteriak banting pintu.

rasanya diam di rumah itu dungu.

seisi rumah hanya dapat lalu lalang tanpa tahu apa isi otak saat ini.

mereka atribut yang mendatangkan angin ribut.

lalu pergi ke himalaya. ke alaska. ke pesta entah siapa. ke reunian tak dikenal. berenang sampai pagi. menggunting alis di mall. naik kereta ke perhentian akhir. menggerek koper ke tengah kubangan. memanjat pohon kelapa. berdiri di lantai tertinggi gedung parkir. berbicara di cermin tetangga. duduk lama-lama. menonton tiga puluh lima film. mandi tiga kali sehari. menulis blog. setiap detik dihabiskan di luar rumah sampai lelah kemudian pulang hanya untuk merebah.

selalu sadar ternyata butuh ketika si pemuas kebutuhan pergi mencari kebutuhannya sendiri.

sepulang dari himalaya, sekeluarga pergi tamasya. dua pekan. tinggalah diri sendiri seperti sipir yang memenjarakan sebuah rumah beserta satu-satunya isinya. satu hari aman. dua hari agak kelimpungan. tiga hari kehilangan. sisanya seperti tak ada lagi pegangan.

Tuhan itu terlalu baik ketika baru lahir manusia sudah diberi keluarga. coba diberi teman, ketika dia pergi keluar planet, mau jadi apa? untunglah sudah ada yang namanya garis keturunan. ikatan darah. mereka tidak pernah bisa terpisah. meski maut juga tak mau mengalah.

setelah menceritakan panjang lebar ini saya baru sadar. bahwa sebenarnya ketika saya jatuh bukanlah saya yang harus keluar rumah mencari hingar bingar untuk sekadar merenung. tetapi saya perlu satu dua minggu menetap dirumah sambil menanti anggota keluarga pergi tamasya semua. itu adalah saat yang tepat. tepat untuk meminta maaf pada diri sendiri. pada Tuhan. pada keluarga. pada pihak-pihak tak bersalah. saat yang tepat untuk menciptakan rindu. untuk memaknai arti dari pengabdian yang sesungguhnya. kasih agape yang diberikan kedua malaikat bernama orang tua.

hari ini saya kembali bertemu dengan mereka. ada peluk disana. ada kecerobohan. ada tangis namun setelahnya tertawa. ada permintaan maaf. ada kejujuran. kotak krayonku penuh dengannya. banyak sekali warna, dan aku mampu menggambar dunia.

selamat hari ulang tahun pernikahan yang kedua puluh enam, doa saya selalu yang baik-baik. saya terlalu menyayangi anda berdua. anda berdua yang tengah berpelukan dalam lelap di kamar utama. saya mencintai anda-anda.

malaikat numero uno.


Rabu, 01 Agustus 2012

Laki-laki di Alaska (II)

"I wish I knew then what I know now 
Wouldn't dive in wouldn't bow down 
Gravity hurts, you made it so sweet 
Till I woke up on, on the concrete "


B menyibakkan selimut pada pukul tiga. mimpinya buruk sekali. degup jantung itu terasa hingga punggung.

"Ini sudah yang kedua belas kali..... lelah."

B melihat sekeliling dan memanggil ingatan. oh, ini di Alaska. B aman di rumah dua lelaki yang menyambutnya tadi pagi. mereka tidur di sofa dekat perapian, mengalah demi perempuan yang ingin otaknya sedikit dilubangi karena terlalu banyak mimpi. tadi siang B banyak mendengarkan cerita W dan Q tentang apapun. hidup mereka lain sekali -- maka Alaska resmi dijadikan B sebagai tempat observasi.

observasi cara manusia hidup, observasi bentuk afeksi, observasi hubungan horizontal, dan observasi apa saja yang tersisa untuk dicetuskan. 

dalam perbincangan mereka di siang yang menggigili bulu kuduk itu, B menemukan hubungan yang spesial dengan W dan Q. sesekali mereka memiliki senyum yang sama, tatapan yang sama, gelak tawa yang persis sama, hangat, itu inti persamaannya. sepertinya mereka saling menyayangi, namun bukan seperti satu teman ke teman lain, seperti lebih dalam. mereka sedang jatuh cinta.

