Rabu, 30 November 2011
intermezzo V
"Berceritalah yang banyak, agar kau menemukan sendiri jawabannya." - muka di depan cermin
baik saja
ada misteri di balik dinding yang terus menerus basah -- cat mengelusnya setiap hari namun selalu muncul rembesan yang menjengkelkan. misteri yang kupandangi setiap mendengar lagu sedih. mengapa langit bisa berwarna abu-abu seturut perasaanku? aku berlari tak tahu kemana sambil menutup mata. baju hitamku terkoyak oleh sesuatu yang tajam, mungkin kaca atau kata-katamu. aku bernyanyi seadanya sambil memayungkan mata yang setengah basah. dimana? tidak tahu. yang penting tidak ada kamu.
mengapa setiap menulis aku tidak tahu apa yang ingin kutulis kemudian setelah menekan spasi aku berbalik lagi ke kata sebelumnya, 'kau mau bicara apa sih, bodoh..' umpatku sendiri.
sebuah mimpi yang indah terjadi ketika langit tungsten dan aku memeluk Ayah dari belakang, yang tengah membaca buku Pramoedya Ananta Toer di joglo rumah kayu dan sayup sayup angsa bernyanyi. mimpi yang sempurna ketika kami bersama-sama makan mangga, Ayah mengupasnya untukku, dan kami membicarakan masa depan -- aku pura-pura pintar dan menanyakan apa saja padanya, dan ia menjawab dengan improvisasinya. Ayah, yang dulu ingin sekali kuliah filsafat, ingin aku masuk filsafat, dan sekarang ingin pensiun sambil melanjutkan kuliah menjadi filsuf. diamnya memberikan pengetahuan. senyumnya memancarkan jiwa raganya yang ia berikan hanya untuk keluargaku. hanya untuk aku. tidak pernah mengeluh -- cuma sesekali meminta digaruk punggungnya.
ketika suatu hari aku terjatuh lemah dan mengaku pada Ayah, ia mengangkatku tinggi-tinggi dan mengajakku untuk menangis bersama. Ayah yang diam dan menyukai kayu, berjanji bahwa semuanya akan baik saja. Dan kita bisa duduk bersama lagi, kali ini aku yang diminta mengupas mangga. Uluran tangannya kubalas dengan isak tangis tak berdaya, isak tangis bersyukur. Sungguh seorang Ayah yang begitu manis dan penuh perhatian, hanya ingin hidup untuk menghidupi anak-anaknya, untuk melihat kami bahagia, untuk menghalau ketakutan yang tidak ingin kulihat............ untuk menjadi Ayahku yang hebat.
dinding ini semakin merembes begitu kuat, Ayah. aku sedang menunggu datangnya hari Jumat dan semuanya akan baik saja. kali ini aku berjanji untuk diriku sendiri, untuk kita.
mengapa setiap menulis aku tidak tahu apa yang ingin kutulis kemudian setelah menekan spasi aku berbalik lagi ke kata sebelumnya, 'kau mau bicara apa sih, bodoh..' umpatku sendiri.
sebuah mimpi yang indah terjadi ketika langit tungsten dan aku memeluk Ayah dari belakang, yang tengah membaca buku Pramoedya Ananta Toer di joglo rumah kayu dan sayup sayup angsa bernyanyi. mimpi yang sempurna ketika kami bersama-sama makan mangga, Ayah mengupasnya untukku, dan kami membicarakan masa depan -- aku pura-pura pintar dan menanyakan apa saja padanya, dan ia menjawab dengan improvisasinya. Ayah, yang dulu ingin sekali kuliah filsafat, ingin aku masuk filsafat, dan sekarang ingin pensiun sambil melanjutkan kuliah menjadi filsuf. diamnya memberikan pengetahuan. senyumnya memancarkan jiwa raganya yang ia berikan hanya untuk keluargaku. hanya untuk aku. tidak pernah mengeluh -- cuma sesekali meminta digaruk punggungnya.
