Selasa, 08 Mei 2012

J dan B dan udara abu-abu

namanya J. dia tidak terlalu suka makan. katanya lebih baik tidak makan nasi daripada tidak boleh menghabiskan udara abu-abu sebungkus setiap hari. bisa stress, begitulah.

ada perempuan yang selalu menemani J kemana-mana, naik turun tangga, memegang bajunya erat-erat, seolah selalu lekat. perempuan itu bernama B, rambutnya terurai panjang terkadang sengaja dibuat lurus agar terlihat tirus.

'kamu mau makan apa sayang?' ujar J pada B, sambil membuka kotak merah dan meraba-raba kantong kecil di jeansnya.

'nanti saja.' B membalas setengah mengerutkan alis.

ini bukan soal tidak sayang! dan tidak mengerti! tapi aku seperti bunuh diri! berlama-lama dengan kamu dengan hidung terpatri pada racun yang sibuk menari-nari, di udara!


B tercekat sendiri karena pikiran yang diteriakkannya dalam hati. mana berani dia, pacarnya bisa balik memarahi, atau sekadar membalikkan meja lalu pergi, meninggalkan B sendiri. lebih baik B duduk terpaku dan sedikit-sedikit mencuri udara segar yang tak tahu ada dimana lagi.

'rambut aku bau asep, sayang'

'mana sini, engga ah masih harum'

J tidak mengerti poin B, dan B memilih untuk diam. sementara J menghisap lalu mengumpulkan tenaga dan menghembuskan udara abu-abunya. ada rasa tenang di sana. kebebasan.

'kamu gak mau berhenti?'

'belum bisa, sayang.'

'kenapa?'

'yah, masih pengen aja.'

'emang rasanya gimana?'

'bebas, sayang. bebas.'

'kalau bebas, kenapa harus jadi kewajiban? bukannya kebebasan yang wajib itu no longer bebas ya, sayang?'

J memandang lurus B. dan sedikit terkekeh. kemudian kembali menghisap dalam-dalam udara abu-abunya.

'udah ah jangan ngomongin ini lagi, aku bakal berhenti. tapi nanti. pasti sayang, pasti.'

'aku suka janji itu. tapi lebih suka lagi kalau setelah itu kamu segera melakukan sesuatu.'

J mengusap-usap rambut B yang kembali meringkel. nampaknya lembaran rambut itu turut jengkel akan kompromi tadi yang tak memberi solusi. kemudian dua mangkuk bakso datang. J menginjak udara abu-abunya dan mengajak B berdoa bersama.



'I love you, sayang.'



Senin, 07 Mei 2012

17

menangis bukan menyerah, tetapi istirahat sejenak dari desakan yang menghimpit tubuhmu, dan pikiranmu.

aku belum menyerah, dan belum juga menangis. aku masih ada di titik awal. titik 17 hari menjelang eksekusi. aku masih mengikat tali sepatu. belum menyiapkan kuda-kuda apalagi bersalaman dengan lawan. pertandingan ini bisa berjalan pelan-pelan, asal strategi sudah kau pegang kuat di tangan.

tanganku sudah siap-siap menyeka mata, namun tak kunjung basah. sepertinya aku terlambat.

Sabtu, 21 April 2012

Batu karang

Dentum sunyi yang tak mampu dibendung memecah guratan alis menukik ke atas. Kumpulan awan gelap menutup wajahmu yang seraya pergi sebelum dendang pada langit dihabiskan.

Mereka percaya bahwa rumah yang kokoh harus dibangun di atas batu karang, bukan pasir pantai. Namun bait-bait klise itu hanya dapat berteman dengan buku lama yang tersimpan di api kemarahan.

Aku yang tengah marah. Aku yang tengah tak peduli akan petuah. Aku yang kini menghirup dalam-dalam sisa awan gelap yang kau hembuskan sebelum pergi, memilih untuk mengumpulkan batu karang - yang seingatku ada dalam petuah lama - untuk kulemparkan padamu jika kau benar-benar datang lagi.

Aku tidak berjanji. Aku menanti.

Sabtu, 14 April 2012

perihal pasta gigi

beberapa orang kuberikan pertanyaan ketika sedang duduk bersampingan; yang setelah ditanyakan malah balik memandangku. seperti berpikir apakah jiwa dalam anak ini sesuai dengan umurnya...

'kalau kamu sedang ingin sikat gigi, pasta giginya dipencet dari bawah, atas, atau asal asalan?'

