Rabu, 01 Agustus 2012

Laki-laki di Alaska (II)

"I wish I knew then what I know now 
Wouldn't dive in wouldn't bow down 
Gravity hurts, you made it so sweet 
Till I woke up on, on the concrete "


B menyibakkan selimut pada pukul tiga. mimpinya buruk sekali. degup jantung itu terasa hingga punggung.

"Ini sudah yang kedua belas kali..... lelah."

B melihat sekeliling dan memanggil ingatan. oh, ini di Alaska. B aman di rumah dua lelaki yang menyambutnya tadi pagi. mereka tidur di sofa dekat perapian, mengalah demi perempuan yang ingin otaknya sedikit dilubangi karena terlalu banyak mimpi. tadi siang B banyak mendengarkan cerita W dan Q tentang apapun. hidup mereka lain sekali -- maka Alaska resmi dijadikan B sebagai tempat observasi.

observasi cara manusia hidup, observasi bentuk afeksi, observasi hubungan horizontal, dan observasi apa saja yang tersisa untuk dicetuskan. 

dalam perbincangan mereka di siang yang menggigili bulu kuduk itu, B menemukan hubungan yang spesial dengan W dan Q. sesekali mereka memiliki senyum yang sama, tatapan yang sama, gelak tawa yang persis sama, hangat, itu inti persamaannya. sepertinya mereka saling menyayangi, namun bukan seperti satu teman ke teman lain, seperti lebih dalam. mereka sedang jatuh cinta.

kemudian teman-teman Alaska berdatangan, mereka banyak memberikan tawa dan pandangan-pandangan baru. bahwa kau tidak selamanya harus makan ikan di laut, sesekali bisa memelihara sendiri dengan penuh cinta, untuk menjadikan makhluk hidup baru yang lebih sehat dan bahagia, rasanya pasti lebih manis dan membuat tertawa. namun mereka tetap melakukan hal yang sama, meninggalkan dan menemukan, meski terlalu cepat. katanya hanya butuh satu minggu untuk membuat semuanya jadi baru, asal jangan pernah memakai benda yang bernama hati. agar tetap tertawa harus bisa melakukan itu, kata mereka.

ada satu lelaki Alaska yang tiba-tiba ingin berbicara empat mata.

"hai, kamu siapa namanya?"
"haloooo. nama aku B. hehehehhe"

lelaki itu meletakkan gelasnya dan meneliti air muka B.

"kamu sedang sedih B. sedari tadi aku duduk di sudut dan melihatmu tertawa --  namun tanpa jiwa. aku tidak yakin sekarang kamu sedang mendengarkan aku atau sibuk menangis di alam bawah sadarmu."

"tidaaak. aku baik. ah, iya memang aku sedang sedih. hiburlah aku. ajak aku berkeliling, aku ingin lihat  bahagia di Alaska."

lelaki yang B lupa namanya itu segera menarik tangannya keluar pintu. mereka berjalan berdua dengan tumpukan salju yang seolah ingin memeluk mereka sepanjang jalan, tak ingin berpisah.

mereka pergi ke tempat pohon cemara berkumpul dan burung-burung bercerita. ada sungai yang tidak pernah membeku, toko cupcake, café yang menjual semangkuk sup tawa, dan sebelum pulang, lelaki itu mengajak B untuk memandang langit, di sebuah bukit yang memiliki banyak gua. malam itu ada banyak bintang dan beberapa diantaranya seperti glitter yang membentang.

sebelum pulang, lelaki itu mencium kedua pipi B dengan hangat. B tersenyum. dia memang baru mengenal lelaki itu beberapa jam, namun sudah membuat B senang. memang terkadang tidak perlu terlalu dekat untuk menjadi sahabat.

B pulang dari ingatannya dan membatin di balik selimut. 


"terima kasih Alaska, mungkin aku akan menetap di sini empat atau lima, atau selamanya."

Sleep tight.