ketika suatu hari aku terjatuh lemah dan mengaku pada Ayah, ia mengangkatku tinggi-tinggi dan mengajakku untuk menangis bersama. Ayah yang diam dan menyukai kayu, berjanji bahwa semuanya akan baik saja. Dan kita bisa duduk bersama lagi, kali ini aku yang diminta mengupas mangga. Uluran tangannya kubalas dengan isak tangis tak berdaya, isak tangis bersyukur. Sungguh seorang Ayah yang begitu manis dan penuh perhatian, hanya ingin hidup untuk menghidupi anak-anaknya, untuk melihat kami bahagia, untuk menghalau ketakutan yang tidak ingin kulihat............ untuk menjadi Ayahku yang hebat.
dinding ini semakin merembes begitu kuat, Ayah. aku sedang menunggu datangnya hari Jumat dan semuanya akan baik saja. kali ini aku berjanji untuk diriku sendiri, untuk kita.
Kamis, 24 November 2011
langit-langit susu
aku sedang bersembunyi di dasar cangkir, menunggu langit-langit susu muncul. ketika kerutan semakin tebal aku berenang ke permukaan dan melahap lelangitan tanpa ragu. terlalu banyak dan terlalu membuai -- aku mabuk. pipiku menggembung dan perut mengendur. aku tak bisa keluar cangkir! tidak boleh menangis, nanti makin sulit bernapas. :(
"yamng ebgnak sbelablu mbudahb mbembubat mbatib..." - teriakku dalam susu
aku diam melihat langit-langit yang terbentuk lagi -- dan kali ini lebih tebal. aku melipat kaki susah payah dan menutup mata, setidaknya sampai leherku sebesar tusuk gigi kayu.
"yamng ebgnak sbelablu mbudahb mbembubat mbatib..." - teriakku dalam susu
aku diam melihat langit-langit yang terbentuk lagi -- dan kali ini lebih tebal. aku melipat kaki susah payah dan menutup mata, setidaknya sampai leherku sebesar tusuk gigi kayu.
Minggu, 20 November 2011
Life Recorder
Hari Sabtu kemarin, aku dan team yang menamai kelompok kami 'Adsmith' (pengrajin iklan -- seperti Blacksmith dan Wordsmith) menampilkan video ini di depan Dosen kami untuk tugas Ujian Tengah Semester. Video iklan layanan masyarakat ini berjudul Life Recorder. Sila ditonton.
http://www.youtube.com/watch?NR=1&v=uJ3QIY_ZZ9U
Mungkin sekarang masih ada, masih berteriak karena kau belum mandi, atau tidak mau mencopot celana jinsmu. Tapi sadarlah, waktumu dengannya tidak lama. Pasti ada saat itu. Manfaatkanlah waktu bersamanya, sebaik mungkin. :)
Minggu, 16 Oktober 2011
fermentasi
ketika akhirnya kau bercerita tentang apa yang kau simpan, sebuah fermentasi untuk sebuah waktu dapat dinikmati, kau telah menghilangkannya dengan sengaja. anggur terbaik itu, kandungan alkoholnya perlahan hilang, aromanya tersebar di seluruh kota. semua orang tahu, dia tak lebih baik dari air cucian piring. lalu mereka tertawa, meremehkan rahasiamu.
mereka sudah tahu apa yang kau simpan, yang kau diam-diam perhatikan di dalam kamarmu, selama bertahun-tahun, sambil pura-pura menjadi orang biasa. mereka sudah sangat tahu, dan kau kalah.
aku tidak mau. ini belum terjadi.
ketika lebih baik aku menjaga fermentasi itu sendirian, biar aku yang merasakan sendiri prosesnya, diam selama bertahun-tahun dan mencoba tetap tenang, meski berakhir dengan warna merah tua, namun jika sudah siap, aku mampu membuat kau mabuk, lalu kau tidak akan bisa pulang, karena kau terhipnotis, untuk selalu menyodorkan gelas kaca ini padaku. aku tidak menyuruhmu menunggu, pulanglah saja dan kembali bermain. suatu saat aku akan tersenyum bengis sambil membawa sebuah fermentasi mematikan, dan aku akan tertawa melihat kau terbaring manja, di balik penjara kesadaranmu. Haha.
mereka sudah tahu apa yang kau simpan, yang kau diam-diam perhatikan di dalam kamarmu, selama bertahun-tahun, sambil pura-pura menjadi orang biasa. mereka sudah sangat tahu, dan kau kalah.
