Senin, 27 Februari 2012
n
ketika aku berkata bahwa aku tak bisa lagi menulis, saat ini aku tengah menulis. saat aku tidak mengetik ini, aku berbicara, aku membunyikan tulisan dalam ucapanku. saat aku terdiam, aku merajut tulisan dalam otakku yang seperti siput. saat aku bermimpi, aku tidak menulis, tidak berbicara, tidak merajut tulisan di dalam otak. aku diatur, dan mimpi disiapkan, dan aku disuguhkan, dan ketika bangun aku lupa ini apa. dan sekarang aku bingung siapa yang berdalih bahwa aku tak lagi ingin berbicara, atau bercerita dalam ungkapan sajak lama. aku hanya ingin tidur di bawah kolong meja, aku tak tahu sampai kapan, berhentilah bertanya. tunggulah. tunggu di situ dan jangan bergerak -- apalagi berpaling. aku tengah mengusap pelan-pelan air yang terus membasahi daguku. mereka keluar dengan liar meski telah kumarahi. aku hanya ingin diam sebentar, diam di dalam mimpi, aku ingin membiarkan aku disuguhi, belum saatnya berusaha untuk tidak jatuh lagi. iya, aku ingin jatuh sebentar di dalam mimpi, yang disediakan di bawah kolong meja. tunggu.
bodoh
hari itu dia memakai kuteks ungu tua dengan sedikit memar di wajahnya. baju renda-renda hitam dengan bagian punggung yang sudah robek -- entah siapa pelakunya. ia membetulkan maskaranya yang telah luntur sampai dagu. hari itu tidak hujan, namun ada badai yang menusuk tulang. dia membawa payung yang katanya dapat menghalau panas matahari dan tangisan langit -- tapi tak bisa halau air yang ada di pipinya. dia berjalan dengan gontai ke arah lorong gelap berisi tong sampah dan anjing-anjing lapar yang meraung-raung mencakar aspal. dia ingin teriak namun suaranya parau, lalu dia tertawa kencang-kencang sampai tergema ke seluruh kota dan membangunkan lampu-lampu apartemen. 'ini hidupku! masa bodoh dengan kalian semua!' teriaknya dengan suara melengking dan hidung yang basah. mereka yang memandangnya dari jendela menganggapnya bagian dari orang-orang gila. dia masih terus berjalan ke lorong itu, lorong gelap yang tak pernah ada yang tahu ujungnya. sepatunya terlalu tinggi untuk dia berlari, ditambah tidak ada makanan yang masuk ke dalam tenggorokannya dalam empat hari itu. payungnya kemudian dilempar, bersama dengan sepatu tingginya, dan baju renda-rendanya yang usang, kini dia telanjang. 'ini hidupku! masa bodoh dengan kalian semua!' teriaknya lagi, dan beberapa orang di apartemen yang tengah bermimpi menganggap ini deja vu. dia berlari menuju ujung lorong gelap itu dan berteriak ketakutan setengah senang. karena di ujung lorong itu ada jalan mati -- jalan menuju kematian, dengan jurang yang menganga di bawahnya, menunggu mangsaan yang akhirnya datang juga, yang kini telah menyerah pada kehidupan yang dahulu dia bangga-banggakan. beberapa orang di apartemen sempat mendengar sayup-sayup suaranya yang parau, 'ini matiku! masa bodoh dengan kalian semua!'
Minggu, 19 Februari 2012
sebuah post lama di hari pertama libur semester empat
hari ini gue menghadapi pagi yang kosong, yang sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi
gak ada tanggalan yang harus dikejar, atau orang-orang yang harus diajak main
lalu M mengajak gue untuk ke tempat yang cukup jauh
gue teringat gue ada janji dengan R, nonton di bioskop baru dekat rumah
namun sepertinya R gak dibolehin mamanya pergi, dan dia ngambek juga sama gue
bingung, akhirnya gue mengiyakan ajakan M untuk ketempat yang jauh itu
gue janjian dengan M di stasiun paling akhir
di perjalanan menuju stasiun itu, gue menyalakan ipod dengan playlist BANGUN
yang supaya gue bangun dari sedih gak jelas, bengong gak jelas
dengan rambut yang baru di potong kemarin, gue berpetualang
lalu di kereta itu gue berangkat sendirian, dengan modal sok deket sama ibu-ibu, nanya peron dan jam berapa sekarang
di dalam kereta banyak orang tua muda yang membawa anak perempuannya, rata-rata 4 tahunan, yang sibuk berdiri di tempat duduk oranye
mereka tampak senang melihat jalanan yang motion blur, sambil loncat-loncat di paha bapaknya masing-masing
gue aman dengan ipod gue, volume maksimal, dan kadang lagunya bikin kaget
sampai. gue menunggu M sambil masih dengerin ipod
Like a g6 like a g6 na na na now I'm feeling so high like a g6
oke ini lagu pas nemenin gue nungguin M, di tengah keramaian-lautan manusia mencari kebahagiaan
lalu M datang
lalu kita naik bus trans dan mulai bercerita
lalu sampai di sebuah tempat yang mengingatkan gue pada cerita lama
dulu gue dan teman-teman gue jam 1 pagi ada di tangga-tangga ini, cerita-cerita hantu
lalu di sebelah kanan ada perempuan yang mabuk, dan tidur di sela-sela pahanya sendiri
gak ada yang jemput dia
tapi kami ada yang jemput, kami menginap di rumah salah satu temen gue itu
balik lagi ke M
tapi gue dan M kesana bukan untuk duduk-duduk di tangga
tapi nemenin M siaran tentang kampus gue di salah satu radio terkenal di Jakarta
tapi gue gak masuk ke dapur rekaman, dan menunggu di sofa merah, bersama kawanan anak SMA super ribut dan labil yang sedang foto-foto dengan slr milik salah satu-mereka sibuk foto jari mereka dan berusaha membuatnya jadi auto focus
setelah satu jam, M keluar dari dapur rekaman
seperti pahlawan, gue jadi wanita yang diselamatkan
M mengajak gue makan, di jam 3 sore itu
setelah makan, kami pindah ke tempat makan lain untuk cari colokan
dan kami pindah ke tempat makan di depan tangga-tangga tempat bercerita setan itu
kangen.