kemudian teman-teman Alaska berdatangan, mereka banyak memberikan tawa dan pandangan-pandangan baru. bahwa kau tidak selamanya harus makan ikan di laut, sesekali bisa memelihara sendiri dengan penuh cinta, untuk menjadikan makhluk hidup baru yang lebih sehat dan bahagia, rasanya pasti lebih manis dan membuat tertawa. namun mereka tetap melakukan hal yang sama, meninggalkan dan menemukan, meski terlalu cepat. katanya hanya butuh satu minggu untuk membuat semuanya jadi baru, asal jangan pernah memakai benda yang bernama hati. agar tetap tertawa harus bisa melakukan itu, kata mereka.

ada satu lelaki Alaska yang tiba-tiba ingin berbicara empat mata.

"hai, kamu siapa namanya?"
"haloooo. nama aku B. hehehehhe"

lelaki itu meletakkan gelasnya dan meneliti air muka B.

"kamu sedang sedih B. sedari tadi aku duduk di sudut dan melihatmu tertawa --  namun tanpa jiwa. aku tidak yakin sekarang kamu sedang mendengarkan aku atau sibuk menangis di alam bawah sadarmu."

"tidaaak. aku baik. ah, iya memang aku sedang sedih. hiburlah aku. ajak aku berkeliling, aku ingin lihat  bahagia di Alaska."

lelaki yang B lupa namanya itu segera menarik tangannya keluar pintu. mereka berjalan berdua dengan tumpukan salju yang seolah ingin memeluk mereka sepanjang jalan, tak ingin berpisah.

mereka pergi ke tempat pohon cemara berkumpul dan burung-burung bercerita. ada sungai yang tidak pernah membeku, toko cupcake, café yang menjual semangkuk sup tawa, dan sebelum pulang, lelaki itu mengajak B untuk memandang langit, di sebuah bukit yang memiliki banyak gua. malam itu ada banyak bintang dan beberapa diantaranya seperti glitter yang membentang.

sebelum pulang, lelaki itu mencium kedua pipi B dengan hangat. B tersenyum. dia memang baru mengenal lelaki itu beberapa jam, namun sudah membuat B senang. memang terkadang tidak perlu terlalu dekat untuk menjadi sahabat.

B pulang dari ingatannya dan membatin di balik selimut. 


"terima kasih Alaska, mungkin aku akan menetap di sini empat atau lima, atau selamanya."

Sleep tight.

Senin, 23 Juli 2012

Laki-laki di Alaska (I)

"I'm an alien.. I'm a legal alien. I'm an Englishman in New York...."



masinis menghentikan tujuan akhir perjalanan kali itu. Alaska. sebuah tujuan yang sengaja dituju B yang terpaksa menyetujuinya. sore itu dingin dan sedikit rintik-rintik. B menggerek koper dan berjalan perlahan.

dimana-mana dedaunan putih karena salju, matahari Alaska mungkin sibuk tertidur dalam kelambu.

"hujan dan salju, ah, sangat tepat. semoga memori juga turut beku dan menjadi stalakmit disini, tertinggal, dan meninggal."

B mengetuk pintu sebuah rumah yang menyala-nyala dari balik jendela. memang telah tersiar kabar dibalik dinginnya Alaska terdapat penduduk yang hangat dan riang disana.


"ini siapa ya?" seorang lelaki bertubuh tegap dengan rambut klimis membuka pintu, lalu bertanya kepada lelaki lain di sebelahnya.

"aku tidak tahu, halo. kamu siapa?" jawab lelaki itu

"hai. namaku B. aku baru pertama kali ke Alaska, dan aku kedinginan." gemeretuk gigi B mulai terdengar dan mengganggu suaranya.

"ya ampun, ayo sini masuk B. kebetulan kami baru saja memasak sup krim jamur, semoga menghangatkan!"


B menemukan tempat persinggahan yang begitu menyenangkan. ada dua lelaki yang tinggal disana, mereka adalah W dan Q.