Jumat, 27 Juli 2012

Teman

Banyak orang yang mengaku ahli dalam hal patah-mematah mengatakan bahwa jadilah seorang teman yang tak hanya hadir dalam suka, tetapi juga rela mendengarkan keluh kesah dalam duka temanmu.

Keningku berkerut selama dua minggu setelah dilempari puluhan tomat segar dari kebun; yang datangnya dari teman sendiri. Aku menyimpulkan bahwa memang seharusnya begini:

"Jadilah teman yang tahu diri. Tidak hanya datang pada teman ketika sedang ingin berkeluh kesah tetapi juga mengingat mereka dalam suka cita. Spons juga butuh sabun agar jadi bersih, bukan?"

Lalu semuanya tampak adil dan kamu boleh tidur siang.

Senin, 23 Juli 2012

Laki-laki di Alaska (I)

"I'm an alien.. I'm a legal alien. I'm an Englishman in New York...."



masinis menghentikan tujuan akhir perjalanan kali itu. Alaska. sebuah tujuan yang sengaja dituju B yang terpaksa menyetujuinya. sore itu dingin dan sedikit rintik-rintik. B menggerek koper dan berjalan perlahan.

dimana-mana dedaunan putih karena salju, matahari Alaska mungkin sibuk tertidur dalam kelambu.

"hujan dan salju, ah, sangat tepat. semoga memori juga turut beku dan menjadi stalakmit disini, tertinggal, dan meninggal."

B mengetuk pintu sebuah rumah yang menyala-nyala dari balik jendela. memang telah tersiar kabar dibalik dinginnya Alaska terdapat penduduk yang hangat dan riang disana.


"ini siapa ya?" seorang lelaki bertubuh tegap dengan rambut klimis membuka pintu, lalu bertanya kepada lelaki lain di sebelahnya.

"aku tidak tahu, halo. kamu siapa?" jawab lelaki itu

"hai. namaku B. aku baru pertama kali ke Alaska, dan aku kedinginan." gemeretuk gigi B mulai terdengar dan mengganggu suaranya.

"ya ampun, ayo sini masuk B. kebetulan kami baru saja memasak sup krim jamur, semoga menghangatkan!"


B menemukan tempat persinggahan yang begitu menyenangkan. ada dua lelaki yang tinggal disana, mereka adalah W dan Q.

W dan Q pintar memasak. mereka bercerita tentang resep masakan apa saja yang sudah berhasil dibuat dan dibagikan ke penduduk Alaska. muka mereka sangat cerah dan berseri. tampak sekali mereka mandi lebih dari dua kali sehari.

"disini memang dingin, B. tetapi harus sering mandi. jika tidak, wajahmu akan berminyak dan sulit dapat teman." ungkap Q.

B menyeruput sup krim jamurnya dalam-dalam, dan memandang sekeliling. rumah ini hangat meski tak ada sentuhan perempuan, alat-alat masak tersusun dan dicuci bersih, pajangan dan bingkai foto yang tak berdebu, dan ada aroma lavender menggerayangi rumah ini.


"sehabis kamu makan dan menghangatkan diri, aku ingin kamu bertemu teman-teman kami, B. mereka baik dan hangat. kamu pasti akan betah disini." ujar W dengan penuh senyum.


ada yang aneh disini. disini memang nyaman dan tenang. tetapi, apa yang salah dengan mereka? mereka laki-laki dan..... mengapa mereka begitu menyayangi?

Selasa, 10 Juli 2012

Jangan Stagnan.

Sebuah masa di mana buku-buku jemari lebih berkerut dari biasanya, di selanya membeku dan tak bisa lagi merapat.
Masa dimana jalan linier itu membosankan sehingga aku duduk di sana sembari melihatmu melambaikan tangan pergi untuk mencari kebenaran.
Masa dimana mata terbelalak karena melihat apa yang seharusnya didengar hati sejak sebelum mengikat janji.
Hidup ini memang tidak pernah stagnan, dan jangan hanya terdiam jika kau dikagetkan. Bangun dan balaslah dengan kejutan. Yang mampu memberi kesan elektris hingga mereka mati terkulai karena nafas perjuangan makin menipis.