lalu di sana gue dan M bercerita sampai hampir gelap
tentang apa saja yang sudah kami lewatkan
kangen juga sama si M ini, udah lama gak liat dia
dia sibuk di kampus, gue sibuk bengong di rumah
hape gue mati, mungkin udah suratan buat gak ngecek-ngecek yang gak penting
lalu gue dadah-dadah sama M karena udah disuruh pulang sama kakak gue
lalu gue sama kakak gue naik kereta dingin ke arah rumah
tapi ternyata ke mall dulu
gue makan mie ramen super extra hot
tapi gak pedes ah, hati gue lagi dingin mungkin...
lalu pulang
lalu ada di sini
di kamar dingin dengan Crayon
gue sadar kalo selama ini gue berjalan sendiri
maksud gue, fisik jalan kemana-mana, ketempat ramai-ramai
tapi gue gak merasa ada di sana
gue memikirkan momentum-momentum lama
yang menunggu untuk dirindukan
lalu kotak bersinar ini gue nyalakan, lagu terpasang
nyeeeh, pipi gue basah, sial
lalu Crayon ngeliatin gue
gue keinget notes yang ada di dalam kado-yang isinya Crayon-di hari usia gue genap 20 tahun
"Semoga boneka beruang ini bisa nemenin lu di saat lu ngerasa sedih. Kalo lu nangis, peluk aja dia, biar dia yang ngapusin tangisan lu."
Iya, dia emang lagi ngapusin tangis-tangisan gue, karena gue ngelap air mata dan ingus gue ke bajunya dia, hehe.
Gue gak tau apa yang gue tangisin.
Tapi semakin gue mandang Crayon, matanya yang bulat seperti biji kelengkeng ini, minta buat ditangisin.
Sampai nangisnya berhenti, sampai sekarang, Crayonnya masih di pelukan.
Makasih banget loh teman-teman yang kasih Crayon buat gue. Ampuh.
Banyak yang kuatir katanya gue udah kejauhan berimajinasi, sampai ngira si Crayon ini hidup.
Tapi, cuma dia yang nemenin gue saat gue merasa lonely, cuma dia yang duduk beku nungguin gue meper ingus dan teriak di perutnya, cuma dia yang bersedia di pencet-pencet, gak protes, gak balik mencet.
Karena dia benda mati. Atau karena dia kasihan?
Hehehehe
gak ada tanggalan yang harus dikejar, atau orang-orang yang harus diajak main
lalu M mengajak gue untuk ke tempat yang cukup jauh
gue teringat gue ada janji dengan R, nonton di bioskop baru dekat rumah
namun sepertinya R gak dibolehin mamanya pergi, dan dia ngambek juga sama gue
bingung, akhirnya gue mengiyakan ajakan M untuk ketempat yang jauh itu
gue janjian dengan M di stasiun paling akhir
di perjalanan menuju stasiun itu, gue menyalakan ipod dengan playlist BANGUN
yang supaya gue bangun dari sedih gak jelas, bengong gak jelas
dengan rambut yang baru di potong kemarin, gue berpetualang
lalu di kereta itu gue berangkat sendirian, dengan modal sok deket sama ibu-ibu, nanya peron dan jam berapa sekarang
di dalam kereta banyak orang tua muda yang membawa anak perempuannya, rata-rata 4 tahunan, yang sibuk berdiri di tempat duduk oranye
mereka tampak senang melihat jalanan yang motion blur, sambil loncat-loncat di paha bapaknya masing-masing
gue aman dengan ipod gue, volume maksimal, dan kadang lagunya bikin kaget
sampai. gue menunggu M sambil masih dengerin ipod
Like a g6 like a g6 na na na now I'm feeling so high like a g6
oke ini lagu pas nemenin gue nungguin M, di tengah keramaian-lautan manusia mencari kebahagiaan
lalu M datang
lalu kita naik bus trans dan mulai bercerita
lalu sampai di sebuah tempat yang mengingatkan gue pada cerita lama
dulu gue dan teman-teman gue jam 1 pagi ada di tangga-tangga ini, cerita-cerita hantu
lalu di sebelah kanan ada perempuan yang mabuk, dan tidur di sela-sela pahanya sendiri
gak ada yang jemput dia
tapi kami ada yang jemput, kami menginap di rumah salah satu temen gue itu
balik lagi ke M
tapi gue dan M kesana bukan untuk duduk-duduk di tangga
tapi nemenin M siaran tentang kampus gue di salah satu radio terkenal di Jakarta
tapi gue gak masuk ke dapur rekaman, dan menunggu di sofa merah, bersama kawanan anak SMA super ribut dan labil yang sedang foto-foto dengan slr milik salah satu-mereka sibuk foto jari mereka dan berusaha membuatnya jadi auto focus
setelah satu jam, M keluar dari dapur rekaman
seperti pahlawan, gue jadi wanita yang diselamatkan
M mengajak gue makan, di jam 3 sore itu
setelah makan, kami pindah ke tempat makan lain untuk cari colokan
dan kami pindah ke tempat makan di depan tangga-tangga tempat bercerita setan itu
kangen.
lalu di sana gue dan M bercerita sampai hampir gelap
tentang apa saja yang sudah kami lewatkan
kangen juga sama si M ini, udah lama gak liat dia
dia sibuk di kampus, gue sibuk bengong di rumah
hape gue mati, mungkin udah suratan buat gak ngecek-ngecek yang gak penting
lalu gue dadah-dadah sama M karena udah disuruh pulang sama kakak gue
lalu gue sama kakak gue naik kereta dingin ke arah rumah
tapi ternyata ke mall dulu
gue makan mie ramen super extra hot
tapi gak pedes ah, hati gue lagi dingin mungkin...
lalu pulang
lalu ada di sini
di kamar dingin dengan Crayon
gue sadar kalo selama ini gue berjalan sendiri
maksud gue, fisik jalan kemana-mana, ketempat ramai-ramai
tapi gue gak merasa ada di sana
gue memikirkan momentum-momentum lama
yang menunggu untuk dirindukan
lalu kotak bersinar ini gue nyalakan, lagu terpasang
nyeeeh, pipi gue basah, sial
lalu Crayon ngeliatin gue
gue keinget notes yang ada di dalam kado-yang isinya Crayon-di hari usia gue genap 20 tahun
"Semoga boneka beruang ini bisa nemenin lu di saat lu ngerasa sedih. Kalo lu nangis, peluk aja dia, biar dia yang ngapusin tangisan lu."