aku tidak mau. ini belum terjadi.
ketika lebih baik aku menjaga fermentasi itu sendirian, biar aku yang merasakan sendiri prosesnya, diam selama bertahun-tahun dan mencoba tetap tenang, meski berakhir dengan warna merah tua, namun jika sudah siap, aku mampu membuat kau mabuk, lalu kau tidak akan bisa pulang, karena kau terhipnotis, untuk selalu menyodorkan gelas kaca ini padaku. aku tidak menyuruhmu menunggu, pulanglah saja dan kembali bermain. suatu saat aku akan tersenyum bengis sambil membawa sebuah fermentasi mematikan, dan aku akan tertawa melihat kau terbaring manja, di balik penjara kesadaranmu. Haha.
Sabtu, 08 Oktober 2011
batuk
ada yang patah
senyummu
matamu layu dan suaramu sengau. kau memegang perut dan sibuk terbatuk. baju tebal lengan panjang yang kau kenakan siang itu, tak sanggup mendiamkan raungan dibalik leher.
'kenapa kau melihatku seperti itu?' katamu sambil menggaruk-garuk leher.
aku kira masa sulit itu hanya sehari, namun seminggu ini kau bertambah pucat. langkahmu setengah terseret dan terus-menerus pegang jidat, lalu cemberut. di tengah keramaian kau menahan batuk sambil menangis. kau tidak manja, tidak sama sekali. kau ingin teman-temanmu tetap tertawa. kau memilih untuk menangis, menahan batuk. aku gemas.
beberapa kali kulihat kau ke kamar mandi, entah mencuci tangan atau sibuk menangis di sana. sayang kita tidak bisa masuk ke kamar mandi yang sama, kecuali jika rambutku terurai panjang dan pakai sepatu bakiak oranye. aku ingin tahu, kenapa saat kembali ke kelas matamu setengah basah dan hidungmu merah? kau sakit?
ya, kau sakit. dan kau diam saja. kau menggeleng ketika kutawari es limun, kau pasti sedang sakit! es limun kan enak sekali, aku tahu kau suka. sudahlah, jangan berbohong!
tapi jika itu pilihanmu-atau mungkin kau malu, ya sudah, aku akan tetap memperhatikan di belakang kursimu, menghitung berapa kali kau ijin ke kamar mandi, melihat gerak-gerikmu saat kau terbatuk, dan terus menerus membawa es limun-untuk kita seruput bersama.
jika besok aku menyodorkan es limun padamu dan kau mau minum, artinya kau sudah sembuh. cepat sembuh, dong.
senyummu
matamu layu dan suaramu sengau. kau memegang perut dan sibuk terbatuk. baju tebal lengan panjang yang kau kenakan siang itu, tak sanggup mendiamkan raungan dibalik leher.
'kenapa kau melihatku seperti itu?' katamu sambil menggaruk-garuk leher.
aku kira masa sulit itu hanya sehari, namun seminggu ini kau bertambah pucat. langkahmu setengah terseret dan terus-menerus pegang jidat, lalu cemberut. di tengah keramaian kau menahan batuk sambil menangis. kau tidak manja, tidak sama sekali. kau ingin teman-temanmu tetap tertawa. kau memilih untuk menangis, menahan batuk. aku gemas.
beberapa kali kulihat kau ke kamar mandi, entah mencuci tangan atau sibuk menangis di sana. sayang kita tidak bisa masuk ke kamar mandi yang sama, kecuali jika rambutku terurai panjang dan pakai sepatu bakiak oranye. aku ingin tahu, kenapa saat kembali ke kelas matamu setengah basah dan hidungmu merah? kau sakit?
ya, kau sakit. dan kau diam saja. kau menggeleng ketika kutawari es limun, kau pasti sedang sakit! es limun kan enak sekali, aku tahu kau suka. sudahlah, jangan berbohong!
tapi jika itu pilihanmu-atau mungkin kau malu, ya sudah, aku akan tetap memperhatikan di belakang kursimu, menghitung berapa kali kau ijin ke kamar mandi, melihat gerak-gerikmu saat kau terbatuk, dan terus menerus membawa es limun-untuk kita seruput bersama.
jika besok aku menyodorkan es limun padamu dan kau mau minum, artinya kau sudah sembuh. cepat sembuh, dong.
