Sabtu, 31 Januari 2015

hhhhhhh

"hai."

ada yang memberikan tegur di dalam hati yang tertidur. ia membawa sekantung penuh popcorn caramel hangat yang membuatku berkhayal sedang mandi lelehan mentega.

oke, kiasan ini agak keruh dan tak berarah. aku memang sedang gelisah. seperti merasa ada yang salah, namun lebih baik dibiarkan sajalah.

masalahnya pun aku belum tahu, karena mimpi yang hadir naik turun hitam berwarna sedih senang makanan kelaparan lalu terbangun dengan air mata atau sisa-sisa tawa. ada yang berbeda di hari-hari ini. di tengah bosannya putaran jam, ada yang datang sesukanya. segelas air limun dingin mampir sebentar lalu tertawa kencang-kencang dan sekelibat dia pergi membawa kering kerontang imaji.

haduh, tolong. aku mandek. bicara sulit, menulis sulit. yang kiri ternyata kanan. hanya karena sesuatu, yang aku belum tahu.



apakah oknum itu juga sedang ingin tahu...


Rabu, 22 Oktober 2014

U.

Ada hal yang tak kau ketahui
Namun kerutan mata kita sama
Kita mengerti makna

Di jalanan sore itu
Aku termangu

Ketika senandungmu sewaktu hujan
Seirama dengan langkahku sebulan yang lalu
Kita terpaku

Ketika sesungguhnya dalam satu waktu
Ada satu perseribu sekon detak jantungku dan kamu menderu
Mengingat nama satu sama lain dalam doa yang sendu

Jangan ragu
Jangan salahkan waktu
Jangan lagi berlalu

Duduklah di sampingku
Mungkin Tuhan sudah tahu.

Selasa, 21 Oktober 2014

Pisau.

Pisau ini pernah tumpul
Dipakai begitu keras hingga pundi-pundi terkumpul
Tak pernah menangis, apalagi memukul
Karat yang menghiasi tak malu dia pikul

Pisau ini pernah tumpul
Dan masih tumpul

Aku tersenyum simpul
"Boleh kubawa pulang?"
Kusembunyikan pisau itu di balik dengkul
Mengasahnya perlahan hingga kilatnya muncul

"Mengapa kau sibuk mengasahnya, Dik? Pisau ini?"

"Supaya bisa bersiul", sahutku.
Sahutku pada dunia yang penuh gumul.

Rabu, 01 Oktober 2014

apakah kau punya cinta yang horizontal.



langkahmu ringan. daun berjatuhan.
sore itu teduh, seperti tatapanmu.
senandungmu terngiang. membekas di awan.

lalu hujan.


mestakung.


kamu tersenyum.


sepasang burung gagak duduk di atas tiang, melihatmu dari ketinggian.
mereka turun perlahan, ke jalanan.
menatapmu, mencicit pelan, menunggu disayang.


lalu pelangi.


mestakung.


kamu tersenyum.

Sabtu, 21 Juni 2014

Setangkai mimpi yang wangi

My Cherie Amour (cover by me)

Selamat pagi.
Aku dibangunkan aroma senyumanmu yang begitu wangi
Kamu masih tertidur sembari menggenggam pelangi
pelangi sisa pergelutan malam ini

Angin berhembus pelan ke rambutmu yang hitam
Mengingatkanku pada masa-masa yang kelam
Tetap tertawa, meskipun terkadang geram
Kita yang kini saling menggenggam

"Kamu akan tetap di sini, di balik kehangatan ini
Jangan bersedih hati, ataupun menggigit jari
Aku menyayangi kita, itu pasti...."
- Bisikku kepada mimpi.





Senin, 03 Februari 2014

pangku.

Mari dengarkan tipis-tipis: Teman Hidup (cover by Senjah)


gerimis tak pernah tipis.
kau pun malu untuk meringis.
jangan takut, jangan menangis.
mari duduk di pangkuanku.
kita bercerita sembari menunggu.
hingga pagi menidurkan langit kelabu.

hujan.

kau melolong.

hari ini tetap hujan. hidungmu basah. kau ingin mengeluh pada matahari, mengapa dia tak kunjung datang. namun suratmu tak pernah dibalasnya, surat yang kau bisikkan pada gorong-gorong dan percikan hujan. dia masih malu. langit masih abu-abu.

alunan musik yang lamban terus berputar di dalam angan. lagu-lagu di tahun sembilan puluhan. lagu yang punya mantra. memaksa. kau harus mendengarkannya.

lalu kau mengingatku.
aku yang berani.

matahari masih menyengat. aku mengenakan sepatu berduri. langkahku mantap dan dagu tegak berdiri. wajahku menyemu merah dengan kulit yang terbakar. aku bahagia. dan menyala.

kau tersenyum mengingat itu. dengan matamu yang sendu.

kau bukanlah aku yang seperti itu. yang berkelana mencari jejak sejarah. mengikat kencang tali sepatu untuk berlari melawan arah. aku dan kau serasa tak sedarah.
kulitku kuning pucat dan tak tega menopang yang berat-berat. hidungku selalu basah dan hanya bisa mendesah, membayangkan kapan matahari pulang dan kau tengah berlari kencang.

masih ada langit yang abu-abu pagi ini.

matahari masih pergi, aku tetap mati.