Iya, dia emang lagi ngapusin tangis-tangisan gue, karena gue ngelap air mata dan ingus gue ke bajunya dia, hehe.
Gue gak tau apa yang gue tangisin.
Tapi semakin gue mandang Crayon, matanya yang bulat seperti biji kelengkeng ini, minta buat ditangisin.
Sampai nangisnya berhenti, sampai sekarang, Crayonnya masih di pelukan.
Makasih banget loh teman-teman yang kasih Crayon buat gue. Ampuh.
Banyak yang kuatir katanya gue udah kejauhan berimajinasi, sampai ngira si Crayon ini hidup.
Tapi, cuma dia yang nemenin gue saat gue merasa lonely, cuma dia yang duduk beku nungguin gue meper ingus dan teriak di perutnya, cuma dia yang bersedia di pencet-pencet, gak protes, gak balik mencet.
Karena dia benda mati. Atau karena dia kasihan?
Hehehehe
Sabtu, 18 Februari 2012
Intermezzo VII
"If i die tonight, I'd go with no regrets,
if it's in your arms, I know that I was blessed.
And if your eyes, are the last thing that i see
then I know,
the beauty heaven holds for me."
Sebuah kutipan lagu yang kubaca di novel remaja saat SMP yang cukup menguras air mata dan air hidung. seperti tertonjok rasanya, aku menangis keras di kamar Ayah kala itu, mengapa kisah ini begitu sedih, setelah seminggu kemudian, aku baru sadar ini hanya kisah rekaan semata. Namun kutipan ini begitu memorabel hingga sekarang -- 8 tahun setelahnya.
if it's in your arms, I know that I was blessed.
And if your eyes, are the last thing that i see
then I know,
the beauty heaven holds for me."
Sebuah kutipan lagu yang kubaca di novel remaja saat SMP yang cukup menguras air mata dan air hidung. seperti tertonjok rasanya, aku menangis keras di kamar Ayah kala itu, mengapa kisah ini begitu sedih, setelah seminggu kemudian, aku baru sadar ini hanya kisah rekaan semata. Namun kutipan ini begitu memorabel hingga sekarang -- 8 tahun setelahnya.
Selasa, 14 Februari 2012
untuk sesuatu yang bernama ngablu
di tengah malam, sehabis hujan.
teruntuk kamu, sesuatu yang krusial namun belum dipatenkan
terutama dalam menemukan banyak jawaban
kamu yang bernama ngablu
'Senja, ngablu itu apa sih?' tanya Ruth, sahabatku yang tinggal cukup lama di Bandung. Dia mungkin dekat dengan istilah-istilah Jawa Barat. Maneh, lieur, tos, goreng, ulin, mengerti dia dengan pembendaharaan Sunda. Namun kurang familiar dengan kata ini. Dia penasaran karena berulang kali aku menyebutkannya dalam setiap curhatanku. Aku diam sebentar, satu menit.
'Ehm, Ruth. Sulit dijelaskan. Ngablu itu seperti keadaan sadar namun tak sadar. Kamu berpikir sambil tetap memandang sekeliling. Mungkin sambil menulis atau menghabiskan beberapa Choki-Choki secara betulan namun pikiranmu membuncah pergi ke imajinasimu sendiri. Kamu akan memikirkan sebuah hal, membuat mindmap dalam otakmu, bertanya dalam hati, dan jawaban bisa dapat bisa tidak. Tergantung sehebat apa kamu bisa ngablu.'
Ruth tampak masih kurang puas dengan jawabanku, dia membuka mulut ingin bertanya lagi, namun seperti seolah kekenyangan, ia menguap dan mengiyakan saja. 'Terserahmu lah, Jah. Aku ngikut saja.'
Ngablu seperti hari itu, kamu main ke rumah dan kita hendak menonton film apa saja di bioskop, 2 film kita pantengi kala itu. Setelahnya kita duduk di mobil, parkiran teratas, terdiam dalam lamunan lagu-lagu teduh dan gerimis.
Ngablu bisa kita lakukan sambil diam, mendengarkan lagu, mendengarkan ceritamu, atau saling bercerita tak berbenang merah. Kita berpikir sambil melakukan sesuatu -- atau diam sama sekali. Mencari jawaban yang perlu berimajinasi untuk mendapatkannya. Dan terkadang dia hilang seperti permen kapas.
Lalu kita menidurkan waktu -- atau sebaliknya? Karena saat ngablu tengah berlabuh kita sadar bahwa langit telah berwarna oranye keunguan, matahari bergerak mundur, sehingga kita juga harus pulang. Sebal sekali! Tapi kamu berjanji besok akan ketemu lagi.
Ngablu hari ini adalah dasar dari realitas hari esok - Anonim
Rabu, 08 Februari 2012
untuk Xena yang tak pulang sebulan
kupanggil kau Xena, The Warrior Princess
karena bagiku kau perempuan mandiri yang tangguh dan berotot
sungguh terasa cepat, aku menghentikan perkenalan ini
karena setiap hari kita mengenal satu sama lain
dan berakhir hari ini
kau terdiam, di baskom merah kusam pekarangan
dengan air seperempat dari selang
aku menunggu moncongmu keluar dari cangkang, kemudian sibuk berkeliling
sempat ingin mundur, terlalu sedih untuk mengingatmu, sayang.
kita pernah bergandengan tangan
ketika aku mengisi baskommu hingga meluap
lalu kau berenang sambil menancapkan kuku lentikmu pada jariku
dan kita berputar, melihat sekeliling
bak ibu yang menemani anaknya berenang
aku cinta kamu.