Tiketmu menuju Alaska sudah di tangan. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi besok kecuali Tuhan.

Minggu, 08 Juli 2012

kepada B


pagi itu aku tidak melihat ada secangkir kopi. atau suara tukang roti yang bersemangat naik sepeda. hanya aku dan kamarku yang dingin. tidak ada namamu di missed call, ataupun mention di Twitter. butuh 20 menit untuk akhirnya sadar betul bahwa ini sudah seminggu. aku tidak tahu kemana kamu pergi. B, aku sudah melakukan semuanya. aku selalu menanyakan kabarmu, walaupun ya, aku sibuk. tapi hidung dan bola matamu selalu mampir ke ingatanku, setiap aku harus menyelesaikan setumpuk pitching.... aku merindukanmu, B. tapi aku tidak mau bilang. 

aku masih ingin terlihat keren. ah, shit. kamu hilang karena ini.

pasti kamu sedang menangis. mendengarkan lagu-lagu yang membuat bola matamu sebesar bola tenis. kamu dimana sih? 

semalam aku mabuk, B. dan duduk di atap rumah sampai pukul tiga. namun ini tak membuat pikiranku jelas. sangat keruh, dan acak-acakan. apa yang sesungguhnya sedang kamu lakukan? apa yang kamu pikirkan? 

cepatlah pulang, B. berhenti menghukumku….

J



J atau Alaska


"mengapa begini….."

B bertanya dalam hati. di tengah ruang makan. menunggu J yang berjanji datang sebelum pukul dua belas. semua lagu sudah diputar, film kesukaan telah habis ditonton, di sofa yang bisu namun berbahan spons, menanti J dengan sebuah janji. iya janji, ingin sekali memaki si janji, karena tak pernah ditepati.

anggur ini hampir habis, seteguk lagi lalu B berjanji akan mengunci pintunya, dan memilih tidur sendiri. tangan kirinya menggengam sebuah tiket menuju Alaska. sebagai jawaban atas pertanyaannya, dalam beberapa minggu ini.

B berjalan menuju kloset. beberapa mantel bulu dan sepatu boots telah dilipatnya dalam koper. 
yang akan memeluknya dalam perjalanan menuju jawaban. sebagai benda mati yang mampu menghangatkan.

telepon berbunyi,

"Halo B sayang, aku gak bisa ke tempatmu sekarang, klien tiba-tiba minta ketemu di bar X. Besok aku pasti kesana. 
I love you."

air mata B perlahan menetes, yang telah diurungkan selama seminggu, kini turun tanpa malu.

"see you, sayang."




Kamu hanya tidak tahu...


bahwa bintang itu biru
bahwa dedaunan merah jambu
bahwa kereta ini menuju Alaska
bahwa aku tertawa melihat kau menerka-nerka

bahwa merelakan adalah hal paling mudah sedunia
bahwa menangis adalah hal paling membahagiakan selautan
bahwa suara yang tertahan tidak membuatku mati kehabisan napas
bahwa aku telah bahagia bersama bayangan di belakang pintu
bahwa aku sedang sibuk berbohong padamu



Kamu hanya tidak tahu itu.

Selasa, 08 Mei 2012

J dan B dan udara abu-abu

namanya J. dia tidak terlalu suka makan. katanya lebih baik tidak makan nasi daripada tidak boleh menghabiskan udara abu-abu sebungkus setiap hari. bisa stress, begitulah.

ada perempuan yang selalu menemani J kemana-mana, naik turun tangga, memegang bajunya erat-erat, seolah selalu lekat. perempuan itu bernama B, rambutnya terurai panjang terkadang sengaja dibuat lurus agar terlihat tirus.