.....................

beberapa orang tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala dan mengatakan seringkali asal-asalan memencet pasta gigi. namun dari riset kuantitatif ini aku menemukan hanya ada dua orang yang menekannya dari bawah, bahkan marah jika di rumahnya ada yang asal memperlakukan pasta gigi.

lalu mereka balik bertanya padaku, 'artinya apa Sen?'
aku diam. dan bingung. kenapa aku menanyakan itu dan untuk apa ya? beberapa hari ini ketika menggosok gigi, aku sibuk memikirkan hal ini. kurasa mereka masing-masing punya alasannya.


jahil mencoba untuk scroll-scroll weheartit.com dan kutemukan jawabannya.




ps: tipe pasta gigi yang manakah kamu?



Rabu, 11 April 2012

h?

kamu ada di titik itu. pistol di tanganmu, dan pelatuknya menunggu untuk kau tarik. fenomena hidup yang katanya hanya terjadi satu kali, namun setiap kejadiannya berpola tapi tak pernah sama, seperti juga kelumit masalahnya, membuatmu tengah bersandar pada dinding otak. maaf, aku lupa, otakmu tak punya sandaran. sepertinya kau tengah mencari sinar dalam jejaring duri yang sudah membuatmu berdarah banyak. aku melihat rentetan gigi dalam senyum ambigu. kau berpikir sambil tertawa, namun menyisakan kantung mata sebesar asam jawa.

titik ini membawamu pada fase status quo. otakmu terdiam sejenak menanti tanganmu yang menentukan keputusan. namun hanya senyum yang berkolaborasi dengan air mata yang kau punya. banyak yang bilang kau bodoh, dan kau tetap melakukan hal yang sama. dan saat ini perutmu bergejolak, ingin muntah. memuntahkan semua serapan yang selalu kau hisap. berbelas tahun lamanya.

"Aku lelah..."

sudahlah, tarik saja pelatuknya, dan arahkan pada benda di dekat lehermu itu. dia yang sudah lama ingin mati, namun tetap ada karena hidup yang keras kerap kali memberinya nafas segar. biar sajalah dia mati, memang sudah saatnya dia berhenti. tidak apalah jika setelah semua ini selesai, kau lupa tersenyum, menangis, atau berteriak kesakitan. karena semua membawa petaka, dan berujung pada penyesalan semata. kamu sudah terlalu jauh. pulanglah, tarik pelatuknya dan biarkanlah kini dia beristirahat.


"Selamat tinggal..."


Dor.

segelas teh tawar hangat

aku suka minuman manis. yang fancy. yang ada banyak warna dan dingin. rasanya manis dan menyenangkan. namun tidak selalu menyenangkan sepertinya, karena sering buat tenggorokan gatal, batuk, dan payahnya malah jadi demam. ternyata minuman tidak hanya untuk melepaskan dahaga, atau menimpa kepanikan karena pedasnya cabai merah. padahal, kau bisa saja memesan segelas teh tawar hangat. sangat sederhana. tidak manis, tapi menenangkan, murah pula. bahkan kalau pesan di warung makan, kau tak perlu memberi sepeserpun uang.

pelukmu juga begitu.




ps: aku ingin segelas peluk tawar hangat. tidak. segayung saja. mumpung gratis. :-)

Selasa, 27 Maret 2012

permen karet

'ini permen yang sangat enak, Nak. Bentuknya bulat-bulat, warna warni, saat kau memakannya, permen ini akan ikut memberontak di dalam mulutmu. Rasanya manis sekali, kau akan memamerkan gelembung yang bisa dibuat dengan permen ini -- pada teman-temanmu. Ayo cepat ambil.'



nenek Rumpelstilzkin menyodorkan mangkuk di tangannya dan menyuruh Scott mengambil salah satu isinya. Scott belum pernah melihat permen lain selain gula merah yang dicairkan. matanya terlihat berbinar-binar memandang pemberian nenek berhidung mancung bintik-bintik itu. ia tidak ragu, siapa anak-anak yang pernah ragu terhadap permen? kalau kamu ragu, berarti kamu sudah dewasa.