dan ketika kau mulai tidak suka pil hijau
aku memberimu suiran ayam goreng dan roti tawar
kau bosan dengan rutinitasmu dan ingin yang baru
meski akhirnya kau menyerah saat kuberikan pil hijau lagi - demi kesehatanmu
ketika aku sudah punya yang lain
kau nampak terdiam dalam baskom merah usangmu
sesekali aku melihat dan bertanya dengan kejamnya,
"Xena, kamu belum mati, kan?"
sesegera mungkin kau keluarkan moncongmu dari cangkang menuju permukaan
seolah ingin berkata, "Aku masih di sini, Senja".
kau mulai terlihat lebih kendur dari biasanya
baskom merah isi air seperempat mulai berwarna cokelat
aku melupakanmu
lupa melemparkan pil-pil hijau itu
melupakan ketulusanmu menungguku
melupakan momen berpegangan tangan milik kita
bagaimanapun, pergi adalah sebuah keputusan, yang akhirnya kau lakukan.
dari pekaranganku
dari kehidupanku
petualangan yang kau butuhkan, kau rindukan, mungkin ada di luar sana
tanpa kutahu dimana kau berteduh
mencari pengganti pil hijau saat lapar
mendapatkan orang yang ingin menggosok-gosok cangkangmu, sampai kau tertidur
tahukah kamu, Xena?
pil-pil hijaumu masih tersusun rapi dalam botol plastik, di bawah akuarium
baskom merah usang masih ada di pekarangan, tidak dengan air seperempat, namun ia menunggumu
foto-foto terdahulu juga menyesakkanku, mengundangku untuk hadir di perjamuan rasa bersalah dengan kostum jas pink elektrik
aku memikirkanmu seharian, sayang. Merindukanmu.
sempat aku membatin, "Aku rela lihat setan. Tapi kamu yang jadi setannya, Xena. Kau bermain di baskommu sementara aku sudah tahu kamu hantu."
ketika terdiam hanya membuatku ingin menguras air mata, aku berusaha mencari riuh yang semu
ketika kepulanganku menuju pekarangan kini disambut baskom merah usangmu yang sudah kering, seolah ikut mati karena tersiksa menunggumu.
Pulanglah, Xena. Aku mohon. Kapan saja. Setelah kau lelah berpetualang dan ingin kembali pulang. Kembali, Xena. Aku dan baskommu sangat rindu......
karena bagiku kau perempuan mandiri yang tangguh dan berotot
sungguh terasa cepat, aku menghentikan perkenalan ini
karena setiap hari kita mengenal satu sama lain
dan berakhir hari ini
kau terdiam, di baskom merah kusam pekarangan
dengan air seperempat dari selang
aku menunggu moncongmu keluar dari cangkang, kemudian sibuk berkeliling
sempat ingin mundur, terlalu sedih untuk mengingatmu, sayang.
kita pernah bergandengan tangan
ketika aku mengisi baskommu hingga meluap
lalu kau berenang sambil menancapkan kuku lentikmu pada jariku
dan kita berputar, melihat sekeliling
bak ibu yang menemani anaknya berenang
aku cinta kamu.
dan ketika kau mulai tidak suka pil hijau
aku memberimu suiran ayam goreng dan roti tawar
kau bosan dengan rutinitasmu dan ingin yang baru
meski akhirnya kau menyerah saat kuberikan pil hijau lagi - demi kesehatanmu
ketika aku sudah punya yang lain
kau nampak terdiam dalam baskom merah usangmu
sesekali aku melihat dan bertanya dengan kejamnya,
"Xena, kamu belum mati, kan?"
sesegera mungkin kau keluarkan moncongmu dari cangkang menuju permukaan
seolah ingin berkata, "Aku masih di sini, Senja".
kau mulai terlihat lebih kendur dari biasanya
baskom merah isi air seperempat mulai berwarna cokelat
aku melupakanmu
lupa melemparkan pil-pil hijau itu
melupakan ketulusanmu menungguku
melupakan momen berpegangan tangan milik kita
bagaimanapun, pergi adalah sebuah keputusan, yang akhirnya kau lakukan.
dari pekaranganku
dari kehidupanku
petualangan yang kau butuhkan, kau rindukan, mungkin ada di luar sana
tanpa kutahu dimana kau berteduh
mencari pengganti pil hijau saat lapar
mendapatkan orang yang ingin menggosok-gosok cangkangmu, sampai kau tertidur
tahukah kamu, Xena?
pil-pil hijaumu masih tersusun rapi dalam botol plastik, di bawah akuarium
baskom merah usang masih ada di pekarangan, tidak dengan air seperempat, namun ia menunggumu
foto-foto terdahulu juga menyesakkanku, mengundangku untuk hadir di perjamuan rasa bersalah dengan kostum jas pink elektrik
aku memikirkanmu seharian, sayang. Merindukanmu.
sempat aku membatin, "Aku rela lihat setan. Tapi kamu yang jadi setannya, Xena. Kau bermain di baskommu sementara aku sudah tahu kamu hantu."
ketika terdiam hanya membuatku ingin menguras air mata, aku berusaha mencari riuh yang semu
ketika kepulanganku menuju pekarangan kini disambut baskom merah usangmu yang sudah kering, seolah ikut mati karena tersiksa menunggumu.
Pulanglah, Xena. Aku mohon. Kapan saja. Setelah kau lelah berpetualang dan ingin kembali pulang. Kembali, Xena. Aku dan baskommu sangat rindu......
![]() |
| "Aku masih di sini, Senja. Dalam anganmu." |
Senin, 06 Februari 2012
untuk yang sakit
aku akan memperhatikanmu setiap hari,
menyuapimu bubur kesukaan dan melap dagumu yang belepotan,
mengganti kausmu yang basah karena keringat,
mengusap-ngusap punggungmu dengan bedak bayi;
menghitung bulu matamu selagi kau tertidur,
menggenggam punggung tanganmu kecuali saat kau minta ke kamar mandi,
apa saja, apa saja;
menyanyikanmu twinkle twinkle little star,
sambil mengunyah honey stars sama sama,
menunggu,
berdoa,
apa saja;
namun aku tidak bisa menyembuhkanmu, aku tidak kuliah kedokteran.
ps: sembuh! amin.