Kamis, 26 Desember 2013

bola mata

"mama, mengapa bola mataku selalu basah?"
"sudah tiga hari kamu memandangnya sambil tertawa, sayang. kemarikan wajahmu, mama berikan es ya."
"tidak mau."
"kenapa?"


"mau sampai kapan mama menggantungnya di atas sana? tangannya membiru dan semakin lucu!"

Selasa, 01 Oktober 2013

SEKANTUNG BAWANG.

Aku berlari senang membawa sekantung bawang yang kupetik tadi siang. Seperti lari tunggang langgang namun ada senyum yang mengembang. Enam bulan lamanya aku harus bersabar membawa penggaris dan berjongkok di tengah-tengah ladang – menunggu si bawang matang. Kini sekantung sudah di tangan dan siap untuk kupamerkan.
Kala itu sudah petang dan teman-teman telah menanti di belakang gudang. Ada sungai yang mengalir di samping jalan setapak – menemani degup jantungku. Alirannya beradu dengan bebatuan sehingga bunyi gemericik terdengar menggelitik. “Ini hari bahagia!” teriakku pada langit yang hampir abu-abu.
Seperti satu menit rasanya ketika sedang bahagia dan akhirnya sampai bertemu mereka – lima orang telanjang yang tengah duduk melingkar dan memandangi batu.
“Lihat ini! Ini kebanggaanku! Aku telah menunggunya selama enam bulan, kau pasti ingin juga!”
Mereka perlahan maju dan menghampiriku. Dua orang bergantian membuka kantung yang kusodorkan di hadapan mereka. Mereka terdiam.
Tiga orang lagi bergantian membuka kantungku. Mereka juga diam.

Aku ingin bertanya.

Mereka berpandang-pandangan sebentar. Sontak pecahlah tawa. Aku pun ikut serta! Mereka pasti ingin sekali menanam bawang dan menantinya matang – sepertiku. Ha ha ha!!

Satu orang berteriak padaku dengan lantang, “Kami tidak tertawa bersamamu, bodoh. Tapi kami menertawaimu!” Lalu membuncah lebih keras lagi suara tawa dan cemooh di tengah-tengah mereka. Kali ini tawa itu membentuk bulatan besar, sebesar sapi milik bibi Young, yang meninjuku dengan kuat.

“Kau pikir sekantung bawangmu ini keren? Kau kira dengan modal penggaris dan bersabar kau akan dinobatkan menjadi Mayor? Mungkin kau perlu tidur siang sambil kembali menyusu pada ibumu!” Sahut salah seorang dari mereka sambil terkekeh-kekeh.

Sekantung bawangku direnggut kemudian dibuang ke sungai. Butiran bawang yang besar-besar dan berkilau itu menyeruak dari kantung, ikut mengalir, dan sesekali terantuk batu – membuatku berpikir keras tentang sekantung bawang yang tidak bisa membeli persahabatan.

Langkahku gontai meninggalkan mereka yang masih telanjang dan kembali duduk melingkar lalu memandangi batu. Air mata tidak dapat kubendung karena kecewa. Pandanganku cair. “Mengapa tidak bisa lebih mudah?” tanyaku dalam hati.

Mengapa manusia selalu meminta untuk diberikan kehidupan yang mudah? Jika tidak kenal susah, bukankah akan cepat mati bosan? Hidupmu berpola dan berulang, seperti robot yang dikendalikan.
Permission declined.
Kamu memiliki hati. Memiliki intuisi.
Gunakanlah untuk bertarung melawan ketidakmudahan ini.

Langkahku terhenti. Ada daun kuning yang terjatuh di depan sepatuku. Bagaimana aku tidak tersenyum?

Mereka tertawa karena kamu memiliki sesuatu.
Mereka yang telanjang itu.

Sabtu, 28 September 2013

PESAN KEPADA YANG SAMA.

Pernahkah kau tengah menunggu datangnya kereta dan matamu memandang tajam? Memandang tajam namun tidak tahu, sehingga sekeliling mundur beberapa langkah darimu? Kau seperti ingin menghabisi sesuatu malam itu, sesuatu yang belum habis secara batin, namun dianggap mati dibawa angin.