Jumat, 23 September 2011
gambar
selamat tinggal gambar yang tak berdetak
tersenyum statis, tak mau bicara
tempatmu memang di dalam pigura
yang dipajang di dinding, lalu dibicarakan tamu-tamu yang kehabisan cerita.
dadah.
sungguh, dadah.
tersenyum statis, tak mau bicara
tempatmu memang di dalam pigura
yang dipajang di dinding, lalu dibicarakan tamu-tamu yang kehabisan cerita.
dadah.
sungguh, dadah.
Rabu, 21 September 2011
lompat tali
jangan paksa aku melompat. aku sulit bernapas, sibuk menghindari tali yang kau putar. tolong berhenti. aku hanya ingin tidur siang, dan lupa kalau kau adalah teman, yang senang membuatku keringatan.
Sabtu, 17 September 2011
terimakasih
atas senyuman yang tersungging setelah aku marah
tangan mengulur saat terpuruk malu
pelukan hangat kala badai menusuk tulang hampir mati
yang terlalu baik ini membuatku bingung
kenapa mau?
tapi terimakasih banyak
mari bergandengan dan saling bantu berdiri jika terjatuh
sampai tua sampai gigimu ompong semua
tangan mengulur saat terpuruk malu
pelukan hangat kala badai menusuk tulang hampir mati
yang terlalu baik ini membuatku bingung
kenapa mau?
tapi terimakasih banyak
mari bergandengan dan saling bantu berdiri jika terjatuh
sampai tua sampai gigimu ompong semua
Intermezzo IV
"Kak, kenapa matamu abu-abu, tapi kau terus tertawa?"
"Tuntutan hidup, Dik. Jika tidak, krayonku patah semua."
"Tuntutan hidup, Dik. Jika tidak, krayonku patah semua."
Minggu, 11 September 2011
aku, ayah, ibu, dan waktu
jika manusia dalam suatu rentang waktu dibatasi | aku hanya ingin hidup di masa ini | bersama orang tuaku yang manis dan hangat | saling berpelukan dalam selimut coklat tua | pintaku | jangan sekarang dulu | panggil aku terlebih dulu | inginku | dari mata terbuka hingga tutup usia | masih bersama ayah dan ibu | kesayangan | berpelukan selama Tuhan mengijinkan | berikan waktu yang banyak | ya Tuhan?
untuk langit
langit kesayangan,
jangan hujan dulu
gaun merahku sedang dijemur
untuk dikenakan saat menikah nanti
banyak yang akan datang
mengangkat gelas dengan riang
menari dalam tawa yang memabukkan
saatnya akan datang
bersabarlah jangan hujan
aku tidak mau pasanganku pergi
karena gaunku luntur tak merah lagi
tolong langit
mereka harus datang
berdiri dan tepuk tangan
menyambut kebahagiaan
saat rangkaian bunga kulemparkan
jangan sampai hujan datang..
jangan hujan dulu
gaun merahku sedang dijemur
untuk dikenakan saat menikah nanti
banyak yang akan datang
mengangkat gelas dengan riang
menari dalam tawa yang memabukkan
saatnya akan datang
bersabarlah jangan hujan
aku tidak mau pasanganku pergi
karena gaunku luntur tak merah lagi
tolong langit
mereka harus datang
berdiri dan tepuk tangan
menyambut kebahagiaan
saat rangkaian bunga kulemparkan
jangan sampai hujan datang..
Sabtu, 10 September 2011
pagi, hujan, dan spons
aku berteduh di balik hujan, pepohonan yang ramah menyuruhku menunggu lelehan air dari langit berhenti memukau semesta. hari itu aku hanya memakai celana pendek dan kaus tipis, lupa pakai alas kaki. aku senang sendiri menunggu di tempat seperti ini, setidaknya aku bisa berpikir sebentar-tentang apa saja. tentang masa depan nanti, tentang yang pernah dilewati, tentang apa yang muncul di mimpi, tentang arti menunggu, atau tentang patah hati. tanganku membelai putri malu yang tumbuh di balik batu, mereka menunduk dengan kemayu.