W dan Q pintar memasak. mereka bercerita tentang resep masakan apa saja yang sudah berhasil dibuat dan dibagikan ke penduduk Alaska. muka mereka sangat cerah dan berseri. tampak sekali mereka mandi lebih dari dua kali sehari.

"disini memang dingin, B. tetapi harus sering mandi. jika tidak, wajahmu akan berminyak dan sulit dapat teman." ungkap Q.

B menyeruput sup krim jamurnya dalam-dalam, dan memandang sekeliling. rumah ini hangat meski tak ada sentuhan perempuan, alat-alat masak tersusun dan dicuci bersih, pajangan dan bingkai foto yang tak berdebu, dan ada aroma lavender menggerayangi rumah ini.


"sehabis kamu makan dan menghangatkan diri, aku ingin kamu bertemu teman-teman kami, B. mereka baik dan hangat. kamu pasti akan betah disini." ujar W dengan penuh senyum.


ada yang aneh disini. disini memang nyaman dan tenang. tetapi, apa yang salah dengan mereka? mereka laki-laki dan..... mengapa mereka begitu menyayangi?

Minggu, 08 Juli 2012

kepada B


pagi itu aku tidak melihat ada secangkir kopi. atau suara tukang roti yang bersemangat naik sepeda. hanya aku dan kamarku yang dingin. tidak ada namamu di missed call, ataupun mention di Twitter. butuh 20 menit untuk akhirnya sadar betul bahwa ini sudah seminggu. aku tidak tahu kemana kamu pergi. B, aku sudah melakukan semuanya. aku selalu menanyakan kabarmu, walaupun ya, aku sibuk. tapi hidung dan bola matamu selalu mampir ke ingatanku, setiap aku harus menyelesaikan setumpuk pitching.... aku merindukanmu, B. tapi aku tidak mau bilang. 

aku masih ingin terlihat keren. ah, shit. kamu hilang karena ini.

pasti kamu sedang menangis. mendengarkan lagu-lagu yang membuat bola matamu sebesar bola tenis. kamu dimana sih? 

semalam aku mabuk, B. dan duduk di atap rumah sampai pukul tiga. namun ini tak membuat pikiranku jelas. sangat keruh, dan acak-acakan. apa yang sesungguhnya sedang kamu lakukan? apa yang kamu pikirkan? 

cepatlah pulang, B. berhenti menghukumku….

J



J atau Alaska


"mengapa begini….."

B bertanya dalam hati. di tengah ruang makan. menunggu J yang berjanji datang sebelum pukul dua belas. semua lagu sudah diputar, film kesukaan telah habis ditonton, di sofa yang bisu namun berbahan spons, menanti J dengan sebuah janji. iya janji, ingin sekali memaki si janji, karena tak pernah ditepati.

anggur ini hampir habis, seteguk lagi lalu B berjanji akan mengunci pintunya, dan memilih tidur sendiri. tangan kirinya menggengam sebuah tiket menuju Alaska. sebagai jawaban atas pertanyaannya, dalam beberapa minggu ini.

B berjalan menuju kloset. beberapa mantel bulu dan sepatu boots telah dilipatnya dalam koper. 
yang akan memeluknya dalam perjalanan menuju jawaban. sebagai benda mati yang mampu menghangatkan.

telepon berbunyi,

"Halo B sayang, aku gak bisa ke tempatmu sekarang, klien tiba-tiba minta ketemu di bar X. Besok aku pasti kesana. 
I love you."

air mata B perlahan menetes, yang telah diurungkan selama seminggu, kini turun tanpa malu.

"see you, sayang."




Kamu hanya tidak tahu...


bahwa bintang itu biru
bahwa dedaunan merah jambu
bahwa kereta ini menuju Alaska
bahwa aku tertawa melihat kau menerka-nerka

bahwa merelakan adalah hal paling mudah sedunia
bahwa menangis adalah hal paling membahagiakan selautan
bahwa suara yang tertahan tidak membuatku mati kehabisan napas
bahwa aku telah bahagia bersama bayangan di belakang pintu
bahwa aku sedang sibuk berbohong padamu



Kamu hanya tidak tahu itu.