'kamu mau makan apa sayang?' ujar J pada B, sambil membuka kotak merah dan meraba-raba kantong kecil di jeansnya.

'nanti saja.' B membalas setengah mengerutkan alis.

ini bukan soal tidak sayang! dan tidak mengerti! tapi aku seperti bunuh diri! berlama-lama dengan kamu dengan hidung terpatri pada racun yang sibuk menari-nari, di udara!


B tercekat sendiri karena pikiran yang diteriakkannya dalam hati. mana berani dia, pacarnya bisa balik memarahi, atau sekadar membalikkan meja lalu pergi, meninggalkan B sendiri. lebih baik B duduk terpaku dan sedikit-sedikit mencuri udara segar yang tak tahu ada dimana lagi.

'rambut aku bau asep, sayang'

'mana sini, engga ah masih harum'

J tidak mengerti poin B, dan B memilih untuk diam. sementara J menghisap lalu mengumpulkan tenaga dan menghembuskan udara abu-abunya. ada rasa tenang di sana. kebebasan.

'kamu gak mau berhenti?'

'belum bisa, sayang.'

'kenapa?'

'yah, masih pengen aja.'

'emang rasanya gimana?'

'bebas, sayang. bebas.'

'kalau bebas, kenapa harus jadi kewajiban? bukannya kebebasan yang wajib itu no longer bebas ya, sayang?'

J memandang lurus B. dan sedikit terkekeh. kemudian kembali menghisap dalam-dalam udara abu-abunya.

'udah ah jangan ngomongin ini lagi, aku bakal berhenti. tapi nanti. pasti sayang, pasti.'

'aku suka janji itu. tapi lebih suka lagi kalau setelah itu kamu segera melakukan sesuatu.'

J mengusap-usap rambut B yang kembali meringkel. nampaknya lembaran rambut itu turut jengkel akan kompromi tadi yang tak memberi solusi. kemudian dua mangkuk bakso datang. J menginjak udara abu-abunya dan mengajak B berdoa bersama.



'I love you, sayang.'



Senin, 07 Mei 2012

17

menangis bukan menyerah, tetapi istirahat sejenak dari desakan yang menghimpit tubuhmu, dan pikiranmu.

aku belum menyerah, dan belum juga menangis. aku masih ada di titik awal. titik 17 hari menjelang eksekusi. aku masih mengikat tali sepatu. belum menyiapkan kuda-kuda apalagi bersalaman dengan lawan. pertandingan ini bisa berjalan pelan-pelan, asal strategi sudah kau pegang kuat di tangan.

tanganku sudah siap-siap menyeka mata, namun tak kunjung basah. sepertinya aku terlambat.

Sabtu, 21 April 2012

Batu karang

Dentum sunyi yang tak mampu dibendung memecah guratan alis menukik ke atas. Kumpulan awan gelap menutup wajahmu yang seraya pergi sebelum dendang pada langit dihabiskan.

Mereka percaya bahwa rumah yang kokoh harus dibangun di atas batu karang, bukan pasir pantai. Namun bait-bait klise itu hanya dapat berteman dengan buku lama yang tersimpan di api kemarahan.

Aku yang tengah marah. Aku yang tengah tak peduli akan petuah. Aku yang kini menghirup dalam-dalam sisa awan gelap yang kau hembuskan sebelum pergi, memilih untuk mengumpulkan batu karang - yang seingatku ada dalam petuah lama - untuk kulemparkan padamu jika kau benar-benar datang lagi.

Aku tidak berjanji. Aku menanti.

Sabtu, 14 April 2012

perihal pasta gigi

beberapa orang kuberikan pertanyaan ketika sedang duduk bersampingan; yang setelah ditanyakan malah balik memandangku. seperti berpikir apakah jiwa dalam anak ini sesuai dengan umurnya...