perutku bergetar, oh aku lapar. pagi tadi saat bangun aku langsung berlari kesini, aku ingin mengejar matahari pagi yang mungkin bisa kudapatkan baik-baik di sini. tadi ibu berteriak agar aku melahap roti panggang isi saus jeruk dulu, tapi aku hanya tertawa dan melanjutkan irama kakiku. yah, maaf ibu sekarang aku kelaparan dan langit masih menangis. mungkin jika menutup mata akan melupakan semuanya. gelap, dan biarkan alam yang berbicara.
tiba-tiba kudengar hal yang tak biasa. derap langkah yang besar dan mengguncang. aku pikir ini gempa, namun saat aku membuka mata, tampak pria bertubuh raksasa dari kejauhan. aku mundur, mendekap pohon, itu siapa?
di balik hujan ia terus berjalan. dia membawa sesuatu, sebuah mangkuk coklat yang ditutupi daun maple besar. dia berjalan ke arahku setengah berlari. aku mulai pasrah dan mata tak mau terkatup, menunggu hal besar akan mengubah hidupku. dia sudah tepat di depanku.
matanya berkaca-kaca dan pipinya kemerahan. tangannya mengarahkan mangkuk coklat itu ke depanku. aku mengambilnya sambil setengah tersenyum.
mangkuk ini hangat. sup krim jamur dengan potongan keju di atasnya memenuhi mangkuk ini. dia baik sekali. aku segera menyeruput sup ini, seperti sedang berbaring di kebun ilalang musim panas, hangat sekali.
aku tersenyum pada pria raksasa itu, dan ia membalas tersenyum. ia duduk di sebelahku dan terdiam. kami diam untuk waktu yang cukup lama. entah mengapa terasa begitu nyaman. kami berbicara dalam hati, tentang siapa dia, mengapa ada di sini, apa mimpi-mimpinya, apakah dia suka pada hujan, dan mendengar suara angin di musim semi.
kurasa aku terlalu banyak berkhayal, teman-teman sudah menguap jika kuceritakan mimpi-mimpiku. namun pria ini tidak. ia seolah menunggu sambil terdiam, dengan mata berkaca-kaca dan pipi merahnya. ia hangat, dan menyerap banjiran kata-kataku, seperti spons.
hujan berhenti, langit cerah lagi. mungkin ini saatnya kami pergi. aku memandangnya dan bertanya dalam hati, apa cuma hari ini?
ia mengambil mangkuk coklat dari tanganku. matanya membisikkan sesuatu, "tunggu di pagi hari saat lelehan langit menyapamu, kita akan duduk di sini, bersama rerumputan dan batu yang basah, lagi."
tawa renyah tak bisa kusembunyikan dari hadapannya. dengan telapak kaki penuh tanah basah aku berdiri setengah berlari ke rumah. pagi dan hujan, kembali datanglah. aku ingin memeluk spons itu, dan bercerita, sebanyak-banyaknya.
perutku bergetar, oh aku lapar. pagi tadi saat bangun aku langsung berlari kesini, aku ingin mengejar matahari pagi yang mungkin bisa kudapatkan baik-baik di sini. tadi ibu berteriak agar aku melahap roti panggang isi saus jeruk dulu, tapi aku hanya tertawa dan melanjutkan irama kakiku. yah, maaf ibu sekarang aku kelaparan dan langit masih menangis. mungkin jika menutup mata akan melupakan semuanya. gelap, dan biarkan alam yang berbicara.
tiba-tiba kudengar hal yang tak biasa. derap langkah yang besar dan mengguncang. aku pikir ini gempa, namun saat aku membuka mata, tampak pria bertubuh raksasa dari kejauhan. aku mundur, mendekap pohon, itu siapa?
di balik hujan ia terus berjalan. dia membawa sesuatu, sebuah mangkuk coklat yang ditutupi daun maple besar. dia berjalan ke arahku setengah berlari. aku mulai pasrah dan mata tak mau terkatup, menunggu hal besar akan mengubah hidupku. dia sudah tepat di depanku.
matanya berkaca-kaca dan pipinya kemerahan. tangannya mengarahkan mangkuk coklat itu ke depanku. aku mengambilnya sambil setengah tersenyum.