Mungkin kau tidak sendirian. Mungkin ada beberapa perempuan atau laki-laki yang juga ingin berteriak melalui bola mata mereka. Mungkin sudah terlalu lelah bercerita pada benda-benda fana sehingga baiknya membuat skenario dalam otak saja -- lalu terlihat seperti si gila.

Kamu tidak gila. Dunia yang tidak menerima yang tak sama. Pejamkan matamu sebentar, dia perlu istirahat. Jika kau sempat, kunjungi toko buku dan beli kanvas berbentuk bulat. Taburkan kilauan glitter dan crayon dan cat minyak dan beberapa daun di depan rumah. Cara ini akan membuat mereka yang sedang menggila terasa sedang melakukan hal yang lumrah.

Pesanku, kau masih orang yang sama. Jangan biarkan teriak yang tertahan itu membuatmu tampak seperti orang gila -- lebih baik kau gila dalam karyamu saja.

TUTUP.


Setiap kata punya nyawa.
Entah abu-abu atau merah pekat.
Setiap kata punya sinar.
Entah abu-abu atau merah pekat.
Setiap kata punya nada.
Mereka bernyanyi di otakmu hingga melekat.
Jika dan hanya jika kamu membacanya dalam-dalam.
Di dalam hatimu.
Dengan hatimu.
Namun yang kutahu hati itu sedang kau gadaikan dengan sebongkah batu.

HARUS MAU.


Kali ini sendirian di jalanan menuju tidak tahu. Hari ini dingin, namun mataku berkeringat. Napas terasa berat dan pandangan seperti lukisan Salvador Dali. Sekeliling larut. Larut sampai menurut. Menurut hingga lutut.
Mengapa sendirian rasanya tidak seenak tidur siang?

PEMBURU.


Selalu ada senyum yang menyemburat di antara kedua pipimu. Tersimpan di sana, aman, dan terkunci rapat. Senyum itu bukan untuk siapa-siapa; atau mungkin tertuju pada dia, namun kamu tidak pernah mengutarakannya.

Senyum tidak hanya ada di bibirmu, sorotan matamu yang lugas namun tak kaku juga mengaku. Seperti kepakkan sayap elang menuju mangsa yang berteriak di balik semak, matamu bergelora, menimbulkan rasa yang lebih dingin dari biasanya – menusuk tulang dan menolak untuk pulang.

“Hari ini aku dapat tiga. Kulubangi semua kepalanya. Sekarang duduklah di sini, aku hendak mengasah taringku dulu.”

Rabu, 10 Juli 2013

temporer.

x: loh, sudah berapa tahun aku berdiri?

y: selamat datang. kau kemari dengan pelangi.

x: (mengucek mata) tapi kau tampak berbeda.

y: iya. aku menjadi anemon. aku suka laut. damai sekali.

x: aku tidak begitu bahagia jadi primata. boleh aku jadi anemon juga? kau minum ramuan apa?

y: (tersenyum) minumlah teh hangat ini. kau butuh ketenangan.

x: aku selalu tenang. aku tidak pernah bicara.

y: ini belum saatnya.

x: mengapa menunggu saat yang tepat jika ia tidak pernah ada?

y: primata dijadikan karena sebuah tujuan. tidak serta merta bosan lalu bisa diganti sembarangan.

x: (tertawa) ya, ya, ya. konsep primata yang mencari jati diri. untuk apa, dibawa mati?

y: rasanya kau memang belum mengerti. kemari, aku punya barang bagus.

x: apa itu?

y: gelembung sabun. kau tiup, lalu gelembung akan membelah diri dan berlari-lari.

x: kau ingin aku melepaskan mereka ke udara?

y: hanya sesuai kehendakmu saja. mereka sepertimu. kau mengerti?

x: cairan solid yang dipisahkan untuk kebahagiaan temporer lalu mati kekal? kau bercanda.

y: anemon. jika kau sudah mati karena kebahagiaan temporer, kau akan menjadi anemon.

x: (tersenyum) mengapa kau sebaik ini, teman? aku ingin pulang.

y: baiklah. pintunya di dekat perapian.

x: sampai bertemu lagi.

y: jangan lupa bahagia!


Selasa, 01 Januari 2013

y?





you are my satellite.

Rana membalikkan tangannya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit pagi. ada kelu di hari ini. sebuah kabut hitam di balik mata sendiri, namun bukan di langit ini. dia masih bersinar terang, masih membuat kening basah, dan menemani beberapa burung gereja beterbangan bersama angin.