Selasa, 08 Mei 2012

J dan B dan udara abu-abu

namanya J. dia tidak terlalu suka makan. katanya lebih baik tidak makan nasi daripada tidak boleh menghabiskan udara abu-abu sebungkus setiap hari. bisa stress, begitulah.

ada perempuan yang selalu menemani J kemana-mana, naik turun tangga, memegang bajunya erat-erat, seolah selalu lekat. perempuan itu bernama B, rambutnya terurai panjang terkadang sengaja dibuat lurus agar terlihat tirus.

'kamu mau makan apa sayang?' ujar J pada B, sambil membuka kotak merah dan meraba-raba kantong kecil di jeansnya.

'nanti saja.' B membalas setengah mengerutkan alis.

ini bukan soal tidak sayang! dan tidak mengerti! tapi aku seperti bunuh diri! berlama-lama dengan kamu dengan hidung terpatri pada racun yang sibuk menari-nari, di udara!


B tercekat sendiri karena pikiran yang diteriakkannya dalam hati. mana berani dia, pacarnya bisa balik memarahi, atau sekadar membalikkan meja lalu pergi, meninggalkan B sendiri. lebih baik B duduk terpaku dan sedikit-sedikit mencuri udara segar yang tak tahu ada dimana lagi.

'rambut aku bau asep, sayang'

'mana sini, engga ah masih harum'

J tidak mengerti poin B, dan B memilih untuk diam. sementara J menghisap lalu mengumpulkan tenaga dan menghembuskan udara abu-abunya. ada rasa tenang di sana. kebebasan.

'kamu gak mau berhenti?'

'belum bisa, sayang.'

'kenapa?'

'yah, masih pengen aja.'

'emang rasanya gimana?'

'bebas, sayang. bebas.'

'kalau bebas, kenapa harus jadi kewajiban? bukannya kebebasan yang wajib itu no longer bebas ya, sayang?'

J memandang lurus B. dan sedikit terkekeh. kemudian kembali menghisap dalam-dalam udara abu-abunya.

'udah ah jangan ngomongin ini lagi, aku bakal berhenti. tapi nanti. pasti sayang, pasti.'

'aku suka janji itu. tapi lebih suka lagi kalau setelah itu kamu segera melakukan sesuatu.'

J mengusap-usap rambut B yang kembali meringkel. nampaknya lembaran rambut itu turut jengkel akan kompromi tadi yang tak memberi solusi. kemudian dua mangkuk bakso datang. J menginjak udara abu-abunya dan mengajak B berdoa bersama.



'I love you, sayang.'



Sabtu, 21 April 2012

Batu karang

Dentum sunyi yang tak mampu dibendung memecah guratan alis menukik ke atas. Kumpulan awan gelap menutup wajahmu yang seraya pergi sebelum dendang pada langit dihabiskan.

Mereka percaya bahwa rumah yang kokoh harus dibangun di atas batu karang, bukan pasir pantai. Namun bait-bait klise itu hanya dapat berteman dengan buku lama yang tersimpan di api kemarahan.

Aku yang tengah marah. Aku yang tengah tak peduli akan petuah. Aku yang kini menghirup dalam-dalam sisa awan gelap yang kau hembuskan sebelum pergi, memilih untuk mengumpulkan batu karang - yang seingatku ada dalam petuah lama - untuk kulemparkan padamu jika kau benar-benar datang lagi.

Aku tidak berjanji. Aku menanti.

Selasa, 27 Maret 2012

permen karet

'ini permen yang sangat enak, Nak. Bentuknya bulat-bulat, warna warni, saat kau memakannya, permen ini akan ikut memberontak di dalam mulutmu. Rasanya manis sekali, kau akan memamerkan gelembung yang bisa dibuat dengan permen ini -- pada teman-temanmu. Ayo cepat ambil.'



nenek Rumpelstilzkin menyodorkan mangkuk di tangannya dan menyuruh Scott mengambil salah satu isinya. Scott belum pernah melihat permen lain selain gula merah yang dicairkan. matanya terlihat berbinar-binar memandang pemberian nenek berhidung mancung bintik-bintik itu. ia tidak ragu, siapa anak-anak yang pernah ragu terhadap permen? kalau kamu ragu, berarti kamu sudah dewasa.