'kalau kamu sedang ingin sikat gigi, pasta giginya dipencet dari bawah, atas, atau asal asalan?'

.....................

beberapa orang tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala dan mengatakan seringkali asal-asalan memencet pasta gigi. namun dari riset kuantitatif ini aku menemukan hanya ada dua orang yang menekannya dari bawah, bahkan marah jika di rumahnya ada yang asal memperlakukan pasta gigi.

lalu mereka balik bertanya padaku, 'artinya apa Sen?'
aku diam. dan bingung. kenapa aku menanyakan itu dan untuk apa ya? beberapa hari ini ketika menggosok gigi, aku sibuk memikirkan hal ini. kurasa mereka masing-masing punya alasannya.


jahil mencoba untuk scroll-scroll weheartit.com dan kutemukan jawabannya.




ps: tipe pasta gigi yang manakah kamu?



Rabu, 11 April 2012

h?

kamu ada di titik itu. pistol di tanganmu, dan pelatuknya menunggu untuk kau tarik. fenomena hidup yang katanya hanya terjadi satu kali, namun setiap kejadiannya berpola tapi tak pernah sama, seperti juga kelumit masalahnya, membuatmu tengah bersandar pada dinding otak. maaf, aku lupa, otakmu tak punya sandaran. sepertinya kau tengah mencari sinar dalam jejaring duri yang sudah membuatmu berdarah banyak. aku melihat rentetan gigi dalam senyum ambigu. kau berpikir sambil tertawa, namun menyisakan kantung mata sebesar asam jawa.

titik ini membawamu pada fase status quo. otakmu terdiam sejenak menanti tanganmu yang menentukan keputusan. namun hanya senyum yang berkolaborasi dengan air mata yang kau punya. banyak yang bilang kau bodoh, dan kau tetap melakukan hal yang sama. dan saat ini perutmu bergejolak, ingin muntah. memuntahkan semua serapan yang selalu kau hisap. berbelas tahun lamanya.

"Aku lelah..."

sudahlah, tarik saja pelatuknya, dan arahkan pada benda di dekat lehermu itu. dia yang sudah lama ingin mati, namun tetap ada karena hidup yang keras kerap kali memberinya nafas segar. biar sajalah dia mati, memang sudah saatnya dia berhenti. tidak apalah jika setelah semua ini selesai, kau lupa tersenyum, menangis, atau berteriak kesakitan. karena semua membawa petaka, dan berujung pada penyesalan semata. kamu sudah terlalu jauh. pulanglah, tarik pelatuknya dan biarkanlah kini dia beristirahat.


"Selamat tinggal..."


Dor.

segelas teh tawar hangat

aku suka minuman manis. yang fancy. yang ada banyak warna dan dingin. rasanya manis dan menyenangkan. namun tidak selalu menyenangkan sepertinya, karena sering buat tenggorokan gatal, batuk, dan payahnya malah jadi demam. ternyata minuman tidak hanya untuk melepaskan dahaga, atau menimpa kepanikan karena pedasnya cabai merah. padahal, kau bisa saja memesan segelas teh tawar hangat. sangat sederhana. tidak manis, tapi menenangkan, murah pula. bahkan kalau pesan di warung makan, kau tak perlu memberi sepeserpun uang.

pelukmu juga begitu.




ps: aku ingin segelas peluk tawar hangat. tidak. segayung saja. mumpung gratis. :-)

Selasa, 27 Maret 2012

permen karet

'ini permen yang sangat enak, Nak. Bentuknya bulat-bulat, warna warni, saat kau memakannya, permen ini akan ikut memberontak di dalam mulutmu. Rasanya manis sekali, kau akan memamerkan gelembung yang bisa dibuat dengan permen ini -- pada teman-temanmu. Ayo cepat ambil.'



nenek Rumpelstilzkin menyodorkan mangkuk di tangannya dan menyuruh Scott mengambil salah satu isinya. Scott belum pernah melihat permen lain selain gula merah yang dicairkan. matanya terlihat berbinar-binar memandang pemberian nenek berhidung mancung bintik-bintik itu. ia tidak ragu, siapa anak-anak yang pernah ragu terhadap permen? kalau kamu ragu, berarti kamu sudah dewasa.