mangkuk ini hangat. sup krim jamur dengan potongan keju di atasnya memenuhi mangkuk ini. dia baik sekali. aku segera menyeruput sup ini, seperti sedang berbaring di kebun ilalang musim panas, hangat sekali.
aku tersenyum pada pria raksasa itu, dan ia membalas tersenyum. ia duduk di sebelahku dan terdiam. kami diam untuk waktu yang cukup lama. entah mengapa terasa begitu nyaman. kami berbicara dalam hati, tentang siapa dia, mengapa ada di sini, apa mimpi-mimpinya, apakah dia suka pada hujan, dan mendengar suara angin di musim semi.
kurasa aku terlalu banyak berkhayal, teman-teman sudah menguap jika kuceritakan mimpi-mimpiku. namun pria ini tidak. ia seolah menunggu sambil terdiam, dengan mata berkaca-kaca dan pipi merahnya. ia hangat, dan menyerap banjiran kata-kataku, seperti spons.
hujan berhenti, langit cerah lagi. mungkin ini saatnya kami pergi. aku memandangnya dan bertanya dalam hati, apa cuma hari ini?
ia mengambil mangkuk coklat dari tanganku. matanya membisikkan sesuatu, "tunggu di pagi hari saat lelehan langit menyapamu, kita akan duduk di sini, bersama rerumputan dan batu yang basah, lagi."
tawa renyah tak bisa kusembunyikan dari hadapannya. dengan telapak kaki penuh tanah basah aku berdiri setengah berlari ke rumah. pagi dan hujan, kembali datanglah. aku ingin memeluk spons itu, dan bercerita, sebanyak-banyaknya.
Jumat, 09 September 2011
jangan
warnanya abu-abu dan terlihat mulai jarang. aku memandanginya sambil minum teh hangat buatan ibu. kumis itu bergerak-gerak seiring bibir ayah yang naik turun bersuara, "kamu ngapain, sen?"
pandangi semua lekat-lekat namun belum terlalu puas, ayahku, yang diam saja jika aku tutup matanya, menurut saja, jika kucubiti pipinya yang sudah turun. dia diam karena sayang atau pasrah, entahlah. aku memeluknya dan mengikutinya kesana kemari berkeliling rumah. punggungnya hangat. bau pengharum pakaian begitu pas berada di kausnya. memang tidak begitu gagah, tapi badannya yang kendur itu menggoda untuk dicubiti, diajak menari. dia tidak marah. dan aku ingin menangis.
mimpi buruk menyapaku beberapa hari lalu. mobil merah marun pulang ke rumah dan kudapati jenazah ayah di belakang mobil. aku berteriak dan tidak mau mengakui bungkusan kain putih itu ayahku yang tak lagi bernyawa. semuanya ramai dan menangis. aku kacau dan ingin ikut dengannya saja. apa yang akan terjadi jika dia tak ada?
tak bisa peluk punggung hangat, cubit pipi kendur, menari-nari saat andrea bocelli menggaung di radio, tidak ada pura-pura pintar di depan ayah dan membicarakan masa depan sambil memegang buku sajak dari lemarinya. tidak akan ada lagi sampai selamanya. kini aku harus membicarakan masa depanku sendirian, dan menari sendirian. tidak!
di tengah pecahnya keramaian pilu ini, aku melihat sosok transparan ayah yang sedikit kelihatan, tersenyum dari kejauhan seolah ingin berbicara,
"sensen jangan menangis. meski papa udah gak ada, papa akan selalu disampingmu, sayang. baik-baik, ya. yang kuat."
aku tersenyum dengan payah, dan menggeleng. tidak boleh sedih. dia ada disampingku. kematian fisiknya hanyalah kepastian biasa yang akhirnya datang juga. dia sudah menjadi roh abadi, namun tak bisa berinteraksi.
aku bangun. ini pukul tiga pagi, dan lelehan air mata jatuh di sana sini, sakit sekali. aku mencarinya, tapi tidak ada. ayah sedang di rumah satu lagi. mimpi ini karena apa, Tuhan? semoga hanya karena rindu saja.
hari ini pukul sebelas malam, ayah sudah pulang, kutemukan sedang tertidur di kamar, hanya punggung berbalut baju hijaunya yang kulihat.
ikut berbaring tidur, sambil memeluknya lekat.