Scott berlari pulang karena hari mulai gelap dan jangkrik bernyanyi kencang menandakan hutan sudah dialihkuasakan. penduduk desa mengatakan jika hari sudah gelap seringkali muncul serigala pemangsa anak kecil, yang bersarang di dekat tempat tinggal nenek Rumpelstilzkin. entahlah, mungkin nenek Rumpelstilzkin yang empunya serigala-serigala itu sehingga tak mungkin ia ikut dimangsa, lagipula ia sudah tua.

sampai dirumah, ibu Scott sedang mengaduk sup asparagus dan ayah Scott membetulkan loteng yang atapnya dimakan rayap. Scott berlari ke kamarnya dan menjaga agar permen karet ini tidak diketahui ayah ibunya. Scott pernah tersedak permen karena begitu senang saat memakannya -- ya, makan sambil tertawa. sehingga ibunya tidak pernah lagi mengijinkan Scott makan permen gula merah. hanya boleh makan sup atau jagung rebus.

perlahan Scott memasukkan permen karet ke dalam mulutnya. sambil terduduk melipat kaki, ia mengunyahnya perlahan. 'Manis sekali......' bisik Scott.

ia mengunyahnya selama beberapa hari. ketika sarapan hingga makan malam, ia menyembunyikan permen karet itu di balik giginya. setelahnya, ia kembali mengunyahnya sampai tertidur.

beberapa minggu setelahnya, Scott bosan karena giginya harus terus melawan permen karet yang menggeliat apalagi, sudah tidak manis lagi. Scott melipat mukanya sambil terus mengunyah.

'awalnya kelihatannya begitu asik, ah tapi aku lelah mengunyah.'

Scott pergi ke tepi danau di dalam hutan dan akhirnya membuang permen karetnya. di balik pohon maple,  nenek Rumpelstilzkin tertawa cekikikan. 'tak akan kuberi lagi sampai kau rela jadi santapan serigala-serigala manisku, Scott...'

kapas

seperti sedang menggenggam permen kapas yang pelan pelan hilang dan lengket di telapak tangan -- aku belum sempat mengunyahnya atau berfoto dengannya, iya seperti tersenyum tenang dan berkata 'kau terlambat, Senja..'

mungkin dia yang datang terlalu pagi, atau mungkin aku yang terlalu banyak tertidur, belakangan ini seperti disihir oleh bantal kuning di sudut kamar yang memaksa untuk ditiduri sampai tengah hari. aku tidak mau minta maaf, lebih baik kita terdiam bersama, dan aku akan memakan tanganku -- yang mungkin masih menyisakan manisnya permen kapas itu.

Rabu, 14 Maret 2012

comfort zone

keluarlah dari comfort zone!

memangnya apa salahnya berdiam di comfort zone? bermain gitar dengan teman-teman lama di depan api unggun? mungkin lebih baik petuah itu ditambah dengan sedikit kalimat,

keluarlah dari comfort zone yang semakin menyesatkanmu!

lalu pelan-pelan mereka yang menyuntikkan kesedihan namun candu, akan pergi ke pusat rehabilitasi.

mari bersalaman, adil kan?

Selasa, 13 Maret 2012

vivo per lei!

tatapan mata yang begitu kuat membuat serasa telanjang. tidak berperisai untuk melawan. memilih pasrah dan menunduk. ini salahku, begitu konklusinya. namun jika sebenarnya tanganmu, yang merupakan perisai abadimu, mampu mengilah tatapan tajam itu, kau bisa tetap pakai baju. malahan bisa tampak seperti pakai baju yang paling kamu sukai, yang ada di toko dekat sekolahmu itu. asal kamu berani, dan kamu percaya kamu benar, dan kamu vokal. mungkin sebenarnya kebenaran itu dekat denganmu, dan kemenangan sedang turun ke atas kepalamu. selamat berjuang.

lamunan seorang J

'................'

kali ini tak sedikitpun kata yang kudengar dari bibirnya. ia memutuskan untuk mengatup dan melipat tangan sepanjang hari itu. meski terdiam, dia sibuk batuk-batuk. aku menawarkan sapu tanganku yang berwarna biru tua dengan sulaman huruf J diujungnya -- namun ia memalingkan muka.

ia selalu bilang dirinya bukanlah tipe vokal. ia memilih meredam emosi lewat wajahnya, seperti menangis ketika sedih, menggemeretukkan gigi ketika marah, bahkan tertawa sampai hampir muntah ia lakukan jika leluconku cukup lucu. ia begitu diam, katanya karena ia terlalu nyaman berada di dekatku sehingga tidak ingin mengucapkan sepatah katapun. namun ini cukup menyiksa, karena aku serasa belum sepenuhnya mengenal sosok manusia yang selalu kugandeng tangannya, selama dua bulan terakhir ini.