Scott berlari pulang karena hari mulai gelap dan jangkrik bernyanyi kencang menandakan hutan sudah dialihkuasakan. penduduk desa mengatakan jika hari sudah gelap seringkali muncul serigala pemangsa anak kecil, yang bersarang di dekat tempat tinggal nenek Rumpelstilzkin. entahlah, mungkin nenek Rumpelstilzkin yang empunya serigala-serigala itu sehingga tak mungkin ia ikut dimangsa, lagipula ia sudah tua.

sampai dirumah, ibu Scott sedang mengaduk sup asparagus dan ayah Scott membetulkan loteng yang atapnya dimakan rayap. Scott berlari ke kamarnya dan menjaga agar permen karet ini tidak diketahui ayah ibunya. Scott pernah tersedak permen karena begitu senang saat memakannya -- ya, makan sambil tertawa. sehingga ibunya tidak pernah lagi mengijinkan Scott makan permen gula merah. hanya boleh makan sup atau jagung rebus.

perlahan Scott memasukkan permen karet ke dalam mulutnya. sambil terduduk melipat kaki, ia mengunyahnya perlahan. 'Manis sekali......' bisik Scott.

ia mengunyahnya selama beberapa hari. ketika sarapan hingga makan malam, ia menyembunyikan permen karet itu di balik giginya. setelahnya, ia kembali mengunyahnya sampai tertidur.

beberapa minggu setelahnya, Scott bosan karena giginya harus terus melawan permen karet yang menggeliat apalagi, sudah tidak manis lagi. Scott melipat mukanya sambil terus mengunyah.

'awalnya kelihatannya begitu asik, ah tapi aku lelah mengunyah.'

Scott pergi ke tepi danau di dalam hutan dan akhirnya membuang permen karetnya. di balik pohon maple,  nenek Rumpelstilzkin tertawa cekikikan. 'tak akan kuberi lagi sampai kau rela jadi santapan serigala-serigala manisku, Scott...'

Selasa, 13 Maret 2012

lamunan seorang J

'................'

kali ini tak sedikitpun kata yang kudengar dari bibirnya. ia memutuskan untuk mengatup dan melipat tangan sepanjang hari itu. meski terdiam, dia sibuk batuk-batuk. aku menawarkan sapu tanganku yang berwarna biru tua dengan sulaman huruf J diujungnya -- namun ia memalingkan muka.

ia selalu bilang dirinya bukanlah tipe vokal. ia memilih meredam emosi lewat wajahnya, seperti menangis ketika sedih, menggemeretukkan gigi ketika marah, bahkan tertawa sampai hampir muntah ia lakukan jika leluconku cukup lucu. ia begitu diam, katanya karena ia terlalu nyaman berada di dekatku sehingga tidak ingin mengucapkan sepatah katapun. namun ini cukup menyiksa, karena aku serasa belum sepenuhnya mengenal sosok manusia yang selalu kugandeng tangannya, selama dua bulan terakhir ini.

lalu kenapa aku memilihnya? insting.

aku percaya dia adalah tulang rusukku yang hilang. tidak usah ditanya lagi. ini harga mati. dia jodohku. aku mungkin konservatif karena menganggap sekali berpacaran untuk selamanya, namun aku bersyukur karenanya. memilihnya, bukan, maksudku menemukannya diantara ratusan ribu manusia yang pernah kutemui, seperti menemukan diriku yang seutuhnya. tubuh dan pikiranku menjadi satu. mengatakan satu. menyuarakan satu. cinta.

aku tersenyum memandang jaring-jaring yang menyelimuti gawang futsal di depanku. lamunanku terpecah karena mendengarnya terbatuk-batuk lagi di sebelah kiriku. ia mengambil tasnya untuk dipeluk erat-erat seolah ingin memohon pada tas itu, untuk mengakhiri batuk yang tak kunjung reda.