"jangan pergi dulu, aku masih ingin dekat-dekat........"
pandangi semua lekat-lekat namun belum terlalu puas, ayahku, yang diam saja jika aku tutup matanya, menurut saja, jika kucubiti pipinya yang sudah turun. dia diam karena sayang atau pasrah, entahlah. aku memeluknya dan mengikutinya kesana kemari berkeliling rumah. punggungnya hangat. bau pengharum pakaian begitu pas berada di kausnya. memang tidak begitu gagah, tapi badannya yang kendur itu menggoda untuk dicubiti, diajak menari. dia tidak marah. dan aku ingin menangis.
mimpi buruk menyapaku beberapa hari lalu. mobil merah marun pulang ke rumah dan kudapati jenazah ayah di belakang mobil. aku berteriak dan tidak mau mengakui bungkusan kain putih itu ayahku yang tak lagi bernyawa. semuanya ramai dan menangis. aku kacau dan ingin ikut dengannya saja. apa yang akan terjadi jika dia tak ada?
tak bisa peluk punggung hangat, cubit pipi kendur, menari-nari saat andrea bocelli menggaung di radio, tidak ada pura-pura pintar di depan ayah dan membicarakan masa depan sambil memegang buku sajak dari lemarinya. tidak akan ada lagi sampai selamanya. kini aku harus membicarakan masa depanku sendirian, dan menari sendirian. tidak!
di tengah pecahnya keramaian pilu ini, aku melihat sosok transparan ayah yang sedikit kelihatan, tersenyum dari kejauhan seolah ingin berbicara,
"sensen jangan menangis. meski papa udah gak ada, papa akan selalu disampingmu, sayang. baik-baik, ya. yang kuat."
aku tersenyum dengan payah, dan menggeleng. tidak boleh sedih. dia ada disampingku. kematian fisiknya hanyalah kepastian biasa yang akhirnya datang juga. dia sudah menjadi roh abadi, namun tak bisa berinteraksi.
aku bangun. ini pukul tiga pagi, dan lelehan air mata jatuh di sana sini, sakit sekali. aku mencarinya, tapi tidak ada. ayah sedang di rumah satu lagi. mimpi ini karena apa, Tuhan? semoga hanya karena rindu saja.
hari ini pukul sebelas malam, ayah sudah pulang, kutemukan sedang tertidur di kamar, hanya punggung berbalut baju hijaunya yang kulihat.
ikut berbaring tidur, sambil memeluknya lekat.
"jangan pergi dulu, aku masih ingin dekat-dekat........"
Minggu, 21 Agustus 2011
Kebebasan yang Mengekang
Kebebasan yang diharuskan, bukankah berarti tidak bebas lagi? Bolehkah tidak harus bebas atau mengambil sedikit saja kebebasan? Atau melangkah sesuai lini keharusan, dan sekali-kali menengok kiri kanan cari teman?
‘Break the rules!’ atau ‘Think out of the box!’, tindakan yang dilakukan untuk menjadi beda dengan yang biasa dan mematahkan garis hidup yang seharusnya.
Satu, dua, dan banyak orang mulai keluar jalur, aku pun belajar melakukannya. Berpikir untuk mencari yang baru sambil berlagak senang akan hal itu. Namun ternyata semua yang kusanggah membuatku merindu. Aku ingin kembali tidur di dalam kotak yang sudah tersedia sampai usia senja. Di posisi yang hangat, nyaman, dan tenang.
Terlalu lama berpikir keras untuk menjadi sesuatu yang beda membuatku kembali mempertanyakan, untuk apa? Kalau hanya untuk uang, kau bisa memasak dan menjual makananmu di depan rumah, sambil menyisir rambut anjingmu.
“Aku ingin kuliah dan diatur saja. Tidak mau berpikir untuk cari uang.”