lalu kenapa aku memilihnya? insting.

aku percaya dia adalah tulang rusukku yang hilang. tidak usah ditanya lagi. ini harga mati. dia jodohku. aku mungkin konservatif karena menganggap sekali berpacaran untuk selamanya, namun aku bersyukur karenanya. memilihnya, bukan, maksudku menemukannya diantara ratusan ribu manusia yang pernah kutemui, seperti menemukan diriku yang seutuhnya. tubuh dan pikiranku menjadi satu. mengatakan satu. menyuarakan satu. cinta.

aku tersenyum memandang jaring-jaring yang menyelimuti gawang futsal di depanku. lamunanku terpecah karena mendengarnya terbatuk-batuk lagi di sebelah kiriku. ia mengambil tasnya untuk dipeluk erat-erat seolah ingin memohon pada tas itu, untuk mengakhiri batuk yang tak kunjung reda.

'mengapa kau tak memohon padaku? aku kan kuliah kedokteran..' pikirku. tapi mungkin memang saat ini harus seperti ini. merenung sebentar. jika sudah lelah, barulah saling bermaaf-maafan dan kembali pulang ke kasih sayang.

hari ini begitu kosong. belum ada tawanya yang terekam di mataku. aku menunggu. mungkin karena hal itu, ya karena itu. aku melihat kedua tangannya, dan tersenyum getir.

sebuah hari tanpa cat kuku.

Minggu, 04 Maret 2012

bumerang

ada yang patah

senyummu.

awalnya ayunan itu menggendongmu dan mengajakmu tertawa, namun perlahan angin juga setuju untuk menambah alunan maju mundur tubuhmu. kakimu tak kuasa berpijak di tanah setengah basah -- kau menutup mata seolah terbang namun tetap berpegang.

DIAM, ANGIN!

sepertinya angin kerasukan, ayunan merah tua ini membawamu terlalu kencang, kau mencoba untuk tak minta tolong siapapun, dan jangan sampai terjerembap, malu katamu. kau laki-laki, dan tidak mau sekali ditertawai jika kedapatan terjatuh.

hei, kau tak bisa bohong. matamu menyiratkan ketakutan, dan mulut terkatup rapat tertanda ingin sekali muntah, muntah pada angin, pada ayunan, pada tanah setengah basah, dan padaku. kau berusaha bertahan sekencang mungkin melawan angin dengan berpegang pada tali ayunan yang membuatmu berdarah, dan telapak tanganmu terkelupas, kakimu kebas karena tertampar angin. aku menungguimu sampai lima setengah jam kala itu, langit mulai biru tua dan angin ijin pulang karena bosan dan memilih untuk makan malam.

kau bernapas dengan baik dan perlahan melepaskan tali ayunan yang kini berwarna merah, meletakkan dua kakimu di tanah basah, pelan pelan berjalan mengambil balok kayu dan berjalan cepat dan berlari dan berteriak lurus ke arah mataku.

'rasakan itu, bodoh! hati-hati menulis cerita, mereka yang tertuang bisa jadi bumerang!'


lalu aku menikmati bintang dan burung dekat kepalaku, dan cairan berwarna merah pekat. sepertinya aku sudah sampai di tempat istirahat.

Senin, 27 Februari 2012

n

ketika aku berkata bahwa aku tak bisa lagi menulis, saat ini aku tengah menulis. saat aku tidak mengetik ini, aku berbicara, aku membunyikan tulisan dalam ucapanku. saat aku terdiam, aku merajut tulisan dalam otakku yang seperti siput. saat aku bermimpi, aku tidak menulis, tidak berbicara, tidak merajut tulisan di dalam otak. aku diatur, dan mimpi disiapkan, dan aku disuguhkan, dan ketika bangun aku lupa ini apa. dan sekarang aku bingung siapa yang berdalih bahwa aku tak lagi ingin berbicara, atau bercerita dalam ungkapan sajak lama. aku hanya ingin tidur di bawah kolong meja, aku tak tahu sampai kapan, berhentilah bertanya. tunggulah. tunggu di situ dan jangan bergerak -- apalagi berpaling. aku tengah mengusap pelan-pelan air yang terus membasahi daguku. mereka keluar dengan liar meski telah kumarahi. aku hanya ingin diam sebentar, diam di dalam mimpi, aku ingin membiarkan aku disuguhi, belum saatnya berusaha untuk tidak jatuh lagi. iya, aku ingin jatuh sebentar di dalam mimpi, yang disediakan di bawah kolong meja. tunggu.