'mengapa kau tak memohon padaku? aku kan kuliah kedokteran..' pikirku. tapi mungkin memang saat ini harus seperti ini. merenung sebentar. jika sudah lelah, barulah saling bermaaf-maafan dan kembali pulang ke kasih sayang.

hari ini begitu kosong. belum ada tawanya yang terekam di mataku. aku menunggu. mungkin karena hal itu, ya karena itu. aku melihat kedua tangannya, dan tersenyum getir.

sebuah hari tanpa cat kuku.

Rabu, 08 Februari 2012

untuk Xena yang tak pulang sebulan

kupanggil kau Xena, The Warrior Princess
karena bagiku kau perempuan mandiri yang tangguh dan berotot

sungguh terasa cepat, aku menghentikan perkenalan ini
karena setiap hari kita mengenal satu sama lain
dan berakhir hari ini

kau terdiam, di baskom merah kusam pekarangan
dengan air seperempat dari selang
aku menunggu moncongmu keluar dari cangkang, kemudian sibuk berkeliling

sempat ingin mundur, terlalu sedih untuk mengingatmu, sayang.

kita pernah bergandengan tangan
ketika aku mengisi baskommu hingga meluap
lalu kau berenang sambil menancapkan kuku lentikmu pada jariku
dan kita berputar, melihat sekeliling
bak ibu yang menemani anaknya berenang
aku cinta kamu.

dan ketika kau mulai tidak suka pil hijau
aku memberimu suiran ayam goreng dan roti tawar
kau bosan dengan rutinitasmu dan ingin yang baru
meski akhirnya kau menyerah saat kuberikan pil hijau lagi - demi kesehatanmu

ketika aku sudah punya yang lain
kau nampak terdiam dalam baskom merah usangmu
sesekali aku melihat dan bertanya dengan kejamnya,
"Xena, kamu belum mati, kan?"
sesegera mungkin kau keluarkan moncongmu dari cangkang menuju permukaan
seolah ingin berkata, "Aku masih di sini, Senja".

kau mulai terlihat lebih kendur dari biasanya
baskom merah isi air seperempat mulai berwarna cokelat
aku melupakanmu
lupa melemparkan pil-pil hijau itu
melupakan ketulusanmu menungguku
melupakan momen berpegangan tangan milik kita

bagaimanapun, pergi adalah sebuah keputusan, yang akhirnya kau lakukan.
dari pekaranganku

dari kehidupanku


petualangan yang kau butuhkan, kau rindukan, mungkin ada di luar sana
tanpa kutahu dimana kau berteduh
mencari pengganti pil hijau saat lapar
mendapatkan orang yang ingin menggosok-gosok cangkangmu, sampai kau tertidur

tahukah kamu, Xena?
pil-pil hijaumu masih tersusun rapi dalam botol plastik, di bawah akuarium
baskom merah usang masih ada di pekarangan, tidak dengan air seperempat, namun ia menunggumu
foto-foto terdahulu juga menyesakkanku, mengundangku untuk hadir di perjamuan rasa bersalah dengan kostum jas pink elektrik

aku memikirkanmu seharian, sayang. Merindukanmu.

sempat aku membatin, "Aku rela lihat setan. Tapi kamu yang jadi setannya, Xena. Kau bermain di baskommu sementara aku sudah tahu kamu hantu."

ketika terdiam hanya membuatku ingin menguras air mata, aku berusaha mencari riuh yang semu


ketika kepulanganku menuju pekarangan kini disambut baskom merah usangmu yang sudah kering, seolah ikut mati karena tersiksa menunggumu.


Pulanglah, Xena. Aku mohon. Kapan saja. Setelah kau lelah berpetualang dan ingin kembali pulang. Kembali, Xena. Aku dan baskommu sangat rindu......


"Aku masih di sini, Senja. Dalam anganmu."

Minggu, 14 Agustus 2011

Nala

Nala, lahir Oktober 2008
sudah lengkap suntik vaksin
tapi masih seperti bayi
senang menggigit, buang air sembarang
menangis kalau ditinggal
ileran, moody, berisik
bulunya rontok
tapi sampai saat ini masih lucu
dan aku sayang Nala
seperti rubah

pura-pura

pose
mau ikut abang

sama Natmel, menguap
*ketjup