Sabtu, 21 Januari 2012
untuk dua malaikatku
Malaikat itu ada yang kelihatan dan tidak kelihatan. Yang selalu terlihat dan ada disampingku, Papa dan Mama.
Tentu saja mereka malaikat! Namun bukan yang bersayap dan pakai jubah putih, tersenyum dengan kilauan sinar yang hangat, tidak. Papa malaikat berkumis dengan rambutnya yang belang-belang hitam putih, yang lebih senang mengendarai sepeda ontel dibandingkan mobilnya, yang selalu bertanya padaku 'Sudah berapa buku yang kamu baca?', dan pernah sakit saat kupaksa makan cokelat, maklum, ia tidak suka makanan manis, dan sangat senang jika aku memberinya kuaci, atau edamame rebus.
Mama malaikat dengan rambut keunguan (baru-baru ini mengecat rambutnya), selalu memburu tas dan sepatu di manapun ia pergi, senang mengaduk bahan makanan di dapur menjadi sesuatu yang luar biasa, tertawa keras-keras jika aku menceritakan lelucon padanya, ya. Mama cekatan, ceria, dan masih seperti anak muda.
Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Papa dan Mama sudah menikah selama 24 tahun. Papa 51 tahun dan Mama 50 tahun. Namun keduanya masih seperti anak muda-yang dimabuk cinta. Jangan tanya pada Mama tentang bagaimana Papa melamarnya! Dua hari dua malam tak akan cukup untuk Mama menceritakan semua hal-hal manis yang terjadi diantaranya dengan Papa saat masa pacarannya. Huh, iri sekali.
Bagiku Papa adalah si Tahu Segalanya. Sejak kecil, jika aku duduk dengan Papa, memandang langit, lalu mengobrol sedikit tentang berita di tv, ataupun hal-hal aneh yang ingin kutanyakan, aku merasa pintar. Sepintar Papa. Ia banyak membaca buku, sementara aku lebih suka menunggunya menceritakan sajak-sajak yang dibacanya didepanku.
Beberapa, atau mungkin banyak tindakan bodohku yang kutunjukkan didepannya, akan ditanggapinya dengan bijak. Aku ingin punya pacar seperti Papa. Yang punya sifat sederhana namun mampu menjadi pemimpin berwawasan luas.
untuk mereka, tak ada yang bisa membayar semua yang telah dilakukan. tak ada sebatang emaspun. Tuhan terlalu baik memberiku sepasang malaikat terkeren untuk selalu kuajak tertawa dan bercerita bersama. Terima kasih. Tidak, itu tidak pernah cukup. Ajarku berterima kasih, dengan selalu bersikap manis pada kalian, malaikat-malaikatku.
Mungkin kau memang belum pernah melihat malaikat yang bersinar sungguhan. Namun setidaknya, malaikat yang kelihatan, yang bisa kau peluk dan cium, lalu kau mintai uang untuk jajan, Papa dan Mama mu, kan?
<3 <3 <3
<3 <3 <3
Rabu, 18 Januari 2012
untuk macbook pro
baru beberapa bulan kamu menemani jari jariku menari, menulis satu-satu mimpi. kamu kaku dan kotak, dan silver namun ber-glitter. aku bingung kenapa aku harus menulis surat cinta padamu, kenapa ya? mungkin surat cinta ini isinya hanya ungkapan terima kasih yang sulit aku utarakan langsung, meski sekarang aku sedang asyik menari di atas tuts mu.
kamu adalah bagian dari mimpi, mimpi yang selama beberapa minggu aku bawa ke atas tempat tidur untukku nikmati dan ku ajak bicara. ya, aku mengajak bicara brosurmu. 'hai, apakah kelak kau akan menjadi milikku? semoga ayah mau membelikanmu segera, secepat mungkin!'
ah, dan ayah terlalu baik. aku diajak ke mall dan disuruh memilih kamu. aku jadi sedih. padahal laptop ayah sudah usang dan lebih kotak dari kamu -- dan tidak ada file musik di dalamnya, hanya ada microsoft word, outlook, power point, pdf, namanya juga ayah.
sekarang aku berhadapan denganmu, kita selalu bersama. intimasi yang tak kudapatkan dari siapapun. 24 jam sehari bisa saja aku habiskan dengan berbincang-bincang denganmu. atau kamu membantuku berpikir tentang masa depanku, tentang tugas-tugasku, tentang apa yang ingin kutulis disini, tentang lagu-lagu pembuat rindu berlebih, tentang perbincangan dengan seseorang di luar sana, tentang foto-foto memorial yang selalu aku pandangi setiap ingin tidur, namun aku seperti tak mengenalmu. siapa kau? macbook pro? siapa orang tuamu? dimana kampungmu, sayang? hahahaha kita ini gila.
aku rasa aku menyukaimu, kau tidak gampang mengantuk dan mau saja jika kusuruh tidur cepat. kau juga tau aku malas menekan-nekan tutsmu sehingga kau memberikan kemudahan -- geser saja ini maka kau akan mendapatkan ini, keajaiban terjadi. kau keajaiban.
meski aku tahu tulisanku kali ini cukup sampah, tapi kamu masih mau menampilkannya di layar, dan sesekali menyetrumku. haha. aku sayang kamu, macbook pro yang belum dinamai. bingung.
kamu adalah bagian dari mimpi, mimpi yang selama beberapa minggu aku bawa ke atas tempat tidur untukku nikmati dan ku ajak bicara. ya, aku mengajak bicara brosurmu. 'hai, apakah kelak kau akan menjadi milikku? semoga ayah mau membelikanmu segera, secepat mungkin!'
ah, dan ayah terlalu baik. aku diajak ke mall dan disuruh memilih kamu. aku jadi sedih. padahal laptop ayah sudah usang dan lebih kotak dari kamu -- dan tidak ada file musik di dalamnya, hanya ada microsoft word, outlook, power point, pdf, namanya juga ayah.