bodoh

hari itu dia memakai kuteks ungu tua dengan sedikit memar di wajahnya. baju renda-renda hitam dengan bagian punggung yang sudah robek -- entah siapa pelakunya. ia membetulkan maskaranya yang telah luntur sampai dagu. hari itu tidak hujan, namun ada badai yang menusuk tulang. dia membawa payung yang katanya dapat menghalau panas matahari dan tangisan langit -- tapi tak bisa halau air yang ada di pipinya. dia berjalan dengan gontai ke arah lorong gelap berisi tong sampah dan anjing-anjing lapar yang meraung-raung mencakar aspal. dia ingin teriak namun suaranya parau, lalu dia tertawa kencang-kencang sampai tergema ke seluruh kota dan membangunkan lampu-lampu apartemen. 'ini hidupku! masa bodoh dengan kalian semua!' teriaknya dengan suara melengking dan hidung yang basah. mereka yang memandangnya dari jendela menganggapnya bagian dari orang-orang gila. dia masih terus berjalan ke lorong itu, lorong gelap yang tak pernah ada yang tahu ujungnya. sepatunya terlalu tinggi untuk dia berlari, ditambah tidak ada makanan yang masuk ke dalam tenggorokannya dalam empat hari itu. payungnya kemudian dilempar, bersama dengan sepatu tingginya, dan baju renda-rendanya yang usang, kini dia telanjang. 'ini hidupku! masa bodoh dengan kalian semua!' teriaknya lagi, dan beberapa orang di apartemen yang tengah bermimpi menganggap ini deja vu. dia berlari menuju ujung lorong gelap itu dan berteriak ketakutan setengah senang. karena di ujung lorong itu ada jalan mati -- jalan menuju kematian, dengan jurang yang menganga di bawahnya, menunggu mangsaan yang akhirnya datang juga, yang kini telah menyerah pada kehidupan yang dahulu dia bangga-banggakan. beberapa orang di apartemen sempat mendengar sayup-sayup suaranya yang parau, 'ini matiku! masa bodoh dengan kalian semua!'

Minggu, 19 Februari 2012

sebuah post lama di hari pertama libur semester empat

hari ini gue menghadapi pagi yang kosong, yang sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi
gak ada tanggalan yang harus dikejar, atau orang-orang yang harus diajak main
lalu M mengajak gue untuk ke tempat yang cukup jauh

gue teringat gue ada janji dengan R, nonton di bioskop baru dekat rumah
namun sepertinya R gak dibolehin mamanya pergi, dan dia ngambek juga sama gue
bingung, akhirnya gue mengiyakan ajakan M untuk ketempat yang jauh itu

gue janjian dengan M di stasiun paling akhir
di perjalanan menuju stasiun itu, gue menyalakan ipod dengan playlist BANGUN
yang supaya gue bangun dari sedih gak jelas, bengong gak jelas
dengan rambut yang baru di potong kemarin, gue berpetualang

lalu di kereta itu gue berangkat sendirian, dengan modal sok deket sama ibu-ibu, nanya peron dan jam berapa sekarang
di dalam kereta banyak orang tua muda yang membawa anak perempuannya, rata-rata 4 tahunan, yang sibuk berdiri di tempat duduk oranye
mereka tampak senang melihat jalanan yang motion blur, sambil loncat-loncat di paha bapaknya masing-masing

gue aman dengan ipod gue, volume maksimal, dan kadang lagunya bikin kaget

sampai. gue menunggu M sambil masih dengerin ipod
Like a g6 like a g6 na na na now I'm feeling so high like a g6
oke ini lagu pas nemenin gue nungguin M, di tengah keramaian-lautan manusia mencari kebahagiaan

lalu M datang
lalu kita naik bus trans dan mulai bercerita
lalu sampai di sebuah tempat yang mengingatkan gue pada cerita lama

dulu gue dan teman-teman gue jam 1 pagi ada di tangga-tangga ini, cerita-cerita hantu
lalu di sebelah kanan ada perempuan yang mabuk, dan tidur di sela-sela pahanya sendiri
gak ada yang jemput dia
tapi kami ada yang jemput, kami menginap di rumah salah satu temen gue itu