Scott berlari pulang karena hari mulai gelap dan jangkrik bernyanyi kencang menandakan hutan sudah dialihkuasakan. penduduk desa mengatakan jika hari sudah gelap seringkali muncul serigala pemangsa anak kecil, yang bersarang di dekat tempat tinggal nenek Rumpelstilzkin. entahlah, mungkin nenek Rumpelstilzkin yang empunya serigala-serigala itu sehingga tak mungkin ia ikut dimangsa, lagipula ia sudah tua.

sampai dirumah, ibu Scott sedang mengaduk sup asparagus dan ayah Scott membetulkan loteng yang atapnya dimakan rayap. Scott berlari ke kamarnya dan menjaga agar permen karet ini tidak diketahui ayah ibunya. Scott pernah tersedak permen karena begitu senang saat memakannya -- ya, makan sambil tertawa. sehingga ibunya tidak pernah lagi mengijinkan Scott makan permen gula merah. hanya boleh makan sup atau jagung rebus.

perlahan Scott memasukkan permen karet ke dalam mulutnya. sambil terduduk melipat kaki, ia mengunyahnya perlahan. 'Manis sekali......' bisik Scott.

ia mengunyahnya selama beberapa hari. ketika sarapan hingga makan malam, ia menyembunyikan permen karet itu di balik giginya. setelahnya, ia kembali mengunyahnya sampai tertidur.

beberapa minggu setelahnya, Scott bosan karena giginya harus terus melawan permen karet yang menggeliat apalagi, sudah tidak manis lagi. Scott melipat mukanya sambil terus mengunyah.

'awalnya kelihatannya begitu asik, ah tapi aku lelah mengunyah.'

Scott pergi ke tepi danau di dalam hutan dan akhirnya membuang permen karetnya. di balik pohon maple,  nenek Rumpelstilzkin tertawa cekikikan. 'tak akan kuberi lagi sampai kau rela jadi santapan serigala-serigala manisku, Scott...'

kapas

seperti sedang menggenggam permen kapas yang pelan pelan hilang dan lengket di telapak tangan -- aku belum sempat mengunyahnya atau berfoto dengannya, iya seperti tersenyum tenang dan berkata 'kau terlambat, Senja..'

mungkin dia yang datang terlalu pagi, atau mungkin aku yang terlalu banyak tertidur, belakangan ini seperti disihir oleh bantal kuning di sudut kamar yang memaksa untuk ditiduri sampai tengah hari. aku tidak mau minta maaf, lebih baik kita terdiam bersama, dan aku akan memakan tanganku -- yang mungkin masih menyisakan manisnya permen kapas itu.

Rabu, 14 Maret 2012

comfort zone

keluarlah dari comfort zone!

memangnya apa salahnya berdiam di comfort zone? bermain gitar dengan teman-teman lama di depan api unggun? mungkin lebih baik petuah itu ditambah dengan sedikit kalimat,

keluarlah dari comfort zone yang semakin menyesatkanmu!

lalu pelan-pelan mereka yang menyuntikkan kesedihan namun candu, akan pergi ke pusat rehabilitasi.

mari bersalaman, adil kan?