sekarang aku berhadapan denganmu, kita selalu bersama. intimasi yang tak kudapatkan dari siapapun. 24 jam sehari bisa saja aku habiskan dengan berbincang-bincang denganmu. atau kamu membantuku berpikir tentang masa depanku, tentang tugas-tugasku, tentang apa yang ingin kutulis disini, tentang lagu-lagu pembuat rindu berlebih, tentang perbincangan dengan seseorang di luar sana, tentang foto-foto memorial yang selalu aku pandangi setiap ingin tidur, namun aku seperti tak mengenalmu. siapa kau? macbook pro? siapa orang tuamu? dimana kampungmu, sayang? hahahaha kita ini gila.
aku rasa aku menyukaimu, kau tidak gampang mengantuk dan mau saja jika kusuruh tidur cepat. kau juga tau aku malas menekan-nekan tutsmu sehingga kau memberikan kemudahan -- geser saja ini maka kau akan mendapatkan ini, keajaiban terjadi. kau keajaiban.
meski aku tahu tulisanku kali ini cukup sampah, tapi kamu masih mau menampilkannya di layar, dan sesekali menyetrumku. haha. aku sayang kamu, macbook pro yang belum dinamai. bingung.
untuk berkemas pergi liburan
senang sekali jika aku mengambil tas besar dari kamar ayah lalu membawanya ke kamarku -- untuk dipandangi beberapa hari, kemudian menjelang saatnya, aku memilah baju untuk dimasukkan ke tas itu. dan sabun kesukaan, dan sikat gigi baru yang pakai helm, jaket supaya tidak dingin -- kata mama, segala charger, kamera, kaus kaki, lalu terduduk sebentar, ambil handphone. kamarku tak lebih indah dari kapal pecah dan aku bertanya pada teman-teman lain, 'kamu pakai tas ransel atau koper? berapa potong baju yang kamu bawa? shampoo kamu apa?' lalu berdiri dan menyusun puing puing di kamarku itu lagi.
aku sangat menyukai proses itu. harapan yang disusun ke dalam sebuah tas besar, 'ah aku mau bawa jaket ini, pasti nanti dingin. kalau pakai ini rasanya dipeluk', atau harapan lainnya.
tapi aku sebal dengan H-1 di malam hari dimana rasanya aku ingin memasukkan rumahku seutuhnya ke dalam tas besar ayah -- agar tak ada yang tertinggal. aku tidak bisa tidur kemudian dihinggapi mimpi semisal ceritanya di pagi hari itu aku berangkat tanpa mengenakan baju sehelaipun, atau pergi tanpa membawa tas selama satu minggu -- ah kesal sekali. tapi biasanya aku bangun dan mandi, lalu bersiap-siap pergi. di perjalanan berlangsung menyenangkan.
meskipun akhirnya pasti ada saja barang yang tertinggal. namanya juga aku.
aku sangat menyukai proses itu. harapan yang disusun ke dalam sebuah tas besar, 'ah aku mau bawa jaket ini, pasti nanti dingin. kalau pakai ini rasanya dipeluk', atau harapan lainnya.
tapi aku sebal dengan H-1 di malam hari dimana rasanya aku ingin memasukkan rumahku seutuhnya ke dalam tas besar ayah -- agar tak ada yang tertinggal. aku tidak bisa tidur kemudian dihinggapi mimpi semisal ceritanya di pagi hari itu aku berangkat tanpa mengenakan baju sehelaipun, atau pergi tanpa membawa tas selama satu minggu -- ah kesal sekali. tapi biasanya aku bangun dan mandi, lalu bersiap-siap pergi. di perjalanan berlangsung menyenangkan.
meskipun akhirnya pasti ada saja barang yang tertinggal. namanya juga aku.
Selasa, 17 Januari 2012
untuk langit merah di jalan tol
saat sore-sore aku menunggumu hadir memecah kemacetan, dikala langit masih didominasi warna biru muda aku memutar lagu-lagu ngablu dan duduk merosot di bangku depan. lalu sesaat matahari ingin mengucapkan perpisahan dengan memberikan sisa sinarnya yang keoranyean menungguku melambaikan tangan. ini hal yang paling kusukai, melihat matahari sore dibalik sela-sela tanganku. kudapatkan flare nya yang indah seolah ada di dekat jari tengahku. lalu aku tersenyum dan orang bilang aku gila.
tidak lama setelahnya kulihat di jalan tol -- kau mulai seperti anak kecil yang baru mandi dan bertaburan bedak, berwarna merah pastel, dan aku tak mau lepas darimu. bagiku itu adalah masa pendinginan setelah mondar mandir hidup ini memenuhi kepalaku. melihatmu, meski hanya beberapa menit sebelum warna biru tua. meski sebentar, kupandangi lekat-lekat untuk dapat mengingatmu. seperti aku memandang seseorang yang sibuk menyetir selama 15 menit -- agar aku selalu tahu dan tidak pernah lupa, gerak geriknya.
langit merah di jalan tol, sebuah masa singkat yang berikan sunggingan panjang. :)
Minggu, 15 Januari 2012
untuk semester lima
kepada semester lima,
kau menyumbang banyak cerita.
kami pindah ke tempat belajar baru yang jauh lebih terpencil, dan damai. karenanya, aku sering menumpang naik mobil teman. kami bertambah akrab, sepulang belajar, banyak menghabiskan waktu bersama. awalnya aku menangis karena harus naik lift yang hanya satu banding seribu, tidak ada kantin, tidak ada wi-fi, namun ini memberikan kebahagiaan tersendiri. kebahagiaan karena kesederhanaan, karena saling membutuhkan.
setiap hendak belajar, aku selalu nangkring di depan gang kost atau duduk di pinggiran halte. menghapal plat nomor teman kelas dan menyetopnya dengan gembira -- jika bertemu. jika tidak, aku dibonceng tukang ojek sambil merengut, asikan nebeng tau, pikirku.
semester lima, kau gilaaaaaaa!