balik lagi ke M
tapi gue dan M kesana bukan untuk duduk-duduk di tangga
tapi nemenin M siaran tentang kampus gue di salah satu radio terkenal di Jakarta
tapi gue gak masuk ke dapur rekaman, dan menunggu di sofa merah, bersama kawanan anak SMA super ribut dan labil yang sedang foto-foto dengan slr milik salah satu-mereka sibuk foto jari mereka dan berusaha membuatnya jadi auto focus

setelah satu jam, M keluar dari dapur rekaman
seperti pahlawan, gue jadi wanita yang diselamatkan
M mengajak gue makan, di jam 3 sore itu
setelah makan, kami pindah ke tempat makan lain untuk cari colokan
dan kami pindah ke tempat makan di depan tangga-tangga tempat bercerita setan itu

kangen.

lalu di sana gue dan M bercerita sampai hampir gelap
tentang apa saja yang sudah kami lewatkan
kangen juga sama si M ini, udah lama gak liat dia
dia sibuk di kampus, gue sibuk bengong di rumah

hape gue mati, mungkin udah suratan buat gak ngecek-ngecek yang gak penting
lalu gue dadah-dadah sama M karena udah disuruh pulang sama kakak gue

lalu gue sama kakak gue naik kereta dingin ke arah rumah
tapi ternyata ke mall dulu
gue makan mie ramen super extra hot
tapi gak pedes ah, hati gue lagi dingin mungkin...
lalu pulang

lalu ada di sini
di kamar dingin dengan Crayon
gue sadar kalo selama ini gue berjalan sendiri
maksud gue, fisik jalan kemana-mana, ketempat ramai-ramai
tapi gue gak merasa ada di sana
gue memikirkan momentum-momentum lama
yang menunggu untuk dirindukan

lalu kotak bersinar ini gue nyalakan, lagu terpasang
nyeeeh, pipi gue basah, sial
lalu Crayon ngeliatin gue

gue keinget notes yang ada di dalam kado-yang isinya Crayon-di hari usia gue genap 20 tahun

"Semoga boneka beruang ini bisa nemenin lu di saat lu ngerasa sedih. Kalo lu nangis, peluk aja dia, biar dia yang ngapusin tangisan lu."

Iya, dia emang lagi ngapusin tangis-tangisan gue, karena gue ngelap air mata dan ingus gue ke bajunya dia, hehe.
Gue gak tau apa yang gue tangisin.
Tapi semakin gue mandang Crayon, matanya yang bulat seperti biji kelengkeng ini, minta buat ditangisin.

Sampai nangisnya berhenti, sampai sekarang, Crayonnya masih di pelukan.
Makasih banget loh teman-teman yang kasih Crayon buat gue. Ampuh.

Banyak yang kuatir katanya gue udah kejauhan berimajinasi, sampai ngira si Crayon ini hidup.
Tapi, cuma dia yang nemenin gue saat gue merasa lonely, cuma dia yang duduk beku nungguin gue meper ingus dan teriak di perutnya, cuma dia yang bersedia di pencet-pencet, gak protes, gak balik mencet.

Karena dia benda mati. Atau karena dia kasihan?

Hehehehe

Sabtu, 18 Februari 2012

Intermezzo VII

"If i die tonight, I'd go with no regrets,
if it's in your arms, I know that I was blessed.


And if your eyes, are the last thing that i see


then I know,


the beauty heaven holds for me."


Sebuah kutipan lagu yang kubaca di novel remaja saat SMP yang cukup menguras air mata dan air hidung. seperti tertonjok rasanya, aku menangis keras di kamar Ayah kala itu, mengapa kisah ini begitu sedih, setelah seminggu kemudian, aku baru sadar ini hanya kisah rekaan semata. Namun kutipan ini begitu memorabel hingga sekarang -- 8 tahun setelahnya.

Selasa, 14 Februari 2012

untuk sesuatu yang bernama ngablu

di tengah malam, sehabis hujan.

teruntuk kamu, sesuatu yang krusial namun belum dipatenkan
terutama dalam menemukan banyak jawaban
kamu yang bernama ngablu

'Senja, ngablu itu apa sih?' tanya Ruth, sahabatku yang tinggal cukup lama di Bandung. Dia mungkin dekat dengan istilah-istilah Jawa Barat. Maneh, lieur, tos, goreng, ulin, mengerti dia dengan pembendaharaan Sunda. Namun kurang familiar dengan kata ini. Dia penasaran karena berulang kali aku menyebutkannya dalam setiap curhatanku. Aku diam sebentar, satu menit. 