Selasa, 13 Maret 2012

vivo per lei!

tatapan mata yang begitu kuat membuat serasa telanjang. tidak berperisai untuk melawan. memilih pasrah dan menunduk. ini salahku, begitu konklusinya. namun jika sebenarnya tanganmu, yang merupakan perisai abadimu, mampu mengilah tatapan tajam itu, kau bisa tetap pakai baju. malahan bisa tampak seperti pakai baju yang paling kamu sukai, yang ada di toko dekat sekolahmu itu. asal kamu berani, dan kamu percaya kamu benar, dan kamu vokal. mungkin sebenarnya kebenaran itu dekat denganmu, dan kemenangan sedang turun ke atas kepalamu. selamat berjuang.

lamunan seorang J

'................'

kali ini tak sedikitpun kata yang kudengar dari bibirnya. ia memutuskan untuk mengatup dan melipat tangan sepanjang hari itu. meski terdiam, dia sibuk batuk-batuk. aku menawarkan sapu tanganku yang berwarna biru tua dengan sulaman huruf J diujungnya -- namun ia memalingkan muka.

ia selalu bilang dirinya bukanlah tipe vokal. ia memilih meredam emosi lewat wajahnya, seperti menangis ketika sedih, menggemeretukkan gigi ketika marah, bahkan tertawa sampai hampir muntah ia lakukan jika leluconku cukup lucu. ia begitu diam, katanya karena ia terlalu nyaman berada di dekatku sehingga tidak ingin mengucapkan sepatah katapun. namun ini cukup menyiksa, karena aku serasa belum sepenuhnya mengenal sosok manusia yang selalu kugandeng tangannya, selama dua bulan terakhir ini.

lalu kenapa aku memilihnya? insting.

aku percaya dia adalah tulang rusukku yang hilang. tidak usah ditanya lagi. ini harga mati. dia jodohku. aku mungkin konservatif karena menganggap sekali berpacaran untuk selamanya, namun aku bersyukur karenanya. memilihnya, bukan, maksudku menemukannya diantara ratusan ribu manusia yang pernah kutemui, seperti menemukan diriku yang seutuhnya. tubuh dan pikiranku menjadi satu. mengatakan satu. menyuarakan satu. cinta.

aku tersenyum memandang jaring-jaring yang menyelimuti gawang futsal di depanku. lamunanku terpecah karena mendengarnya terbatuk-batuk lagi di sebelah kiriku. ia mengambil tasnya untuk dipeluk erat-erat seolah ingin memohon pada tas itu, untuk mengakhiri batuk yang tak kunjung reda.

'mengapa kau tak memohon padaku? aku kan kuliah kedokteran..' pikirku. tapi mungkin memang saat ini harus seperti ini. merenung sebentar. jika sudah lelah, barulah saling bermaaf-maafan dan kembali pulang ke kasih sayang.

hari ini begitu kosong. belum ada tawanya yang terekam di mataku. aku menunggu. mungkin karena hal itu, ya karena itu. aku melihat kedua tangannya, dan tersenyum getir.

sebuah hari tanpa cat kuku.

Minggu, 04 Maret 2012

bumerang

ada yang patah

senyummu.

awalnya ayunan itu menggendongmu dan mengajakmu tertawa, namun perlahan angin juga setuju untuk menambah alunan maju mundur tubuhmu. kakimu tak kuasa berpijak di tanah setengah basah -- kau menutup mata seolah terbang namun tetap berpegang.

DIAM, ANGIN!

sepertinya angin kerasukan, ayunan merah tua ini membawamu terlalu kencang, kau mencoba untuk tak minta tolong siapapun, dan jangan sampai terjerembap, malu katamu. kau laki-laki, dan tidak mau sekali ditertawai jika kedapatan terjatuh.

hei, kau tak bisa bohong. matamu menyiratkan ketakutan, dan mulut terkatup rapat tertanda ingin sekali muntah, muntah pada angin, pada ayunan, pada tanah setengah basah, dan padaku. kau berusaha bertahan sekencang mungkin melawan angin dengan berpegang pada tali ayunan yang membuatmu berdarah, dan telapak tanganmu terkelupas, kakimu kebas karena tertampar angin. aku menungguimu sampai lima setengah jam kala itu, langit mulai biru tua dan angin ijin pulang karena bosan dan memilih untuk makan malam.

kau bernapas dengan baik dan perlahan melepaskan tali ayunan yang kini berwarna merah, meletakkan dua kakimu di tanah basah, pelan pelan berjalan mengambil balok kayu dan berjalan cepat dan berlari dan berteriak lurus ke arah mataku.