![]() |
| aku yang mendoakan liburan dalam mimpi-mimpi burukku |
aku yakin karena tempaanmu selama beberapa bulan ini -- otak kami tidak akan regresif.
semester lima, kau menjadi saksi datangnya afeksi
aku bingung mulai darimana, sebenarnya afeksi itu telah datang sebelum kau bilang halo. tapi ia tumbuh dan bertambah banyak dan memenuhi otakku dan selalu membuatku rindu! aku menyayangi seseorang yang tengah tersenyum di wallpaper laptopku, dan dia juga sangat menyayangiku. dan sekarang aku merindukannya. uh
di saat terakhir kau harus habis, di tengah lautan tawa dan kami lupa kalau kau sedang memanaskan mobil untuk segera pergi mengunjungi angkatan berikutnya, kami tersadar, kau akan segera tiada.
tak henti-hentinya aku mengucapkan ini, i love you adv 2009. di lift, di kelas, di email, di twitter, di dalam hatiku, agar kalian semua tahu, aku menyukai kalian, aku menyukai momen ini, aku menyukai semester lima, yang keras namun mengandung afeksi tinggi. ah aku ingin menangis lagi.
sampai jumpa semester lima. meski kau tidak akan datang lagi, tapi kau bagian dari proses hidupku. tempaan yang berbuah manis. semester lima, kesayanganku.
Kamis, 12 Januari 2012
intermezzo VI
"Aku gak ingin kita mencapai titik tujuan yang udah aku tahu, karena setelah sampai, semuanya harus selesai. Aku mau kita ke titik imajiner, yang aku dan kamu gak tahu dia ada dimana. Kita cari tahu jalan kesana dengan saling memberi afeksi. Terus berjalan dan terus menyayangi." - Kamu
Rabu, 11 Januari 2012
11 januari
hari itu masih siang, aku dan kamu duduk di pinggir danau. mentari memang cukup terik, namun tertutup kepalamu yang berkupluk abu-abu. dibaliknya aku melihat flare matahari -- ah sayang aku tak punya kamera.
sebelum itu, kita mengunyah mangkuk ditemani lilin, sebelumnya lagi kita mengunyah kentang dengan mayones, aku minum susu cokelat dan kau minum es limun. sebelumnya lagi kau mengomel di mobil karena capai dan belum tidur. aku suka sekali mendengar kau mengoceh kelelahan lalu aku menggosok-gosok punggungmu.
kembali ke pinggir danau, aku menemanimu membuang asap sambil banyak bercerita. aku lebih banyak diam, mendengarkanmu, lalu melihatmu sepuasnya dari samping kiri. aku seperti sudah bercerita panjang lebar, namun tak mau terbilang lelah.
kita duduk dan campuran angin sepoi, terik mentari, buku gambar dan spidolku, dan daun-daun yang menyentuh ujung danau dengan genit. kita ngablu. ketika kau lelah bercerita, kita terdiam. aku bingung, mengapa aku senang jika kita diam, mengapa aku tidak perlu sibuk mencari topik apapun -- mengapa aku nyaman berdiam-diam bersama kamu.
aku mempertanyakan hal ini kepadamu, dan kau tidak tahu jawabannya. dan aku tidak dapat menanyakannya dengan sempurna. aku sering dalam situasi ini--sendirian. memikirkan hal yang seharusnya dianggap remeh. membuat sajak di kepala, memikirkan masa depan sesukanya, memandang lirih pada tumpukan air dan langit, ah aku pun sekarang bingung ingin menanyakan apa. kita memang terkadang tidak jelas ke arah mana -- pembicaraannya. namun ada titik dimana kita terdiam dan saling mengerti, lalu tertawa. aku menyukai detik demi detik bersembunyi di balik punggungmu -- meski kamu belum mandi.
hari mulai senja, meski belum puas bercerita, aku mengantuk, lalu kita tertidur di sofa perpustakaan.
dapatkah seperti ini saja, mengenggam kelingking dan mengendus-endus punggung di bawah langit sore, lalu tertidur dan ketika bangun, kamu masih ada di sebelah kananku, masih tertidur? aku sedang sibuk mendoakannya.
sebelum itu, kita mengunyah mangkuk ditemani lilin, sebelumnya lagi kita mengunyah kentang dengan mayones, aku minum susu cokelat dan kau minum es limun. sebelumnya lagi kau mengomel di mobil karena capai dan belum tidur. aku suka sekali mendengar kau mengoceh kelelahan lalu aku menggosok-gosok punggungmu.
kembali ke pinggir danau, aku menemanimu membuang asap sambil banyak bercerita. aku lebih banyak diam, mendengarkanmu, lalu melihatmu sepuasnya dari samping kiri. aku seperti sudah bercerita panjang lebar, namun tak mau terbilang lelah.
kita duduk dan campuran angin sepoi, terik mentari, buku gambar dan spidolku, dan daun-daun yang menyentuh ujung danau dengan genit. kita ngablu. ketika kau lelah bercerita, kita terdiam. aku bingung, mengapa aku senang jika kita diam, mengapa aku tidak perlu sibuk mencari topik apapun -- mengapa aku nyaman berdiam-diam bersama kamu.
aku mempertanyakan hal ini kepadamu, dan kau tidak tahu jawabannya. dan aku tidak dapat menanyakannya dengan sempurna. aku sering dalam situasi ini--sendirian. memikirkan hal yang seharusnya dianggap remeh. membuat sajak di kepala, memikirkan masa depan sesukanya, memandang lirih pada tumpukan air dan langit, ah aku pun sekarang bingung ingin menanyakan apa. kita memang terkadang tidak jelas ke arah mana -- pembicaraannya. namun ada titik dimana kita terdiam dan saling mengerti, lalu tertawa. aku menyukai detik demi detik bersembunyi di balik punggungmu -- meski kamu belum mandi.
hari mulai senja, meski belum puas bercerita, aku mengantuk, lalu kita tertidur di sofa perpustakaan.
dapatkah seperti ini saja, mengenggam kelingking dan mengendus-endus punggung di bawah langit sore, lalu tertidur dan ketika bangun, kamu masih ada di sebelah kananku, masih tertidur? aku sedang sibuk mendoakannya.
Sabtu, 07 Januari 2012
MESTAKUNG
ketika kau hanya bisa tersenyum
karena apa yang kau pikirkan jadi kenyataan
dibantu alam sekitar dan orang orang penyayang
kau menggeleng kebingungan
Tuhan itu hebat sekali.
karena apa yang kau pikirkan jadi kenyataan
dibantu alam sekitar dan orang orang penyayang
kau menggeleng kebingungan
Tuhan itu hebat sekali.