Aku ternyata tidak terlalu suka dengan kebebasan. Karena aku tidak suka memilih yang tidak dipilih orang lain, ditinggalkan teman-teman yang bebas mencari impiannya, bekerja apa saja, punya kotak hidup masing-masing yang sulit diajak bertemu lagi, selama-lamanya. Aku ingin bersekolah saja, menjadi orang yang haus untuk diberitahu, bukan menyatakan pengetahuannya demi menyambung hidup. Aku mau berlindung dibalik dagu Ayah yang hangat, dengan kumisnya yang abu-abu, sambil mengenang memori klasik yang terjadi diantara kami, lalu berpeluk erat.
Aku ingin kembali jadi bayi, yang cukup menangis untuk mendapatkan segalanya. Anak perempuan kumal-malas mandi, yang menyisir rambut Barbie di dekat punggung Ibu. Yang belum tahu apa artinya banting tulang, strategi pemasaran, naik pangkat, tetapi sudah kesengsem menonton drama mandarin di televisi.
Tapi kalau begini, aku ingin bertanya lagi, ‘Bagaimana kita tidak dijajah lain negeri?’ jika terus-terusan menolak kebebasan untuk perubahan. Ya, semua orang harus berubah, itu normal. Jika dalam 20 tahun ini aku terus menjadi bayi, mungkin sekarang aku dibingkai dalam museum antik dan dilihat banyak orang, dianggap aneh.
“Kau harus berubah! Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan keinginanmu.”
Andai ada pekerjaan yang tidak akan menjauhkan semua orang tersayang dari pandangan, masih punya banyak waktu, banyak uang, namun tidak diberikan tekanan, dan bahagia.
“Hei kau si banyak mau!”
Semua itu tidak ada. Aku sekarang masih di depan layar kaca, berusaha memikirkan sesuatu yang baru sedari kemarin lusa, namun belum menemukannya. Aku rasa aku hampir gila. Ya sudahlah jalani saja.
Minggu, 14 Agustus 2011
Nala
senja terakhir
miskin
Aku mengejar lampu-lampu menyala terang yang membuat pusing. Kakakku menyuruh kami untuk naik jembatan besi yang berbunyi krek krek krek setiap kami melangkah. Di tengah tanjakan aku melihat anak dan ibunya yang menggenggam aqua gelasan sambil menunduk. Langkah selanjutnya kutemukan nenek yang sedang mengelap lelehan air di pipinya dengan baju hitam usang yang dikenakan. Aku terheran lalu merogoh uang di kantong celanaku, dan menemukan selembar lima ribu dan dua puluh ribu. Aku berpikir untuk tidak memberinya karena aku tidak punya recehan. Apalah arti lima ribu untukku? Membeli sebuah minuman berwarna yang buatku cepat mati?
Aku memasukkan lagi uang-uang 'mahal' ku itu kembali ke celana dan terus melangkah. Banyak barang yang dijaja di sana. Kacamata, buku bajakan, ikat pinggang, amplop untuk lebaran, dan lainnya di sebelah kiri. Di sebelah kanan aku berpapasan dengan anak kecil yang berjalan tanpa alas kaki, tengah menghisap rokok dalam-dalam tanpa peduli bahaya kebulan asap itu telah merasuki tubuhnya. Kenapa?
Jalan menanjak terasa cukup capai. Sungguh gerah dan ingin segera sampai. Namun orang-orang yang mengadu hidup disana seakan tidak perduli demi mengais sesendok nasi untuk hidup setidaknya hingga besok pagi.
Seharusnya aku bersyukur. Banyak bersyukur.
Aku memasukkan lagi uang-uang 'mahal' ku itu kembali ke celana dan terus melangkah. Banyak barang yang dijaja di sana. Kacamata, buku bajakan, ikat pinggang, amplop untuk lebaran, dan lainnya di sebelah kiri. Di sebelah kanan aku berpapasan dengan anak kecil yang berjalan tanpa alas kaki, tengah menghisap rokok dalam-dalam tanpa peduli bahaya kebulan asap itu telah merasuki tubuhnya. Kenapa?
Jalan menanjak terasa cukup capai. Sungguh gerah dan ingin segera sampai. Namun orang-orang yang mengadu hidup disana seakan tidak perduli demi mengais sesendok nasi untuk hidup setidaknya hingga besok pagi.
Seharusnya aku bersyukur. Banyak bersyukur.
Langganan:
Postingan (Atom)