'rasakan itu, bodoh! hati-hati menulis cerita, mereka yang tertuang bisa jadi bumerang!'


lalu aku menikmati bintang dan burung dekat kepalaku, dan cairan berwarna merah pekat. sepertinya aku sudah sampai di tempat istirahat.

Senin, 27 Februari 2012

n

ketika aku berkata bahwa aku tak bisa lagi menulis, saat ini aku tengah menulis. saat aku tidak mengetik ini, aku berbicara, aku membunyikan tulisan dalam ucapanku. saat aku terdiam, aku merajut tulisan dalam otakku yang seperti siput. saat aku bermimpi, aku tidak menulis, tidak berbicara, tidak merajut tulisan di dalam otak. aku diatur, dan mimpi disiapkan, dan aku disuguhkan, dan ketika bangun aku lupa ini apa. dan sekarang aku bingung siapa yang berdalih bahwa aku tak lagi ingin berbicara, atau bercerita dalam ungkapan sajak lama. aku hanya ingin tidur di bawah kolong meja, aku tak tahu sampai kapan, berhentilah bertanya. tunggulah. tunggu di situ dan jangan bergerak -- apalagi berpaling. aku tengah mengusap pelan-pelan air yang terus membasahi daguku. mereka keluar dengan liar meski telah kumarahi. aku hanya ingin diam sebentar, diam di dalam mimpi, aku ingin membiarkan aku disuguhi, belum saatnya berusaha untuk tidak jatuh lagi. iya, aku ingin jatuh sebentar di dalam mimpi, yang disediakan di bawah kolong meja. tunggu.

bodoh

hari itu dia memakai kuteks ungu tua dengan sedikit memar di wajahnya. baju renda-renda hitam dengan bagian punggung yang sudah robek -- entah siapa pelakunya. ia membetulkan maskaranya yang telah luntur sampai dagu. hari itu tidak hujan, namun ada badai yang menusuk tulang. dia membawa payung yang katanya dapat menghalau panas matahari dan tangisan langit -- tapi tak bisa halau air yang ada di pipinya. dia berjalan dengan gontai ke arah lorong gelap berisi tong sampah dan anjing-anjing lapar yang meraung-raung mencakar aspal. dia ingin teriak namun suaranya parau, lalu dia tertawa kencang-kencang sampai tergema ke seluruh kota dan membangunkan lampu-lampu apartemen. 'ini hidupku! masa bodoh dengan kalian semua!' teriaknya dengan suara melengking dan hidung yang basah. mereka yang memandangnya dari jendela menganggapnya bagian dari orang-orang gila. dia masih terus berjalan ke lorong itu, lorong gelap yang tak pernah ada yang tahu ujungnya. sepatunya terlalu tinggi untuk dia berlari, ditambah tidak ada makanan yang masuk ke dalam tenggorokannya dalam empat hari itu. payungnya kemudian dilempar, bersama dengan sepatu tingginya, dan baju renda-rendanya yang usang, kini dia telanjang. 'ini hidupku! masa bodoh dengan kalian semua!' teriaknya lagi, dan beberapa orang di apartemen yang tengah bermimpi menganggap ini deja vu. dia berlari menuju ujung lorong gelap itu dan berteriak ketakutan setengah senang. karena di ujung lorong itu ada jalan mati -- jalan menuju kematian, dengan jurang yang menganga di bawahnya, menunggu mangsaan yang akhirnya datang juga, yang kini telah menyerah pada kehidupan yang dahulu dia bangga-banggakan. beberapa orang di apartemen sempat mendengar sayup-sayup suaranya yang parau, 'ini matiku! masa bodoh dengan kalian semua!'