'Ehm, Ruth. Sulit dijelaskan. Ngablu itu seperti keadaan sadar namun tak sadar. Kamu berpikir sambil tetap memandang sekeliling. Mungkin sambil menulis atau menghabiskan beberapa Choki-Choki secara betulan namun pikiranmu membuncah pergi ke imajinasimu sendiri. Kamu akan memikirkan sebuah hal, membuat mindmap dalam otakmu, bertanya dalam hati, dan jawaban bisa dapat bisa tidak. Tergantung sehebat apa kamu bisa ngablu.'

Ruth tampak masih kurang puas dengan jawabanku, dia membuka mulut ingin bertanya lagi, namun seperti seolah kekenyangan, ia menguap dan mengiyakan saja. 'Terserahmu lah, Jah. Aku ngikut saja.'





Ngablu seperti hari itu, kamu main ke rumah dan kita hendak menonton film apa saja di bioskop, 2 film kita pantengi kala itu. Setelahnya kita duduk di mobil, parkiran teratas, terdiam dalam lamunan lagu-lagu teduh dan gerimis.




Ngablu bisa kita lakukan sambil diam, mendengarkan lagu, mendengarkan ceritamu, atau saling bercerita tak berbenang merah. Kita berpikir sambil melakukan sesuatu -- atau diam sama sekali. Mencari jawaban yang perlu berimajinasi untuk mendapatkannya. Dan terkadang dia hilang seperti permen kapas.

Lalu kita menidurkan waktu -- atau sebaliknya? Karena saat ngablu tengah berlabuh kita sadar bahwa langit telah berwarna oranye keunguan, matahari bergerak mundur, sehingga kita juga harus pulang. Sebal sekali! Tapi kamu berjanji besok akan ketemu lagi.



Ngablu hari ini adalah dasar dari realitas hari esok - Anonim

Rabu, 08 Februari 2012

untuk Xena yang tak pulang sebulan

kupanggil kau Xena, The Warrior Princess
karena bagiku kau perempuan mandiri yang tangguh dan berotot

sungguh terasa cepat, aku menghentikan perkenalan ini
karena setiap hari kita mengenal satu sama lain
dan berakhir hari ini

kau terdiam, di baskom merah kusam pekarangan
dengan air seperempat dari selang
aku menunggu moncongmu keluar dari cangkang, kemudian sibuk berkeliling

sempat ingin mundur, terlalu sedih untuk mengingatmu, sayang.

kita pernah bergandengan tangan
ketika aku mengisi baskommu hingga meluap
lalu kau berenang sambil menancapkan kuku lentikmu pada jariku
dan kita berputar, melihat sekeliling
bak ibu yang menemani anaknya berenang
aku cinta kamu.

dan ketika kau mulai tidak suka pil hijau
aku memberimu suiran ayam goreng dan roti tawar
kau bosan dengan rutinitasmu dan ingin yang baru
meski akhirnya kau menyerah saat kuberikan pil hijau lagi - demi kesehatanmu

ketika aku sudah punya yang lain
kau nampak terdiam dalam baskom merah usangmu
sesekali aku melihat dan bertanya dengan kejamnya,
"Xena, kamu belum mati, kan?"
sesegera mungkin kau keluarkan moncongmu dari cangkang menuju permukaan
seolah ingin berkata, "Aku masih di sini, Senja".

kau mulai terlihat lebih kendur dari biasanya
baskom merah isi air seperempat mulai berwarna cokelat
aku melupakanmu
lupa melemparkan pil-pil hijau itu
melupakan ketulusanmu menungguku
melupakan momen berpegangan tangan milik kita

bagaimanapun, pergi adalah sebuah keputusan, yang akhirnya kau lakukan.
dari pekaranganku

dari kehidupanku


petualangan yang kau butuhkan, kau rindukan, mungkin ada di luar sana
tanpa kutahu dimana kau berteduh
mencari pengganti pil hijau saat lapar
mendapatkan orang yang ingin menggosok-gosok cangkangmu, sampai kau tertidur

tahukah kamu, Xena?
pil-pil hijaumu masih tersusun rapi dalam botol plastik, di bawah akuarium
baskom merah usang masih ada di pekarangan, tidak dengan air seperempat, namun ia menunggumu
foto-foto terdahulu juga menyesakkanku, mengundangku untuk hadir di perjamuan rasa bersalah dengan kostum jas pink elektrik

aku memikirkanmu seharian, sayang. Merindukanmu.

sempat aku membatin, "Aku rela lihat setan. Tapi kamu yang jadi setannya, Xena. Kau bermain di baskommu sementara aku sudah tahu kamu hantu."

ketika terdiam hanya membuatku ingin menguras air mata, aku berusaha mencari riuh yang semu


ketika kepulanganku menuju pekarangan kini disambut baskom merah usangmu yang sudah kering, seolah ikut mati karena tersiksa menunggumu.