Minggu, 25 Desember 2011
yoyo
anak ingusan itu bermain yoyo berwarna biru. kupikir yoyo itu melayang sendiri. wow, anak ini punya sihir. ternyata tidak -- benangnya terlalu bening sehingga aku terlihat bodoh duduk termangu dihadapannya yang tersenyum menang sambil mengelap ingusnya.
'mau saja aku dibodohi anak kecil...' umpatku sambil bangkit dan berjalan pulang ke rumah -- gontai. kukira yang tadi itu sihir. ah.
'mau saja aku dibodohi anak kecil...' umpatku sambil bangkit dan berjalan pulang ke rumah -- gontai. kukira yang tadi itu sihir. ah.
ketika
ketika mengulang pertanyaan yang sama bukan menjadi hal yang konstan
ketika diam memberi banyak waktu untuk mendengar detak jantung masing-masing
ketika sebuah titik dapat bermakna penting dalam sebuah surat singkat
ketika aku tak pernah tahu apa yang ada di otakmu
ketika aku berusaha menancapkan webcam ke hatimu -- agar aku selalu tahu
ketika tolehanmu pada tusuk gigi pun buatku cemburu
ketika alam begitu menyayangimu hingga bungkus rokokmu terjatuh ke kubangan
ketika sore pukul empat langit itu berwarna merah pastel
ketika kau bertanya 'kenapa' menjadi lebih cukup dari semua penghiburan yang ada
ketika sebuah pelukan erat menjawab banjiran air di pipi dan hidung
ketika perasaan akan segera kehilangan menjadi yang tersedih yang pernah ada
ketika memutuskan untuk pergi lebih dulu adalah hal terberat yang harus terjadi
ketika aku tidak bisa berkata bahwa............ ah sudahlah, sampai bertemu saja.
ketika diam memberi banyak waktu untuk mendengar detak jantung masing-masing
ketika sebuah titik dapat bermakna penting dalam sebuah surat singkat
ketika aku tak pernah tahu apa yang ada di otakmu
ketika aku berusaha menancapkan webcam ke hatimu -- agar aku selalu tahu
ketika tolehanmu pada tusuk gigi pun buatku cemburu
ketika alam begitu menyayangimu hingga bungkus rokokmu terjatuh ke kubangan
ketika sore pukul empat langit itu berwarna merah pastel
ketika kau bertanya 'kenapa' menjadi lebih cukup dari semua penghiburan yang ada
ketika sebuah pelukan erat menjawab banjiran air di pipi dan hidung
ketika perasaan akan segera kehilangan menjadi yang tersedih yang pernah ada
ketika memutuskan untuk pergi lebih dulu adalah hal terberat yang harus terjadi
ketika aku tidak bisa berkata bahwa............ ah sudahlah, sampai bertemu saja.
Senin, 12 Desember 2011
menjumpai adik adik
hari itu panas sekali, aku menggendong tas berisi kamera, botol bir, kacang, dan sebungkus coklat. bersama teman-teman, aku mengunjungi kerangkeng demi kerangkeng -- atau ada yang berserak di luar -- adik adik nan lucu yang rindu kampung halaman. satu persatu kupandangi dan kutanya dalam hati, bahagiakah kalian saat ini?
setelah mandi air asin, dan lensa kamera berembun minta pulang, aku menumpang teman kemudian pergi meninggalkan adik adik yang hampir manja -- yang selalu minta kacang... sampai ketemu lagi sayang. :*
| tutup telinga |
| namanya boti -- menggebuk kaca kalau marah |
| segitunya minta kacang |
| zebra ini giginya gatal -- lalu digaruk dengan pagar |
| ini juga adik yang kutemukan di sana. ijk. |
Rabu, 07 Desember 2011
tentang siapa
dia itu si manja yang senang naik taxi -- ketimbang angkutan umum yang panas meski warnanya oranye belel. pertama kali lihat terkesan seperti wanita sok tomboy dan sok marah, padahal hatinya selembek krecek rebus dalam gudeg. dia yang menghabiskan lembar lembar tissue karena berjalan dari halte stasiun menuju kampusnya yang dekat namun terik. hanya ingin makan enak dan harus beli sesuatu ketika berada di mall. senang menangis karena sulit marah, namun moody. kata beberapa yang lain, apa yang ingin dikatakan ada di mukanya, mata terbelalak, senyum segitiga, bibir love, manusia seribu ekspresi. baginya, boots adalah misteri yang harus dipecahkan dengan membeli satu demi satu. bercita-cita ingin memakai piyama handuk namun belum pernah diperbolehkan punya, kenapa gak beli sendiri ya? dia membenci lagu yang menyebut namanya sendiri -- karena seperti menyerang perlahan. dia ingin dianggap adik oleh semua orang namun menganggap semua hewan adalah adiknya -- kecuali serangga dan ikan lele. dia yang marah ketika hanya mendapat nilai 80, batak dan ambisius. playlist sedihnya 90:10 dengan lagu jedak jeduk. dia yang ketika ingin menuliskan perasaannya kemudian terhenti, lalu membuka blog ini dan memilih untuk menuangkannya di sini -- setidaknya tidak semua orang membaca dan tahu dia siapa, untuk siapa, kenapa, untuk apa. biarlah menjadi misteri, seperti boots yang terpajang di etalase saat musim dingin.
gergaji mesin
buat saya tidur perlahan dengan gergaji mesin ditanganmu yang semula kau bilang ingin menggunting kukuku. kemudian aku melihat tangan kananku menghilang. tapi tidak sakit karena aku memandangmu, meski titik titik hujan perlahan muncul memenuhi pandanganku. kau tersenyum teduh dan menggenggam tangan kiriku -- satu-satunya tanganku. gergaji mesinmu memotong kedua kakiku sehingga tubuhku terjatuh lemas dan menunggu waktunya tiba. kupikir kau akan membunuhku di tempat, ternyata membiarkan mentalku perlahan mati dan akhirnya aku memutuskan untuk membunuh diri -- dengan gergaji mesin yang kau sisakan di samping ketika aku terbangun. Sialan kau.
Langganan:
Postingan (Atom)