Rana lupa. hari ini ada yang hilang. dia terduduk di jalanan dan mengeluarkan seluruh isi tasnya. satu persatu dicermati dan benda itu tak ada. di mana? ia berjalan lurus sembari menghapus peluh yang membasahi karena degupan jantungnya tak mau kalah. Rana berlari kencang dan napasnya tersengal-sengal, ada lelehan air mata di sana, ada ringisan panjang yang tak Rana mengerti. Langkahnya selesai dalam sebuah perhentian. perhentian yang selalu ada dan tak pernah ke mana-mana.


Rana membalikkan tangannya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit pagi. ada kelu di hari ini. sebuah kabut hitam di balik mata sendiri, namun bukan di langit ini. dia masih bersinar terang, masih membuat kening basah, dan menemani beberapa burung gereja beterbangan bersama angin.


you are my satellite.


Kamis, 01 November 2012

clue

when i think about the life's that ruin out because of some facts that unhide so i can see clearly but i prefer to not to, i probably get all of shuffling things done. such as laugh at cooking pan, open then close then open the refrigerator again, say hello to the bathroom, immediately run and hide when stranger rings the doorbell, talk to some kind of mom's lotion, or about anything. I've tried to make anything done....wrong.
then these few days I've met some of clues that lead me to the conclusion. yes. i realize that life is a circle. yeah cliche you guys think but yeah why life is a circle? it giving me some clues that i connected with her, she connected to that man, that man connected to it, and i do like it, so..............
i know you don't understand. but i did. i'll try harder to find another clue then talk back to you.

thank you.


Jumat, 26 Oktober 2012

proses

ada sebuah langkah pertama yang bercampur rasa dingin di muka dan telapak tangan.

langkah itu berhenti pada sebuah kursi yang menunggu terpanggilnya sebuah nama milik sendiri.

nama tersebut akan diperbincangkan kemudian dipersilahkan untuk memperjelas agar tampak jelas, terang, dan meyakinkan.

perbincangan itu membawa langkah-langkah kaki menuju jabat tangan hangat dan undangan masuk.


di depanmu ada sebuah kotak magis yang menemanimu berpikir keras mengumpulkan bohlam lampu yang masih bagus dan menyala terang -- untuk disiarkan di pelosok negara agar kau dan mereka tetap bernyawa.

ada sebuah tamasya dalam pikiran, dalam perkerabatan, dalam tawa, dalam mencicipi berbagai minuman, dalam hasrat untuk terbang ke atas awan, menjadi yang terdepan, menggapai impian....

ada saatnya meninggalkan dan memaafkan.

ada sebuah langkah terakhir yang bercampur rasa hangat di pipi dan mata yang basah.



gong

apa kabar.


pertanyaan itu bernada akhir di ujungnya. ada nada tenang disana, memenuhi telinga hingga ke kepala. suaranya seperti gong. aku digebuk kencang, sehingga tak satu nafas pun dapat kulayangkan untuk membalas pertanyaan itu. tenaga yang tersisa kuhabiskan untuk menutup telepon seraya mengetik pesan singkat dengan telegram.


nisanku berdebu.

Selasa, 18 September 2012

anggapan, kenyataan, dan harapan.

hari ini ada duka. mata yang sembab tak urung membangunkan yang telah hilang. beberapa gambar kukumpulkan, mencoba mengingat apa yang pernah terjadi, dan benarkah yang sedang terjadi sekarang. hari ini aku bertanya, apakah kenyataan sepenuhnya adalah yang benar-benar sedang kupandang?

hari ini langit abu-abu, atau memang selalu begitu, hanya kita yang tak pernah tahu? atau tak berusaha cari tahu. mungkin sedang ada pelangi bermain di ujung awan, hanya kita malas memandang ke atas dan sibuk terpuruk sambil memelas.

hari ini secangkir teh itu terasa begitu manis, apakah memang takarannya begitu atau lidahku yang sedang kelu? mungkin ibu sedang melihatku lesu lalu ia menambahkan beberapa sendok gula lagi ke cangkirku. atau mungkin semalam tersengat listrik, sesederhana itu.

hari ini kita tidak tertawa. dan tidak ingin berusaha. ada yang dulu pernah mengajak kita melakukannya. kini telah pergi berkelana, sibuk berlari di surga, mengakhiri pertandingannya. mungkin dia tahu kita berduka. mungkin dia sedang mencari pengganti untuk kembali ke dunia.

harapan itu masih ada.

Selasa, 11 September 2012

lega

ada kelegaan hari ini. dari sebuah senyuman dan pelukan. peluk yang memaafkan. yang menganggap semua adalah pelajaran agar naik kelas dan tetap coba menjadi yang teratas. semuanya datang dari mimpi yang hanya bisa dirasakan hati dan memori. ketika kelegaan itu membuat segalanya terasa bahagia kembali, meskipun itu adalah sebuah elegi.