Pulanglah, Xena. Aku mohon. Kapan saja. Setelah kau lelah berpetualang dan ingin kembali pulang. Kembali, Xena. Aku dan baskommu sangat rindu......


"Aku masih di sini, Senja. Dalam anganmu."

Senin, 06 Februari 2012

untuk yang sakit



aku akan memperhatikanmu setiap hari,
menyuapimu bubur kesukaan dan melap dagumu yang belepotan,
mengganti kausmu yang basah karena keringat,
mengusap-ngusap punggungmu dengan bedak bayi;

menghitung bulu matamu selagi kau tertidur,
menggenggam punggung tanganmu kecuali saat kau minta ke kamar mandi,
apa saja, apa saja;

menyanyikanmu twinkle twinkle little star,
sambil mengunyah honey stars sama sama,
menunggu,
berdoa,
apa saja;

namun aku tidak bisa menyembuhkanmu, aku tidak kuliah kedokteran.







ps: sembuh! amin.

Sabtu, 21 Januari 2012

untuk dua malaikatku

Malaikat itu ada yang kelihatan dan tidak kelihatan. Yang selalu terlihat dan ada disampingku, Papa dan Mama.

Tentu saja mereka malaikat! Namun bukan yang bersayap dan pakai jubah putih, tersenyum dengan kilauan sinar yang hangat, tidak. Papa malaikat berkumis dengan rambutnya yang belang-belang hitam putih, yang lebih senang mengendarai sepeda ontel dibandingkan mobilnya, yang selalu bertanya padaku 'Sudah berapa buku yang kamu baca?', dan pernah sakit saat kupaksa makan cokelat, maklum, ia tidak suka makanan manis, dan sangat senang jika aku memberinya kuaci, atau edamame rebus.

Mama malaikat dengan rambut keunguan (baru-baru ini mengecat rambutnya), selalu memburu tas dan sepatu di manapun ia pergi, senang mengaduk bahan makanan di dapur menjadi sesuatu yang luar biasa, tertawa keras-keras jika aku menceritakan lelucon padanya, ya. Mama cekatan, ceria, dan masih seperti anak muda.

Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Papa dan Mama sudah menikah selama 24 tahun. Papa 51 tahun dan Mama 50 tahun. Namun keduanya masih seperti anak muda-yang dimabuk cinta. Jangan tanya pada Mama tentang bagaimana Papa melamarnya! Dua hari dua malam tak akan cukup untuk Mama menceritakan semua hal-hal manis yang terjadi diantaranya dengan Papa saat masa pacarannya. Huh, iri sekali.

Bagiku Papa adalah si Tahu Segalanya. Sejak kecil, jika aku duduk dengan Papa, memandang langit, lalu mengobrol sedikit tentang berita di tv, ataupun hal-hal aneh yang ingin kutanyakan, aku merasa pintar. Sepintar Papa. Ia banyak membaca buku, sementara aku lebih suka menunggunya menceritakan sajak-sajak yang dibacanya didepanku. 
Beberapa, atau mungkin banyak tindakan bodohku yang kutunjukkan didepannya, akan ditanggapinya dengan bijak. Aku ingin punya pacar seperti Papa. Yang punya sifat sederhana namun mampu menjadi pemimpin berwawasan luas.

untuk mereka, tak ada yang bisa membayar semua yang telah dilakukan. tak ada sebatang emaspun. Tuhan terlalu baik memberiku sepasang malaikat terkeren untuk selalu kuajak tertawa dan bercerita bersama. Terima kasih. Tidak, itu tidak pernah cukup. Ajarku berterima kasih, dengan selalu bersikap manis pada kalian, malaikat-malaikatku.

Mungkin kau memang belum pernah melihat malaikat yang bersinar sungguhan. Namun setidaknya, malaikat yang kelihatan, yang bisa kau peluk dan cium, lalu kau mintai uang untuk jajan, Papa dan Mama mu, kan?


<3 <3 <3